Time to go, Kos Sendok Jaya

Clear Invasi Kos :D

*menghela nafas* berat sekali rasanya, tepat empat tahun lalu saya datang, dengan pick up membawa semua perkakas dari kos lama di Blimbingsari. Dibantu tiga sahabat saya, Yudha, dismas dan triyono. Mereka membantu mengangkut barang-barang dan menata kamar baru saya. Kamar bertegel berukuran 2,5m x 3,5m. Sebenarnya kos ini steril dari laki-laki, tapi karena saya baru pindahan jadi saya dperbolehkan memasukkan tiga kucrut itu untuk bikin ribut kosan baru saya.

Kos Sendok jaya, begitu namanya. Dulu, masih ada wartel dan warung di depan kos yang bernama Sendok Jaya. Kawasan berbentuk letter U, saya menghuni salah satu sudutnya, disamping kamar saya ada Mbak Tiki, mahasiswi arsitektur UGM, sebelahnya mbak Anggi, mahasiswi S2 kedokteran hewan, kamar ujung adalah mila, waktu itu mila masih jadi mahasiswi d3 akuntansi, 2 kamar yang sederet dengan mila masih kosong tapi nantinya akan dihuni Ido dan ninggar, deretan seberang waktu itu Cuma ada mbak devi dan mbak meta. Lalu ada Dewi, mbak erna, Neni, dan Hesti yang ikut merubah formasi kami. Hhhmm Fuah dihitung gak yaaa hahahaha,

Pindah kesini karena saya ingin meninggalkan serpihan hati saya di kos lama, saya patah hati, yaa.. saya ingin meninggalkan semua, kos ini memang dekat dengan kos mantan saya, tapi saya memang sengaja, saya ingin menghadapinya dengan gagah, saya gak lemah. Karena itu saya menantang diri saya.

Buat saya tempat ini istimewa, taman bunga di tengah-tengah kamar kami benar benar jadi nilai plus. Kami sering nongkrong di depan kamar idho dan bercerita semua hal. Jangan tanya kalo mbak meta yang bercerita, orang itu seperti gak kehabisan bahan banyolan. Kami gak pernah berhenti tertawa kalo ada mbak meta. Bahkan cerita sedihnya pun bisa kami tertawakan, entah kami yang kejam atau memang cara mbak meta yang ekspresif.


Kami Cuma dijaga Yu Yah, sekali-sekali ibu kos datang dari jakarta membawa serta cucunya Razan dan Afra yang hobi sekali menyidak kamar kami. Tiba-tiba tanpa babibu mereka membuka kamar kami, hyaaa.....!! atau tiap pagi mereka berteriak-teriak, lain waktu mereka main ke kamar kami dan menanyakan semua hal. Kalo mereka datang kami gak pernah bisa bangun siang hahahaha

Seluruh penghuni kos ini adalah sahabat saya, merekalah saksi dari tiap langkah saya, kadang saya bisa ber jam-jam di kamar mila, bertukar pikiran, menangis, kemudian tertawa. Begitupun sebaliknya. Saya dan semuanya bisa membicarakan semua hal, menertawakan semua hal. 

Our togetherness @ Siung Beach



Teman-teman saya jadi saksi saya patah hati, kemudian masa-masa pedekate sama mas, saksi mantan-mantan saya yang pengen balik lagi. Mereka yang meledek saya ketika tiap malam minggu mas mulai sering ajak saya keluar, mengingatkan posisi saya dan mas. Bukan Cuma teman-teman saya. Teras depan itu juga jadi saksi bisu banyak hal, ketika suatu malam hujan dua orang yang duduk disana sama-sama kelu, tidak mampu bicara. Cuma sanggup menikmati hujan dan dingin karena sadar cinta sudah ada di hati mereka aaiiissshhh.....

Atau ketika seorang lelaki memberikan hadiah ulang tahun sebagai sebuah pertanda ‘kau dan aku selalu untuk selamanya’

Jendela kamar saya yang langsung ke jalan adalah akses terbaik untuk mbak meta, terutama, minta tolong dibukain pintu hwahahahaha,

Dan saya gak pernah absen buat menangis di depan ninggar, mila dan ido setiap saya selesai bimbingan, dipan di depan kamar ninggar selalu jadi tempatnya, mereka loh selalu membesarkan hati saya. Saya suka tempat ini...

Pernah satu kali, Dina, teman kantor saya datang, ketika magrib dan akan ambil wudhu, mila, idho dan ningar sedang mengaji. Besoknya dia bercerita ke seisi kantor kalo saya ngekos di pesantren hahahaha. Dan kami gak sealim penampian kami kok, kami benar-benar manusia biasa, remaja pada umumnya, tampilan kami muslimah tulen :D tapi kami juga punya sisi ‘nakal’ yang biar kami aja yang tau. 

Kami benar-benar menghargai prinsip individual masing-masing. Pun ketika satu masalah pelik menimpa salah satu dari kami. Atau ketika mila berpindah haluan jadi ukhti-ukhti hehehe, dia masih mau dengar curhatan kami soal lelaki, tanpa menjudge kami macam-macam. Dia yang gak kenal lagi istilah ‘pacaran’ masih mau dengar keluh kesah saya soal ‘pacar’. Buat saya mila itu luar biasa,saya belajar banyak hal dari dia, dan sahabat saya itu akan menikah. Itu keinginan sejak lama, menikah di usia 24, tanpa tahu siapa calonnya, terbayangpun tidak. Dan tahu-tahu dia akan menikah, saya iri-iri bahagia... hehehe

Biarpun saya sesepuh disini, adek-adek saya seperti ninggar, ido dan dewi bisa ngajarin saya buat jadi lebih dewasa, mereka punya sisi indah masing-masing. Saya senang bisa dekat dengan mereka, bisa kenal dan merasakan ketulusan mereka, kesabaran mereka, kelembutan hati mereka, kenakalan mereka, kejutekan mereka. (duwh..kok jadi mbrebes mili yaa...)
Look!! That's our future!!


Oh, sebelum mila pergi, sempat terjadi segmentasi posisi kamar kami, deret kamar saya adalah deret wanita karir, waktu itu Cuma saya dan hesti yang memang sibuk bekerja, deret seberang saya adalah wanita gak jelas hahahahaha, ada dewi, neni dan fuah, mereka sering gak ada dikos dan gak jelas juntrungannya pergi kemana. Kehadiran fuah lagi seperti ada dan tiada ^.^v. Deretan kamar yang dihuni mila, ido dan ninggar adalah penjaga kos, mereka jarang absen, pergi Cuma kalo benar-benar ada perlu hohohoho.
Mila's Farewell party


Ini saatnya saya pergi, 4 tahun yang indah bersama sendok jaya, mereka adalah bagian dari kesuksesan saya, mereka akan selalu ada di hati saya.




