Showing posts with label Culture and History. Show all posts
Showing posts with label Culture and History. Show all posts

Liburan Kilat! Malang - Bromo

Rencana trip Malang-Bromo tersusun sangat lama di kepala. Ini adalah tujuan pertama honeymoon kami sebenarnya. Tapi gagal. Kenapa? Waktu dan duitnya gak cukup *jujur banget*. Jadilah kami setelah menikah honeymoon ke Pangandaran. (Ceritanya kurang lebih disini). *Besok kalo sempat yang versi aku, aku tulisin sendiri. Pasti lebih seru :p*

Tapi namanya pengantin baru suka ada aja rejekinya yaa, akhirnya kesampaian juga kami ke Malang-Bromo. Berawal dari kado tiket pesawat Air Asia PP dari om Didik (Thank you so much, Om!). Sebenernya tiket ini syaratnya cuma: dipake tahun 2013, gak pake transit dan jangan dipakai pas peak season. Masalahnya ada di kita, kita gak punya paspor (manis banget kan rute luar negeri Air Asia, si om udah nawarin aja “Kemana? Singapur? Bangkok? Terserah kalian”), dan gak punya cuti (sama-sama baru pindah kerja ke tempat baru abis married)

Seneng-seneng pusing. Mau trip kemanaaa di weekend doank…..rute dari Jakarta cuma Medan, Makassar, Jogja, sama Surabaya. Ke Jogja males donk ah, bosan. Menurut jadwal, yang memungkinkan berangkat after office hour cuma Makassar sama Surabaya. Tapi kalo ke Makassar, aku maunya mampir ke Tanjung Bira/Toraja, soalnya kalo kotanya udah pernah nyicip. Mikir-mikir dan hitung-hitung akhirnya jatuhlah Surabaya, tujuan utama tentu saja mewujudkan mimpi ke Malang dan Bromo (Ujungnya gak bulan madu juga, jalan-jalan)

So, ini catatan liburan kami.......
Selengkapnya...

Ethnic Runaway, Tenggarong

Ada 3 hal yang membawa saya dan teman-teman saya kemari. Pertama beban kerja yang hampir selesai, kedua: kawan enumerator yang punya semacam vila disini, dan ketiga: mumpung kami ada di Kalimantan timur dan entah kapan akan kembali lagi.

Pagi itu (Mei 2008) beskem gerilya sudah riuh oleh kawan-kawan, mereka membantu kami membereskan barang bawaan yang akan kami bawa ke tenggarong. Yang idak boleh terlupa adalah: satu peti seafood segar yang diterbangkan langsung dari Tarakan. Kawan saya, jidong, panggilan sayangnya :p yang mensponsori seafood ini. Dia adalah pengusaha tambak di tarakan sana.

Lepas zuhur kami berangkat menuju rumah Irma, inilah starting point kami. Dan vila milik keluarga Irma inilah yang akan kami tumpangi selama di tenggarong. Jadi hari itu kami berangkat bersama orang tua Irma naik mobilnya. Ternyata bawaannya gak kalah heboh, bawa bed cover buanyak, kompor, alat makan berikut bahan makanannya dll :o


Singkat cerita, kami sampai di tenggarong seberang. Vila Irma hanya 100 meter dari sungai Mahakam, yang diujung sana tampak jembatan tenggarong yang mirip golden gate, waktu gelap indah sekali looohhh.

Seperti kebanyakan rumah disini, vila Irma berdiri diatas rawa, saya sempat kuatir banyak nyamuk, tapi ternyata tidak. Asik sekali vilanya, kadang saya seperti merasa rumahnya bergoyang karena arus air rawa dibawahnya. Menyenangkan sampai saya kebelet pipis dan ke toilet, asal tahu saja kamar mandinya outdoor!!!!! Mampus!! Pemandangannya rawa dan ladang milik orang, toiletnya hanya ditutup terpal. Lebih parah dari kamar mandi milik sub unit tetangga waktu saya KKN di Borobudur dulu. Sore itu saya bertekad saya gak akan pup sampai kembali lagi ke samarinda… T.T


Lupakan soal kamar mandi, malam itu selepas magrib kami berpesta!!! Satu peti seafood yang terdiri dari puluhan ekor udang dan ikan GT jadi sasaran keganasan kami, mereka kami goreng dan kami bakar lalu langsung kami habiskan. Tanpa nasi tentunya, saya sudah sering makan nasi hahaha..



Selesai makan, saya gak ikut cuci piring, bukan apa-apa saya liburan membawa laptop dan 10 buah kuesioner yang masih jadi tanggung jawab saya. Malam itu saya lembur, teman2 lain sibuk main kartu dan terlelap. Dini hari, karena udara yang sangat dingin dan efek kekenyangan saya pun tewas dengan sukses, masuk ke kamar akhwat dan melihat kawan2 saya berjejer, saya kebagian tempat paling ujung dan gak kebagian selimut huwaaaa…..akhirnya saya tidur melungker sampai subuh.

Subuh tiba, Cuma cuci muka dan gosok gigi saya berjalan ke tepi sungai Mahakam, menikmati elok dan indahnya jembatan tenggarong yang tampak kecil diujung sana. Dan pagi itu ternoda gara-gara saya yang pengen ke belakang. Oh..mau bagaimana lagi, saya harus menunaikan panggilan alam dengan perawaan was-was. (udah ah, masalah mandi di rawa cukup disini saja)

Jam 9 pagi, saya dan rombongan berjalan ke kota, yang saya lihat pertama adalah stadion utama tenggarong yang tahun 2007 dipergunakan untuk PON. Stadion ini keren banget, sayang gak terawat. Saya Cuma lewat, karena stadionnya gak jauh dari rumah Irma. Tujuan pertama: Museum Mulawarman, Saya sengaja tidak ikut rombongan mobil Irma, saya naek motor bersama teman-teman dengan 1 alasan sederhana: biar saya bisa menyebrang sungai Mahakam naek fery. JAngan banyangkan fery disini seperti yang ada di jawa pada umumnya kapal fery disini hanya kapal kayu biasa yang didorong mesin. Hanya cukup untuk 5 buah motor.



Mampir sejenak di rumah saudara asri (kawan enum saya), kami langsung bergegas ke museum mulawarman. Museum ini adalah bekas istana kerajaan Kutai Kartanegara. Biaya masuknya Cuma 3000 rupiah. Saya bener-bener excited. Apa yang saya lihat di buku sejarah jaman sekolah dulu sekarang ada di depan mata saya, wooowww!! Di depan museum itu terdapat patung lembuswana. Saya kurang paham soal mitos binatang aneh ini. Sepertinya dia adalah semacam hewan peranakan sapi, gajah dan entah burung apa hahahaha. Museum ini tepat di tepi sungai Mahakam, di depan penyeberangan ke pulau kumala. Pulau kumala ini adalah pulau di tengah sungai Mahakam yang digunakan sebagai tempat wisata. Saya tidak kesana, karena waktu liburan kami tidak banyak





Yang kedua, museum kayu, Sebenarnya dari museum mulawarman tadi saya berpisah dari rombongan. Kali ini tinggal saya, jidong, asri, aldo dan mas wisnu yang ke museum kayu. Kami naek motor dari museum mulawarman. Rombongan yang naek mobil sepertinya langsung kembali ke samarinda. Saya gak mungkin mau, mumpung disini bok!! Oke, singkat cerita saya ampai di museum kayu, bangunan khas kaltim, rumah panggung.

Memang museum ini tidak semega museum mulawarman tentu saja. Tapi disini saya bisa tau banyak hal. Berbagai macam tumbuhan dan fungsinya. Berbagai macam jenis kayu berikut kualitasnya.

Gak Cuma itu, di tengah museum ada dua buaya muara raksasa!! Gila!! Baru kali ini saya liat buaya segede itu. Di kaca tempat buaya awetan itu disimpan tertempel kliping Koran ketika buaya itu ditangkap, dia habis menelan orang bulat-bulat!! Mengerikaaannnn….!! Buaya itu sepanjang 4 meter dan dipajang dengan mulut menganga, badan saya yang imut2 ini sih jelas bisa masuk kedalamnya. Tapi saya gak berminat…







Di museum ini kita juga bisa melihat berbagai macam rumah adat dayak, dalam bentuk miniature tentunya. Yang jadi superstar tentu saja potongan kayu yang diameternya sama dengan rentangan tangan saya, jenis kayunya ulin, ini kayu mahal yang kualitasnya sangat baik. Tapi sekarang sudah jarang bisa ditemukan di hutan Kalimantan. Biasa lah kalo sudah tahu harganya mahal ya jadi barang buruan utama.