Jogja,Kos Sendok Jaya, Kamar ido, pake laptop ido, soalnya barang-barang di kamar udah di packing semua :D

Terimakasih yaa semua, terimakasih...


Selengkapnya...

Goin' Insane @ Trans Studio Makassar


Kenapa sih ini harus dibikin judul sendiri? Karena ini seru tauukkk…!!! Waktu itu trans studio makassar masih jadi satu-satunya di Indonesia.


Begini, hari sebelumnya saya presentasi, dan itu berjalan dengan sempurna kok, saya senang sekali. Sorenya kami sudah makin galau karena keinginan kami ke trans studio memuncak. Tapi? Malam itu kami diundang dinner walikota makassar, berniat kabur? Kami gak mau cari mati. Dari pada nanti kena marah pak bos, karena beliau sudah mewanti-wanti kami untuk tidak datang terlambat. Selesai presentasi, tanpa babibu kami bergedas belanja oleh-oleh di Somba Ompu, inilah pusat perdagangan oleh-oleh makassar, mungkin kalo di jogja inilah malioboronya. Pokoknya semua serba ekspress.

Singkat kata, kami sampai ke rumah dinas pak walikota, dinner, gak taunya gabung sama apa yaaa waktu itu, pokoknya acara yang rameee banget. Dan kami sebel, tau gitu kabur aja, rumah dinas pak walikota gak jauh dari tanjung bunga, tempat si trans studio itu. Makin galau karena rencananya besok kami akan turun lapangan. Hadeeehhhh…. Pupus sudah harapan nyicip trans studio, jauh-jauh ke makassar!! Kejadian malam itu banyak yang disensor huahahahahaha, saya gak mau ah ingat-ingat lagi…

Pagi hari, hujan deraaasss sekaliii…. Saya malas bangun, kami sarapan dengan gak bersemangat, mempertanyakan dan meratapi nasib kami yang akan turun lapangan buat wawancara. Bukan kami gak suka, tapi kami sudah kennyang yang begitu-begitu. Bukannya itu memang pekerjaan kami? Pagi yang benar-benar suraammm…. Sampai di tempat konferensi ternyata pesertanya belum pada datang, jangan bayangkan wajah pak bos waktu itu, intinya beliau tidak marah pada kami, dan kami bersyukur untuk itu.


Karena peserta yang dinanti tidak kunjung tiba, DAN BANJIR di tempat dimana kami akan wawancara, maka acara hari itu, dengan persetujuan pak bos berubah menjadi acara bebas! HOREEEEE………!!!!!!!! ALAM BERSAHABAT DENGAN KAMIII…!!! Sempat pak bos tanya: “trans studio itu apa? Hujan-hujan gini?” saya bilang “Indoor pak, tenang aja, tempat main itu” akhirnya beliau berkata: oke kalau begitu daripada bolak balik, lekas berkemas, habis itu kita ke trans studio dan langsung menuju bandara. Kami melesat!!!! Packing pulang sambil tak henti-hentinya berterima kasih pada hujan, eh pada Tuhan karena menurunkan hujan.




Ternyata masih banyak halangan, dan kami baru sampai di tanjung bunga ba’da zuhur. Itu pun masih belum bisa masuk, menunggu rombongan kak Ida. Padahal pak bos mewanti-wanti jika kami Cuma punya waktu sampai pukul 14.30 WITA, kami harus mengejar pesawat pulang (terutama tim dari medan) lama kami disana menanti kak ida, sebenarnya bisa saja kami masuk, tapi kak ida sudah menjanjikan kalo kami akan di diskon.

Pak bos sudah resah, karena kami belum juga masuk, akhirnya saya berinisiatif untuk melobi mbak-mbak trans studio, untung mbak-mbaknya itu sudah tau kalo rombongan kami dapat diskon. Tapi sumpah yaaa…mbak-mbaknya itu rempong banget!!! Jadi itung-itungan diskon itu kan dihitung berdasar jumlah banyak rombongan yang ikut, nah…saya bingung juga itu mbak nya ngitung gimana, ribeeettt banget. Sy kasih tau ngeyel lagi. Diantara kami kan ada 2 orang yang dapat tiket masuk gratis kan ngitung biaya masuk perorangnya tinggal jumlah orang yang bayar dibagi jumlah total keseluruhan to? Nah si embaknya itu ngeyel!!! Begoooo banget, saya sampe ngomel, ngapa coba mereka ngurusin kita bayar per orang berapa, itu kan urusan kita. Dia Cuma tinggal terima totalnya aja. Gitu aja ribet. Udah tu, saya sampe ngomel-ngomel baru mbaknya nyerah. 
Foto diambil tepat ketika saya abis ngomel sama mbak-mbak rempong trans studio makassar >.<


Nah, sudah itu maki….pokoknya mi kita sudah berhasil masuk to,,, dan waktu kami sampai 14.30 Cuma tinggal 1,5 jam!!! Bayangkan!!! Apa yang terjadi? Setelah masuk kami langsung berlari, cari wahana yang paling seram. Pak bos gak ikut masuk, Cuma anak muda saja, ditambah bu muji. Bu muji pun ikut berlarian bersama kami hohohohoho


Pilihan pertama kami jatuh di wahana jelajah, disini kita dibawa naik kapal untuk menjelajahi beberapa bagian dunia, ada orang indian yang sedang mengadakan ritual. Puncak wahana ini adalah ketika kereta yang kami naiki diterjunkan tadi ketinggian. Basaahhhh……. Tapi seru sekali, biar gak gitu tinggi. Saya waktu itu sekapal dengan asri, mbak norma dan mbak izzah. 1 kapal muat 4 orang, yang kami tunggu tentu saja ekspresi si phobia terbang yang juga phobia ketinggian: Mas Alan. Di kapal kedua ternyata dia duduk paling depan huahahahaha, mukanya menunjukkan keterpaksaan dan kepasrahan melawan ketinggian :p

Yang paling depan, yang paling ketakutan hahahaha

Waktu yang sempit memaksa kami berlari dari satu wahana ke wahana lain. Pokoknya yang serem-serem duluan. Yang paling seru menurut kami adalah Dragon Tower, wahana dimana kami dijatuhkan dari ketingggian 15 meter berulang-ulang. Pertamma kali masuk kami mengantri di sebuah ruangan dan disuguhi sebuah cerita tentang seorang putri yang diculik naga apa gimana yaa waktu itu, lupa-lupa ingat dan gak penting. Nah pas dibuka, JRENG…JRENGGG…!! Mbak norma sempat ingin mengurungkan niat, tapi malang tak dapat ditolak, dia tidak bisa mundur. Heboh berteriak-teriaklah kami disana. Bu Muji tak henti-hentinya mengucap doa hehehehe.
Kastil belakang saya itulah wahana dragon tower


Beruntung waktu itu sedang sepi, jadi kami tidak perlu mengantri terlalu lama untuk tiap wahana. Yang asyik adalah ketika kami maen boom boom car. Sampe nambah satu sesi lagi, huahahaha.
Kami benar-benar tidak sempat menikmati ketegangan yang ada, satu wahana langsung disambung wahana lainnya, waktu yang sempit, tak henti kami menengok jam. Oleh-oleh souvenir trans studio pun harus dipilih dan dibayar dengan buru-buru. Intinya: SERU!!!
Foto di wahana bom-bom car :)

Jam 14.30 tepat, kami sudah kembali berkumpul di tempat pak bos menunggu. Dan dengan semangat kami ceritakan pengalaman kami di dalam, seperti gerombolan cucu yang tengah pamer kepada kakeknya hahahaha…
Belanja souvenir. Gak disarankan beli baju seragam trans corp itu harganya 200rb (-.-")

Sebelum ke bandara, kami mampir ke somba ompu lagi untuk belanja otak-otak. Ternyata pesawat kami delay lama sekali, dan si otak-otak pun tidak jadi untuk oleh-oleh kami habiskan di bandara karena kami kelaparan dan gak dapet snack dari merpati. Sial!! Sekitar jam 22.30 kami baru mendarattt di jogja,,, lelah tapi senang……
Catatan kehebohan saya di negeri angin mamiri, mudah-mudahan kelak saya bisa kembali :D
Selengkapnya...

Lil' bit fun+Lot's of annoyed+Delicious taste = MAKASSAR

Menjelang subuh, biarpun malamnya tidak nyenyak tidur semalaman, tapi wajah saya tetap cerah ceria untuk menghadapi hari itu, 2 Febuari 2011. Bergegas mandi, memanaskan motor dan ngebut ke kantor, tepat saat azan subuh berkumandang saya tiba di kantor, menebarkan semangat ke semua penjuru dengan hebohnya sembari bersiap solat subuh. Hari itu saya akan ke Makassar!!!

Dengan pesawat pukul 6 pagi, ba’da subuh saya menanti taksi yang akan membawa saya, mbak norma, dan mbak izzah ke bandara. Sementara mas alan dan mas idris masih galau menanti supir fakultas yang akan mengantar, mereka bertanggung jawab terhadap logistik seminar, dan semua itu sudah ditata rapi dalam mobil sejak semalam.

Kami tiba di bandara pertama kali, dan resah karena tim kami belum datang. Rencana penghuni bulaksumur J2 yang Cuma 12 orang itu akan berangkat semua. Kami hendak mempresentasikan hasil riset kami di makassar. Resah kami bukan karena pesawat yang sudah akan berangkat, tapi karena supir yang mengantar mas idris dan mas alan belum juga tiba. Kami resah kalau-kalau meraka sampai setelah pak bos tiba. Beliau akan marah besar, hhmmm beliau adalah penegak disiplin. Dan paling tidak suka dengan orang terlambat. Beruntung tidak lama rombongan logistik datang, naik taksi, entah kemana pak supir itu dan pak bos datang tepat saat kami selesai memindahkan barang ke troli, syukurlah.


Setelah pak bos mengabsen kami, kami bergegas chek in. Di rombongan itu saya yang tampak sangat heboh, kenapa? Ini pertama kali saya ke makassar bookk!! Gratis termasuk akomodasi dan uang saku hohohoho, sebenarnya ada lagi, mas alan itu, tap dia tidak heboh, soalnya dia phobia terbang. Melihat muka heboh saya, mbak norma memasang tampang ‘berisik!! Dasar wong ndeso rak tau neng makassar” hehehehe, dia adalah yang bermuka paling masam. Kenapa? Sejak pertama kali bekerja di kantor ini dia tidak pernah pindah tugas dari makassar, seperti halnya saya yang tidak pernah pindah dari samarinda. Begitulaahh….

Singkat kata, kami sampai di makassar dengan selamat, meskipun ada insiden memelas waktu take off di jogja: tutup bagasi kabin diatas kursi mas alan terbuka, dan si phobia terbang itu menutupnya pada saat pesawat masih dalam posisi take off dan lampu sabuk pengaman belum mati. Dengan wajah yang pucat pasi tentunya….

Dengan semangat membara saya turun pesawat, bertekad mengabadikan foto diri di depan tulisan Bandara Sultan Hassanuddin. Tapi ternyata hujan! Turun dari pesawat kami dijemput bis untuk menuju ruang pengambilan bagasi. Errrrgghhh…!!

And here I am!! MAKASSARRR…!!! Surga makanan enak, pintu gerbang indonesia timur. Kami dijemput kak Ida untuk menuju tempat kami menginap, rusunawa univ. muhammadiyah makassar. Sepanjang jalan hujan, dan meluhat sekeliling, rasanya déjà vu. Kok makassar gini sih, beberapa bagian mirip dengan surabaya, entah kenapa seperti tidak di makassar. Hahahahaha….

Oohh, bagian ini banyak yang bagian ngeselin-nya. Jadi gak usah saya ceritakan saja lah yaa… nanti saya jadi kesel juga hehehe. Jadi hari itu kami istirahat, sambil menunggu teman-teman kami dari seluruh penjuru indonesia datang, jadwalnya Cuma hore-horean, sambil kenalan samma tim riset dari daerah. Wooohhh…senang sekali lo bisa kumpul disini. Nah, sorenya, saya kabur sama mbak norma, cari makan enak, gara-gra makan siangnya nasi padang. Hwahahaha, jengkel bukan main saya jauh-jauh ke makassar bukannya dijamu sama menu makassar tapi malah sama nasi padang. Tapi sudahlah, toh saya bisa jajan diluar.



Oke, next day. Saya sudah dandan cantik untuk seminar, hari itu jadwal saya mempresentasikan paper saya. Agak ngantuk sih karena malamnya mengulang lagi bahan presentasi. Tapi pokoknya saya mau tampil maksimal!! Dan hari itu galau saya bertambah, saya batal presentasi, gara2 waktunya habis. Oouuugghhhh!!! Okelah,,, wajar kalo molor, namanya juga indonesia,,, Gak lama eka menawarkan untuk jajan sara’ba. Dan mbak norma menawarkan untuk ke pantai losari. Woooo..tentu saja saya pilih ke losari, sara’ba kan deket situ aja hehehe. Jadi sara’ba itu semacam bandrek kalau di jawa, biasanya warung sara’ba gabung dengan warung gorengan.