Menurut saya sih museum ini kurang menarik, gelap dan tampat gak terurus, udah gitu letaknya jauuuhhh ke pelosok, kami nyaris tersasar. Mungkin orang lebih suka jalan ke pulau kumala kali yaa. Pulang dari museum kayu saya diajak jidong ke rumah temannya, disana saya disuguhi kelapa muda fresh from the tree, jidong yang memanjatkannya untuk saya, romantic banget kan? Hahahahaha. Kelapanya enak, lembut, bener-bener kelapa muda lah pokoknya!!!

Oke sekian perjalanan saya ke kabupaten terkaya di Indonesia, suatu saat saya ingin kembali kesini soalnya belum kesampean bawa oleh-oleh batu bara :p
Selengkapnya...

EloProgo Art House

Kalau pernah ke borobudur pasti tau jika di kawasan borobudur banyak terdapat barang-barang kesenian. Sebagian memang didatangkan dari jogja, tapi ada juga yang berasal dari sekitar kawasan candi.

Juni-Agustus 2008
Saya bertugas sebagai mahasiswa KKN di salah satu desa wisata di kecamatan borobudur, desa Wanurejo. Tidak banyak orang dengar, karena pamornya kalah oleh desa tetangga: desa Candirejo, saya pernah melihat liputan tentang celebrity on vacation di candirejo. Padahal untuk menuju ke candirejo pasti melewati wanurejo loh..

Apa sih keistimewaan desa KKN saya itu? Saya gak akan membandingkan yaa, sebenarnya banyak hal menarik. Satu dulu saya ceritakan: ELO-PROGO ART HOUSE.


Berlokasi di dusun Bejen, desa Wanurejo. Sebenarnya tim KKN kami tidak ditugaskan ke dusun ini, tapi karena tugas kami kala itu adalah mengembangkan potensi wisata desa wanurejo maka sedikit banyak kami mengetahui tentang spot-spot wisata menarik disini.

Dinamakan elo-progo karena art house ini persis berlokasi ditepi pertemuan sungai elo dan sungai progo. Fotonya? Hmmm, sayang sekali saya tidak berhasil menemukan foto-foto KKN milik teman-teman saya dulu, sewaktu saya kesana tempat yang menuju pertemuan dua sungai itu terpagar. Karena untuk menyimpan bubu raksasa rekor muri. Saya hanya melihat dari jauh, tapi saya beruntung sempat mengarung di pertemuan dua sungai itu. Sehari sebelum penarikan KKN saya dan teman-teman rafting di sungai elo dan finish di sungai progo atas tepat di kawasan elo progo art ini :D



Nah, karena tempatnya agak rumit jika berkunjung ke wanurejo bisa bertanya kepada penduduk sekitar. Tanya saja mau ke elo progo, atau ke tempat pak sony di bejen. Semua sudah tau. Nama pemilik elo progo ini adalah pak sony santoso. Saya waktu itu tidak sempat bertemu beliau, tapi beberapa teman saya yang memang mempunyai program kerja di tampat itu tentu saja pernah menemuinya.



Disini banyak dipajang karya lukis dari pak sony, seminggu 3 kali juga diadakan latihan menari untuk anak-anak. Ada juga rumah nyentrik yang tersusun dari bata-bata. Suasananya asri, dengan suara air mengalir. Hmmm....





Tepat sekali karena saya berkunjung kesana dalam rangka melepas penat bersama teman-teman satu pondokan. Intinya, sore itu kami refreshing karena ketegangan kami menjalani program kerja KKN. Saya menyesal tidak bisa mendapatkan hasil foto tim promosi KKN kami waktu itu dan membaginya kesini.

Masuknya gratis kok, tidak dipungut biaya, penduduk sekitar juga sering keluar masuk tempat ini, sore itu saya melihat sebuah keluarga yang body rafting disungai progo, wuiiiihhh, rasanya pengen ikutan nyemplung, airnya gak keruh sih..

Lain kali saya ingin berkunjung kesana lagi, mungkin mencari foto-foto yang lebih cakep dari yang disini, waktu itu bener2 asal jepret saja :( eh, jangan heran kalo difoto itu saya sama si mas yaah,, saya gak satu KKN sama mas kok, dia cuma menjenguk saya, gak betah kali saya tinggal lama-lama hahahahahaha

Nah, kalo mau tau lebih jauh tentang eloprogo art >>> Kesini
foto-foto yang lebih oke >>> disini



Ibu-ibu sub unit dusun Tingal Kulon: Anggita-saya-disty-astri-anis

Foto favorit saya, hasil karya anis :)


Selengkapnya...