Bubuhan Rumici Samarinda


Akhirnya saya ke losari, carter pete-pete (angkot). Sore itu Losari ramai sekali… pantainya biasa sih, Cuma karena ini khas makassar kami jadi excited. Foto-fotolah kami disana, sempat mau naik kapal, tapi kami dapat harga turis, beruntung kami bawa Awank, kawan kami yang asli makassar. Jadi berhasil kami deal harga, bahasanya saya gak ngerti lah, bingung… 


Alam, lagi-lagi tidak berpihak, hujan, dan kami batal naik kapal. Untuk mengobati kekecewaan kami makan pisang epe, pisang muda bakar ditambah kuah gula, enak banget pokoknya sore-sore begini, kami pesan coklat keju dan rasa durian, tapi duriannya gak begtu kerasa. Oh iya, dari pantai losari terlihat jelas loh tanjung bunga. Nan di ujung tanjung bunga itu ada Trans Studio, tampak seperti pulau sendiri, bengong-bengong kami melihatnya. Kamii lantas menghitung-hitung waktu untuk bisa menyempatkan diri kesana hahahaha…





Setelah makan pisang epe, mbak norma mengajak kami ke lapangan karebosi, sekalian dinner konro. Kami kembali carter pete-pete. Karebosi ini lapangan, dulu katanya tempat gaul anak-anak makassar. Banyak pedagang kaki lima juga. Tapi sekarang tidak, sepi sekali. Tepat dibawah lapangan ini ada mol, namanya karebosi link, jadi molnya ini dibawah tanah gitu. Karena hujan deras, kami berteduh di tepi lapangan, menurut saya suasana disini mirip banget kayak di monas, kok bisa? Iya…jadi di seberang lapangan itu ada monumen mandala yang mirip banget bentuknya kayak monas, terus disampingnya banyak gedung-gedung tinggi. Yang mencolok tentu saja gedung milik dinasti Kalla. Ketauan lah pokoknya makassar ini punya siapa :D


Hujan belum reda tapi perut kami sudah keroncongan, menerobos gerimis, kami berjalan menuju satu tempat yang membuat ternyata membuat saya gila. Tidak jauh dari lapangan karebosi, inilah tempat itu: KONRO BAKAR KAREBOSI. Saya 1 meja dengan mbak norma, dan awank, gabung dengan kak ida, kak linda, dan mbak dani yang ternyata sudah lebih dulu datang. Kami bertiga memesan 2 porsi konro bakar dan 1 porsi sup konro.

Bagian ternikmat adalah menyesep-nyesep tulang iga, wooohhh..nikmatnya sampe ke sumsum!


Mau tau rasanya…??? Saya bingung menggambarkannya. Makanan ini LUAR BIASA ENAK!!! Iga bakar pake bumbu kacang, subhanallah…. Gak bisa digambarkan dengan kata-kata. Saya tau kenapa ini terkenal ke seantero negeri. Haduuu…saya menuliskaannya sambil terbit air liur, ada cabangnya di jakarta nih, bisa kapan-kapan saya coba hehehe.

Sup konronya menurut saya sih bumbunya kurang nendang. Konro bakarnya? JUARAAAA…!!!!!! Sadap sedap sedaaapppp…!!!! Tapi tapi, buat yang darah tinggi atau asam urat jangan makan yaa, bisa bahaya. Pak bos saya kalo habis makan ini jempolnya gak bisa digerakin..
Kegalauan saya sejak pertama kali tiba terbuang begitu saja, dan sampai rusunawa saya bisa mengulang materi presentasi dengan bahagia :D
Selengkapnya...

Liburan Ala Koper Pake Ransel (part 1, Alila Hotel-Ubud)


Gimana ceritanya saya bisa sampai kesini? Buat saya itu keajaiban, pernah dengar the secret? mungkin semacam itulah. Saya benar-benar bermimpi bisa ke ubud. 2 hal yang paling mendorong saya kesana: Film Eat, Pray, Love dan Novel Perahu Kertas. dua hal itu bikin saya gila tentang ubud. sudah sering dengar dan browsing. tapi saya benar-benar ingin membuktikan dengan mata saya sendiri kemolekkan Ubud.

Dan tiba-tiba kesempatan itu seperti tergeletak di meja kerja saya: Paket 'Liburan' include tiket PESAWAT PP dan menginap TIGA MALAM di Ubud. Such a crazy things, eh? Saya benar-benar bersyukur karenanya.


Ini bukan paket liburan biasa, tempat-tempat yang saya datangi pun tidak biasa, tidak seperti travel agent lain. nanti satu-satu saya ceritakan. Sekarang, saya mau cerita hotel cantik tempat saya menginap dulu. Saya search di google tempat ini, mengunjungi websitenya, melihat foto-fotonya. Wow...luar biasa. eh sekedar info, foto-foto dalam tulisan saya ini bukan dari web ya, tapi milik kawan saya, diambil langsung dari TKP ketika saya berkunjung kesana. mau tau tarifnya? cek saja lah di web. saya pun melongo melihatnya. Orang udik yang biasa traveling pake kereta ekonomi tiba-tiba disuguhi hotel (saya gak tau bintang berapa) yang tarifnya dollar!!


Sore hari saya sampai di Ubud, setelah sebelumnya mampir ke benoa dan GWK. Akses ke hotel dari jalan umum relatif jauh, sebenarnya hotel menyediakan shuttle bus untuk pengunjung. Bis pariwisata kami yang besar itu gak bisa masuk, karena rombongan banyak jadi yaaa...ganti-gantian lah naik mobilnya. Karena baru saja sampai, kami masih bersemangat. Jalan kaki lah kami dari depan sampai ke lokasi hotel. Jangan tanya pemandangannya, kayak di ungaran sih hahahaha, tapi beda loh, atau mungkin karena saya cuma terbawa suasana aja? saya juga gak tau pasti.


Perjalanan menuju Alila Hotel, karena gak sabar nunggu jemputan kami jalan kaki deh :-)


Kesan pertama masuk hotel: kayak dibawa ke kompleks perumahan dengan konsep etnik minimalis (apa ssiiiihhh) forget it. saya gak ngerti apa-apa soal konsep rumah. ya pokoknya gtu, jadi kamar kami itu ada di semacam rumah-rumah mungil. Karena lahannya luas jadi bangunan di kawasan ini cuma 2 lantai aja, trus kontur tanah yang bertingkat-tingkat itu dimanfaatkan dengan baik. Kamar saya nomor 219. Mau tau kayak apa? foto dibawah bukan kamar saya, tapi kurang lebih begini lah. Hotel ini sempurna buat honeymoon. Jangan tanya ya apa yang saya pikirkan hahahahaha
Kamar-kamar hotel, dua tingkat, kamar saya di bagian atas.

Sisi sebelah dalam.

Kamar saya kurang lebih begini, asik yaa...

Kamar saya di bagian tengah hotel, tapi berbatasan langsung dengan pepohonan. tempat tidur saya langsung menghadap pintu dan dinding kaca, Huaahhh....andai sedang bulan madu, saya yakin saya gak akan keluar kamar. (baiklah, mulai ngelantur). Dan jangan salah sangka, saya sekamar sama dua teman saya. Jenis kelaminnya perempuan.
Pemandangan dari tempat tidur saya

Intinya, kamar saya seperti benar-benar diciptakan untuk orang bulan madu, Kamar mandinya? gak bisa dikunci, pintunya dobel, dan dari luar kita bisa ngintip kedalam. Shower ada di sebelah kiri kamar mandi, gak keliatan kali ada yang ngintip, tapi dinding sebelah shower terbuat dari kaca, gak langsung tembus keluar, ada dinding batunya kok, lantai shower dari batu alam juga, serasa mandi di air terjun pokoknya.
Shower, kalo kamar saya ada dinding kaca dan dinding batu, bukan kayu seperti di foto

Suasana sekitar kamar, dan hotel benar-benar menyatu dengan alam. Pepohonan rindang, udara sejuk. Eh, saya juga sering melihat tupai lari-larian di pepohonan loh, keliatan jelas dari kamar saya. Buat yang mau jalan-jalan ke ubud, hotel juga menyediakan shuttle ke pusat ubud, nanti diantar jemput kok. Kalo saya? ya naek bus lah, kan ikut rombongan.
Sepeda yang jadi fasilitas hotel, saya lagi ngantri pengen pinjam (-.-')

Serunya lagi, kolam renang cantik milik alila ini airnya gak dingin. Saya gak bohong, saya berenang pagi-pagi sekali dan gak merasa kedinginan, gak tau airnya dihangatkan atau gimana. Kawan-kawan saya juga berenang malam-malam dan gak dingin. Padahal yang udah pernah ke ubud pasti tau donk udara disana kayak apa? Tapi saran saya kalo mau berenang pagi-pagi aja, biar bisa liat pemandangan, kalo malem gelap banget.



Tampaknya hotel ni sempurna banget yaa.... Gak juga, saya punya kritik, cuma 1: Menu sarapan. Bukan apa-apa yaa... masa 3 malem saya disana menu sarapannya gak pernah ganti? ada bubur ayam, mi goreng, nasi goreng, roti dan croisant, buah potong. Udah, itu aja dan itu-itu melulu. Yaa,,enak sihh tapi kaaannnn bosen. Boleh lah ada menu tetap, tapi ada juga donk yang diganti.... soal rasa saya gak akan komen, sebanding kok dengan hotelnya. keanekaragaman menu sarapan aja yang kurang.
Nasi goreng, mi goreng, bubur

Buah potong, roti dan croissant

Breakfast time... me and my friends

Oohh, ada lagi yang kurang, sbenernya sih gak gitu saya rasakan, tapi buat info aja. Kamar saya gak ada tivinya!!!! diatas bed ada semacam pintu lemari dari kayu, saya pikir itu tivi, eh gak taunya dooonnnkkk... JENDELA, sial!! hahahaha, saya sih gak pusing, toh saya ke ubud juga bukan buat nonton tivi hehehe

And, What is the conclusion? Alila is a great hotel, Yap! Really great!!
Selengkapnya...

Mitos dan Primbon Jawa Dalam Otak Saya

Sore ini saya tergelitik untuk menulis apa yang sering say apikirkan tentang mitos. Saya hidup dan besar di lingkungan yang penuh mitos dan legenda, maklum orang jawa. Di sisi lain saya boleh berbangga karena ibu saya membekali saya dengan ilmu agama yang cukup (atau malah kurang saya gak tau pasti) intinya saya tau rukun iman, rukun islam dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Hahahaha (hhhmmm…..ada saat dimana kondisi ini saya rasakan agak menyedihkan)

Well, selama ini saya gak pernah pusing dengan namanya perbedaan. Sudah berulang kali saya cerita, keluarga saya teramat plural, berbagai macam suku dan agama bersatu dan rukun di dalamnya pokoknya bhinneka tunggal ika. Merdeka!

Jadi begini, saya Cuma ingin ‘berdamai’ dengan setiap adat istiadat suatu daerah tertentu. Terutama adat istiadat jawa. Saya lelah ketika saya harus berdebat panjang dengan orang lain atau diri saya sendiri ketika adat istiadat itu dihubungkan dengan halal-haram, musyrik, atau syirik. Kenapa? Saya kan (calon) peneliti sosial (aamiin Ya Robb) kalo saya berkutat dengan itu apa saya gak digamparin massa? Contoh: di suatu daerah menggelar upacara adat sebelum masa tanam padi, banyak sesajen untuk Dewi Sri, apa yang terjadi kalo saya lagi riset disana terus bilang: itu gak boleh!! Kan saya bisa mati (oke, ekstrim) minimal saya gak diterima disana dan gak dapat data. Lagi, kalo dalam hati saya tertanam kebenaran sosial biner bukankah laporan riset saya bakal condong ke arah tertentu dan jadi subyektif?

Jadi, jangan terlalu negatif memandang apa yang saya pilih, saya ingin ada di tengah, (lagi) sebagai (calon) peneliti sosial (aamiin Ya Robb). Selebihnya, urusan agama biar menjadi urusan saya pribadi, hhmmm, saya dan Allah SWT.

Mitos di Jawa ni unik-unik loh. Pernah dengar mitos orang hamil harus selalu bawa peniti di bajunya?? Percaya? Hahahaha. Begini, ini adalah adat istiadat turun-temurun diJawa. Katanya ini berguna untuk mengusir mbak kunti yang bakal ganggu ibu hamil. Dan si mbak kunti itu takut sama benda tajam. Kata orang yang ‘bisa lihat’ memang mbak-mbak kunti itu suka sama bayi, jadi dia gangguin ibu hamil itu buat ngambil bayinya. Banyak-banyak berdoa biar gak diganggu, yaaa…. Kalo gitu, saya gak akan nulis. Nah, bagaimana saya menerima hal itu dengan lapang dada? Saya dulu sinis loh ‘kayak gitu kok dipercaya’. Hasilnya? Saya balas ditatap sinis sama nenek saya ‘iki ki ajarane wong tuo!’ (ini itu ajaran orang tua) nah looo,,,saya menyakiti hatinya.