Songket/Sarung Tenun Samarinda

Kalo ditanya apa yang terkenal dari samarinda mungkin sebagian besar menjawab songket/sarung Samarinda. Nah, di kunjungan pertama saya di ibukota kaltim ini (april 2009) saya diajak oleh supervisor saya (waktu itu saya masih jadi data entry) menjelajah salah satu yang khas di Samarinda.

Tujuan saya adalah kecamatan Samarinda Seberang, dari namanya terbayang letaknya yang memang di seberang sungai Mahakam. Kota samarinda sendiri terbelah oleh sungai Mahakam, dan ketika itu hanya ada satu akses ke samarinda seberang : Jembaan Mahakam. Jembatan itu menjadi satu-satunya penghubung pusat kota samarinda dengan kecamatan-kecamatan lain di seberang sungai. Sebenarnya ada jembatan lain yang belum dibuka, yaitu jembatan mahulu. (Jembatan Mahulu baru resmi dibuka pada tahun 2010)




Hari itu saya memang berencana melakukan supervisi teman-teman enum di daerah samarinda seberang (sekalian jalan-jalan tentunya). Setelah sedikit melihat-lihat daerah sengkotek, saya bersama supervisor saya melanjutkan perjalanan ke Jl. P. Bendahara, Gg. Pertenunan, Samarinda seberang. Disanalah pusat songket samarinda. 

Gg. Pertenunan adalah sebuah perkampungan yang berdiri diatas rawa yang juga tidak jauh dari sungai Mahakam. Jalan masuknya tersusun dari kayu, tentu saja rumah-rumahnya berbentuk semacam rumah panggung. Motor saya parkir di tepi jalan P. Bendahara, agar kami tidak repot berjalan di gang yang sempit itu. Sekitar 20 meter kedalam saya mulai mendengar irama kayu beradu. Seperti yang diceritakan supervisor saya itu suara alat tenun tradisional. Sebagian besar penduduk di gang pertenunan ini berprofesi sebagai penenun sarung. Jika pagi atau sore hari suara alat tenun tradisional itu riuh sekali, tapi indah. 
Salah satu penduduk gg. pertenunan membuat sarung motif kotak-kotak

Satu kain dibuat sekitar 1-2 minggu

Gang pertenunan cukup padat, dan bukan tidak mungkin ada orang yang nyasar disini, gangnya rumit dan banyak hehe. Hasil riset pribadi field supervisor tim kami sarung samarinda ini sebenarnya bukan benar-benar asli kota ini. Para penenun adalah migran bugis yang berpindah ke Kalimantan timur. Ya, hampir semua penghuni gang pertenunan adalah orang bugis. Saya sudah cerita kan kalau di samarinda teebentuk kantong-kantong migrant dari daerah tertentu juga pengelompokan pekerjaan menurut daerah asalnya? Gang pertenunan inilah salah satunya.

Lalu apakah motif kain sama dengan sarung bugis asli dari Sulawesi? Tentu tidak. Untuk motif sudah dimodifikasi khas kaltim, bunga-bunga besar dengan warna-warna mencolok. Khasnya sih warna ungu. Tapi ada juga motif kotak-kotak biasa.
Sarung motig yang rumit dibuat sekitar 2-3 minggu

Saya beruntung sempat mengobrol banyak dengan salah satu penenun disana. Untuk harga sarung yang motif kotak-kotak biasa dihargai Rp 150.000 sedangkan untuk yang motifnya rumit seharga Rp 300.000. ada juga yang sepasang untuk laki-laki perempuan seharga Rp 500.000. murah bukan? Langsung di pembuatnya sih. Padahal pembuatan satu sarung bisa memakan waktu 2 minggu loh. saya diberitahu bagaimana cara membedakan sarung tenun asli dan hasil tenun mesin. Menurut pembuatnya, tenun handmade cenderung kasar daripada buatan mesin, dan dalam satu sarung pasti ada sambungannya, karena 1 sarung tidak mungkin terdiri dari 1 lembar kain. Beratnya juga lebih dibandingkan hasil tenun mesin. 
Motif dan warna sarung khas samarinda, agak hore tapi cantik :D

Cara merawatnya? Tidak boleh dicuci pake sabun/detergen, nanti rusak. Selain itu kain juga tidak boleh diperas. Kalo mampu sih mending dry clean saja hehehe. Oia, harga untuk songket tenun mesin adalah Rp 70.000 termasuk selendang. Bisa dibeli da pasar pagi dekat pelabuhan samarinda. Saya sempat membelinya di tahun 2010, yang tenun mesin tentunya karena saya gak punya uang. Kain itu yang saya pakai di waktu wisuda. Cantik sekali loohh… :D
Selengkapnya...