Akhirnya, pemikiran saya begini, ketika kita diganggu nyamuk kita pasti pakai anti nyamuk kan? Mau yang semprot, elektrik, atau yang oles. Bisa juga memakai tumbuhan Zodia, yang mengeluarkan aroma yang gak disukai nyamuk. Bagaimana kalo kita menganalogikan mbak kunti sebagai nyamuk? Nah anti nyamuknya ya peniti dan benda tajam lainnya itu? Simple kan?? :D


Saya juga pernah heran, bayi-bayi tetangga saya seringkali memakai gelang dan ‘perhiasan’ dari bengle, bengle itu semacam rempah-rempah dan baunya gak enak. Katanya ‘biar gak kena sawan’ heloooo…. Saya sendiri gak ngerti loh contoh kongkrit dari kena sawan itu gimana. Pernah lihat bayi seringkali fokus ke arah tertentu, memperhatikan sesuatu, kemudian tertawa atau menangis sendiri? Ini ada hubungannya dengan contoh kasus pertama dan perhiasan bengle tadi. Nah, selain benda tajam, mbak kunti juga gak suka bau bengle ini. Itu sih simplenya. Sepupu saya si wiki, dulu juga begitu, yang sering dia perhatikan, diatas lemari. Tapi tante saya gak kasi bengle, ya tiap masuk kamar didoakan, baca an-naas sampai al-ikhlas dulu. Sekarang udah gak begitu. Ini cara saya berdamai dengan mitos yaa… mau dipake yang mana sih terserah aja.

Lain lagi soal PRIMBON dulu saya Cuma buat lucu-lucuan loh baca ramalan primbon. Tapi sekarang saya banting stir menjadi pengagum primbon. Serius. Begini, malu saya mengakuinya. Lagi-lagi tentang sepupu saya, Wiki. Wiki itu, tepat lahir pada tanggal 1 Muharram, 1 suro kalo orang jawa bilang. Nah, menurut tradisi jawa orang tua anak harus mengadakan ritual ini itu demi keselamatan si anak. Hari ini hari keramat sih. Belum juga katanya anak ini nantinya cenderung ‘sulit’, kemauannya keras dll. Kebanyakan berkembangnya ke arah negatif. Bude dan ibu saya bilang, untuk menenangkan om dan tante saya “yaahh, orang dulu yang lahirnya suro kebanyakan begitu”.

Itu jadi tamparan keras loh buat saya. Saya malu sudah sinis sama yang namanya ajaran primbon. Kenapa orang bisa menyimpulkan anak yang lahir bulan suro nantinya begini? Karena kebanyakan orang jawa jaman dahulu yang lahir bulan suro pasti begitu. Ini adalah satu bentuk penelitian sosial sederhana yang dilakukan oleh nenek moyang orang jawa!!! Iya kan? Mereka gak gak bisa menyimpulkan begini kalo mereka gak memperhatikan dengan seksama latar belakang hari kelahiran mereka. Banyangkan mereka punya kesimpulan karakter manusia secara rinci dalam 360an hari. Berikut pekerjaan yang umumnya mereka lakoni serta sukses di dalamnya. Pernah membayangkan berapa jumlah sampel dan lama penelitiannya? Ada yang mau iseng bikin contoh proposal penelitian PRIMBON biar jadi tampak sedikit ilmiah? Hehehehe…

Sekarang saya masih mencari jawaban bagian mana dari primbon yang dulu saya anggap mistis. Entah kenapa saya jadi bingung.

Saya kasih satu contoh sangat sederhana, pernah kan kita men-judge orang begini “orang itu mukanya kayak penjahat” “jangan dideketin, muka playboy” seorang sahabat saya yang waktu itu belum kuliah psikologi aja bisa mencap pacar sya ketika itu dengan kalimat begini “kayaknya kok dia pembohong ya?”. Pikirkan kenapa kita bisa memberi kesimpulan begitu: karena kebanyakan penjahat punya tampang khas, karena playboy punya wajah, sikap, dan tatapan mata tertentu, karena pembohong….. (ohh,oke, saya belum tau kriteria muka pembohong). Iya kan? Saya ingat ketika kuliah sosiologi kriminal, saya diterangkan bahwa sebagian besar kriminal mempunyai struktur tulang dagu, tulang rahang dan tulang dahi tertentu. Ini adalah ilmu kriminal. Dan primbon pun begitu, gak ada bedanya kan? Masihkan menganggap mistis primbon itu? Kalo saya gak, anda sih terserah :D

Ada lagi, ketika saya ke Bontang bulan lalu, kami sedang sarapan di Bontang kuala, mau menuju pulau beras basah. Di sebuah warung nasi kuning. Ibu penjual warung itu bercerita, kalai di pulau beras basah ada pohon pandan yang banyak tali-nya, tempat orang minta hajat, beliau bilangnya. Lebih lanjut, ibu itu bercerita begini, ketika orang itu punya hajat ia akan datang ke pulau beras basah dan mengikatkan tali ke pohon pandan itu, dan orang itu biasanya akan berjanji kalau hajat atau keinginannya terpenuhi ia akan kembali ke beras basah dan lelepas tali yang ia ikatkan. Apakah pohon pandan itu yang mengabulkan permohonan?

Pandan tempat mengikat tali, bukan di pohon pandannya ternyata (-.-')
@pulau Beras Basah
Biasa kita akan termakan mentah-mentah kan? Pasti kita beranggapan itu pohon keramat. Teman saya ada yang gak berani foto disana? Saya?? Berani dooonkkk, gak ada yang mistis. Kenapa? Saya mencoba berpikir realistis. Menurut saya ini adalah sebuah nadzar, contoh saya punya keinginan, misalnya saja saya pengen punya apartemen, terus saya ikatkan tali di pohon itu, dan saya berjanji pada diri saya, kalo saya nanti punya apartemen saya akan kembali ke beras basah untuk melepas tali. Ini semacam nadzar kan? Ibu penjual nasi kuning itu juga bilang, “yah percaya gak percaya ya mbak” lah, menurut saya sih justru terlalu jauh kalo kita percaya pohon itu yang akan mengabulkan permintaan kita, itu sih jelas gak masuk akal. Saya sempat loh ingin mengikatkan tali, tapi saya mikir lagi, dari jawa ke bontang biayanya mahal, pesawat ke balikpapan PP, taksi ke bontang PP, sewa perahu ke beras basah, waduh….akhirnya saya gak jadi ikatin tali hehehehe.

Masih banyak yang bisa dibahas, tapi nanti bisa jadi novel. Kenapa sih saya nulis begini? Alasan saya sederhana, saya gak mungkin gak menghormati tradisi nenek moyang saya yang sudah trun temurun, kedua saya gak mau terlalu terbebani dengan cap musyrik, syirik dll karena dosanya besar dan tidak terampuni, makanya saya merubah pemikiran saya, selain sebagai (calon) peneliti sosial tentunya. 

Nah, saya senang bisa berdamai dengan tradisi Jawa yang indah dan penuh santun ini, saya jadi makin ingin tahu lebih banyak, saya yakin ada alasan sangat logis dari setiap adat dan tradisi jawa, bukan hanya berujung dengan kata ‘ora elok’, gak ada asap tanpa api, saya yakin itu.

>>>relevansi primbon jaman sekarang memang perlu ditelusuri lebih lanjut, primbon adalah penelitian jaman dulu, pengambilan sampel masyarakat jawa yang masih kental dengan tradisi dan adat jawa. Saya masih belum tau apakan primbon juga berlaku untuk etnis lain atau orang jawa yang sudah lama tinggal diluar jawa dengan adat istiadat berbeda. Mungkin intuk etnis tionghoa ini seperti Feng shui.
Selengkapnya...

Siang kami yang gamang...

Ini survey terakhir RUMiCI, tahun ke empat, dan tahun ketiga saya bergabung disini, dan sya tidak pernah pindah region. Salalu di SAMARINDA. Saya sampai hafal beberapa bagian kota ini sampai ke sudut-sudutnya, dalam 3 tahun 5 kali sudah saya ke ibukota Kalimantan Timur ini.

Beskem kami, di jl. Perjuangan, dekat sekali dengan kampus Universitas Mulawarman, kawasan hunian mahasiswa, banyak makanan. Demi Tuhan saya gak pernah berhhenti makan, hahahaha. Nafsu makan saya sangat baik. Air lancar mengalir, tidak seperti tahun lalu dimana kami harus beli air tiap 2 hari sekali untuk mandi dan mencuci.

Tim samarinda ada 18 orang, terdiri dari 1 orang RC, bu Muji; 2 SPV saya dan Uline; 1 Field SPV Asri, 2 orang Puncher Mas danny dan mb Popon, serta 12 orang enumerator. Saya gak bohong 12 orang enum itu sepertinya gak ada yang beres, huahahaha. Mungkin kami semua gak beres, eh bu Muji tidak termasuk ya di dalamnya, beliau adalah yg terhebat diantara yg terhebat.

Hari-hari pertama survey, kami sempat membuat cemas asri. Waktu itu, hari kedua survey, saya ingat betul, kami sedang makan siang dan anak-anak tengah mengeksekusi daerah bukuan, daerah ini sangat jauh dari peradaban. Peradaban kami maksudnya (kalo peradabannya ulin sih deket banget, ulin adalah preman daerah sana hehehehe ^^v). jalanan banyak berlubang karena sering keluar masuknya peti kemas. Ketika kami tim officer sedang makan siang di Seliur. Bu muji menelpon saya dari beskem, beliau Cuma diam, saya heran, saya sudah halo-halo berkali-kali. Akhirnya saya menutup telponnya, takut bu muji salah pencet. Menurut bu muji, hapenya yg Iphone3 itu terlalu canggih untuk beliau yg gaptek. Saya melanjutkan makan, tapi tiba-tiba mas danny menerima telpon entah dari siapa, setelah ditutup dengan raut wajah yg tidak saya mengerti artinya dia bilang:

“tau gak? Ada enum tangerang kecelakaan…….”


………………jeda, saya masih mengartikan raut wajahnya


“terus…………” lanjutnya lagi, saya menyimak sambil makan


“…………meninggal…….” Dan nafsu makan saya hilang seketika, saya seketika ingin menangis, memikirkan anak-anak di lapangan, dan mbak Izzah…



Kami disitu, mbk popon, ulin, diah, fitri termasuk mas danny diam dalam pikiran kami masing-masing. Fitri langsung menanyakan pada rekan enum di tangerang, saya langsung sms mbak norma, ingin rasanya menelpon mbak izzah, tapi saya bingung harus bicara apa. Kabar dari tangerang sampai, dari Okta salah satu enumnya, dia menceritakan kalau yang kecelakaan itu adalah bang Yanto, Field Supervisor tangerang, kabarnya tertabrak kereta. Badan saya bergetar, saya mati-matian menahan air mata, saya langsung sms ibu saya, sms mas, bermaksud melegakan hati saya. Dan kami serentak langsung ingat pada asri, field supervisor kami. Cuma satu yang bisa kami bilang pada asri dan enum kami: HATI-HATI.

Kami melanjutkan makan dengan perasaan gamang, memikirkan kawan-kawan kami, memikirkan mbak izzah dan Eka, memikirkan pak TNE juga pak Chris yang saat itu ada pada waktu kejadian. Ya Tuhan…..hati saya habis rasanya, sebegitu dekatkah pekerjaan kami pada maut? Mungkin selama ini kami tidak pernah memikirkannya.

Pulang ke beskem, saya menemukan bu muji diam termenung, matanya merah dan basah oleh air mata, saya hubungi mbak norma, kami sama-sama syok, kami sama-sama memikirkan teman-teman kami. Siang itu kami tidak fokus bekerja, kabar dari teman-teman di lapangan yang saya nantikan. Dan ketika asri sampai ke beskem, dia langsung menumpahkan unek-uneknya. Protes karena dia jadi yang paling dikhawatirkan oleh kami. Saya benar-benar tidak tau harus berbuat apa waktu itu… ini adalah ujian terhebat kami.
Cerita selengkapnya bisa dibaca di tulisan mbak izzah, saya menangis lagi membacanya, salut pada kekuatan hatinya. dibaca disini yaa...
Selengkapnya...

Ethnic Runaway, Tenggarong

Ada 3 hal yang membawa saya dan teman-teman saya kemari. Pertama beban kerja yang hampir selesai, kedua: kawan enumerator yang punya semacam vila disini, dan ketiga: mumpung kami ada di Kalimantan timur dan entah kapan akan kembali lagi.

Pagi itu (Mei 2008) beskem gerilya sudah riuh oleh kawan-kawan, mereka membantu kami membereskan barang bawaan yang akan kami bawa ke tenggarong. Yang idak boleh terlupa adalah: satu peti seafood segar yang diterbangkan langsung dari Tarakan. Kawan saya, jidong, panggilan sayangnya :p yang mensponsori seafood ini. Dia adalah pengusaha tambak di tarakan sana.

Lepas zuhur kami berangkat menuju rumah Irma, inilah starting point kami. Dan vila milik keluarga Irma inilah yang akan kami tumpangi selama di tenggarong. Jadi hari itu kami berangkat bersama orang tua Irma naik mobilnya. Ternyata bawaannya gak kalah heboh, bawa bed cover buanyak, kompor, alat makan berikut bahan makanannya dll :o


Singkat cerita, kami sampai di tenggarong seberang. Vila Irma hanya 100 meter dari sungai Mahakam, yang diujung sana tampak jembatan tenggarong yang mirip golden gate, waktu gelap indah sekali looohhh.

Seperti kebanyakan rumah disini, vila Irma berdiri diatas rawa, saya sempat kuatir banyak nyamuk, tapi ternyata tidak. Asik sekali vilanya, kadang saya seperti merasa rumahnya bergoyang karena arus air rawa dibawahnya. Menyenangkan sampai saya kebelet pipis dan ke toilet, asal tahu saja kamar mandinya outdoor!!!!! Mampus!! Pemandangannya rawa dan ladang milik orang, toiletnya hanya ditutup terpal. Lebih parah dari kamar mandi milik sub unit tetangga waktu saya KKN di Borobudur dulu. Sore itu saya bertekad saya gak akan pup sampai kembali lagi ke samarinda… T.T


Lupakan soal kamar mandi, malam itu selepas magrib kami berpesta!!! Satu peti seafood yang terdiri dari puluhan ekor udang dan ikan GT jadi sasaran keganasan kami, mereka kami goreng dan kami bakar lalu langsung kami habiskan. Tanpa nasi tentunya, saya sudah sering makan nasi hahaha..



Selesai makan, saya gak ikut cuci piring, bukan apa-apa saya liburan membawa laptop dan 10 buah kuesioner yang masih jadi tanggung jawab saya. Malam itu saya lembur, teman2 lain sibuk main kartu dan terlelap. Dini hari, karena udara yang sangat dingin dan efek kekenyangan saya pun tewas dengan sukses, masuk ke kamar akhwat dan melihat kawan2 saya berjejer, saya kebagian tempat paling ujung dan gak kebagian selimut huwaaaa…..akhirnya saya tidur melungker sampai subuh.

Subuh tiba, Cuma cuci muka dan gosok gigi saya berjalan ke tepi sungai Mahakam, menikmati elok dan indahnya jembatan tenggarong yang tampak kecil diujung sana. Dan pagi itu ternoda gara-gara saya yang pengen ke belakang. Oh..mau bagaimana lagi, saya harus menunaikan panggilan alam dengan perawaan was-was. (udah ah, masalah mandi di rawa cukup disini saja)

Jam 9 pagi, saya dan rombongan berjalan ke kota, yang saya lihat pertama adalah stadion utama tenggarong yang tahun 2007 dipergunakan untuk PON. Stadion ini keren banget, sayang gak terawat. Saya Cuma lewat, karena stadionnya gak jauh dari rumah Irma. Tujuan pertama: Museum Mulawarman, Saya sengaja tidak ikut rombongan mobil Irma, saya naek motor bersama teman-teman dengan 1 alasan sederhana: biar saya bisa menyebrang sungai Mahakam naek fery. JAngan banyangkan fery disini seperti yang ada di jawa pada umumnya kapal fery disini hanya kapal kayu biasa yang didorong mesin. Hanya cukup untuk 5 buah motor.



Mampir sejenak di rumah saudara asri (kawan enum saya), kami langsung bergegas ke museum mulawarman. Museum ini adalah bekas istana kerajaan Kutai Kartanegara. Biaya masuknya Cuma 3000 rupiah. Saya bener-bener excited. Apa yang saya lihat di buku sejarah jaman sekolah dulu sekarang ada di depan mata saya, wooowww!! Di depan museum itu terdapat patung lembuswana. Saya kurang paham soal mitos binatang aneh ini. Sepertinya dia adalah semacam hewan peranakan sapi, gajah dan entah burung apa hahahaha. Museum ini tepat di tepi sungai Mahakam, di depan penyeberangan ke pulau kumala. Pulau kumala ini adalah pulau di tengah sungai Mahakam yang digunakan sebagai tempat wisata. Saya tidak kesana, karena waktu liburan kami tidak banyak





Yang kedua, museum kayu, Sebenarnya dari museum mulawarman tadi saya berpisah dari rombongan. Kali ini tinggal saya, jidong, asri, aldo dan mas wisnu yang ke museum kayu. Kami naek motor dari museum mulawarman. Rombongan yang naek mobil sepertinya langsung kembali ke samarinda. Saya gak mungkin mau, mumpung disini bok!! Oke, singkat cerita saya ampai di museum kayu, bangunan khas kaltim, rumah panggung.

Memang museum ini tidak semega museum mulawarman tentu saja. Tapi disini saya bisa tau banyak hal. Berbagai macam tumbuhan dan fungsinya. Berbagai macam jenis kayu berikut kualitasnya.

Gak Cuma itu, di tengah museum ada dua buaya muara raksasa!! Gila!! Baru kali ini saya liat buaya segede itu. Di kaca tempat buaya awetan itu disimpan tertempel kliping Koran ketika buaya itu ditangkap, dia habis menelan orang bulat-bulat!! Mengerikaaannnn….!! Buaya itu sepanjang 4 meter dan dipajang dengan mulut menganga, badan saya yang imut2 ini sih jelas bisa masuk kedalamnya. Tapi saya gak berminat…







Di museum ini kita juga bisa melihat berbagai macam rumah adat dayak, dalam bentuk miniature tentunya. Yang jadi superstar tentu saja potongan kayu yang diameternya sama dengan rentangan tangan saya, jenis kayunya ulin, ini kayu mahal yang kualitasnya sangat baik. Tapi sekarang sudah jarang bisa ditemukan di hutan Kalimantan. Biasa lah kalo sudah tahu harganya mahal ya jadi barang buruan utama.

Menurut saya sih museum ini kurang menarik, gelap dan tampat gak terurus, udah gitu letaknya jauuuhhh ke pelosok, kami nyaris tersasar. Mungkin orang lebih suka jalan ke pulau kumala kali yaa. Pulang dari museum kayu saya diajak jidong ke rumah temannya, disana saya disuguhi kelapa muda fresh from the tree, jidong yang memanjatkannya untuk saya, romantic banget kan? Hahahahaha. Kelapanya enak, lembut, bener-bener kelapa muda lah pokoknya!!!

Oke sekian perjalanan saya ke kabupaten terkaya di Indonesia, suatu saat saya ingin kembali kesini soalnya belum kesampean bawa oleh-oleh batu bara :p
Selengkapnya...