Kitab Lontar Sutasoma Salinan I Wayan Muditadnana

Seorang tua yang masih penuh semangat, tulus dan ramah. Itulah yang saya tangkap ketika pertama kali bertemu beliau. I Wayan Muditadnana, seorang penulis naskah kuno diatas lontar.
Saya mengenalnya ketika berkunjung ke Tenganan, salah satu desa adat di Bali. Rumahnya sangat sederhana, seperti sebagaimana rumah di Tenganan pada umumnya, tanpa teras dan halaman. Memang saya tidak mengenalnya secara khusus, tapi Demi Tuhan saya baru mengetahui ada sosok semengagumkan itu tepat ketika saya melihat dan mendengar beliau membaca penggalan kitab sutasoma.
I Wayan Muditadnana

Awalnya beliau menceritakan ketertarikannya terhadap sejarah dan kitab-kitab kuno. Juga tentang gurunya dari belanda yang mengajarinya bahasa sansekerta (jujur saya miris mendengarnya). Berikut kecintaannya terhadap kitab-kitab itu, juga sedikit kegelisahannya karena beliau tidak punya penerus. Dan saya berpikir, haruskah besok anak-anak saya mempelajari warisan nenek moyangnya dari orang asing?
Pak Wayan sudah punya banyak karya, banyak sudah kitab yang ditulisnya lebih tepatnya disalin, banyak pula orang yang memesan dan membeli karyanya. Beliau sampai punya 4 buah buku khusus tamu yang datang memesan dan membeli berikut nota pembelian dan pengirimannya. Dengan semangatnya beliau bercerita kalau pernah ada orang yang ingin membeli buku catatan tamu itu, beliau tertawa-tawa karena heran untuk apa buku itu dibeli. Tapi tentu saja beliau tidak memberikannya hehehehe
Beliau rendah hati, tidak ingin disebut seniman, pujangga atau kata-kata bombastis sejenis. Karena menurutnya beliau melakukan pekerjaannya karena hobi (juga cinta dan ketulusan-yang ini menurut saya). Menurut ceritanya, beliau bangun jam 4 pagi dan langsung mulai bekerja, dengan lampu sorot cipataannya sendiri: lampu pijar dalam bola separuh yang dilapis semaram alumunium foil atau kertas timah (saya kurang tahu pasti). Tapi sampai saat ini pak Wayan membaca naskah-naskah tersebut tanpa bantuan kacamata. Luar biasa.
Ada satu karya yang jadi andalannya, yang sepertinya sampai kapanpun tidak akan diserahkan kepada siapapun: SUTASOMA. Yang di dalamnya memuat semboyan negara kita: Bhinneka Tunggal Ika. Sepenuh hati beliau menceritakan kepada semua tamu pada waktu itu, termasuk saya, mengenai kecintaannya terhadap karya itu. Dan dengan segenap kebanggaan penuh, karena tamunya mayoritas anak muda, beliau mengambil kotak berisi salinan kitab tersebut. Berbeda dengan karya-karya lainnya, Sutasomanya ditempatkan dalam kotak merah yang cantik, dimana di sisi-sisinya diukit bunga-bunga yang beliiau tulis dengan emas. Tulisan dalam lontar ditulis dengan kemiri yang dibakar. Beliau menyelesaikan itu dalam 2 tahun. Karya tulisan lontar itu tersusun dari potongan-potongan lontar berbentuk persegi panjang yang disatukan dengan tali di tengahnya.
 Kotak berisi salinan kitab Sutasoma

Cover salinan kitab Sutasoma

Dan seperti janjinya, beliau membacakan kitab bertuliskan tulisan sansekerta itu kepada kami. Membacanya bukan asal. Harus ada nadanya, seperti nembang (menyanyi) kalo dalam istilah jawa. Kata pak Wayan, cara membacanya HARUS seperti beliau, kalau tidak beliau tidak suka. Saya jadi ingat ibu saya yang sering memarahi saya kalau mengaji tidak dengan lagu yang enak, ibu saya suka kalo orang ngaji pake qira’ah gitu. Tapi saya kan gak bisa hahahahaha. Seperti itulah pak Wayan, membaca kitab Sutasoma dan kitab sansekerta lain juga harus ada lagunya.
Beliau membacakan bagian kitab yang mengandung kalimat Bhinneka Tunggal Ika, di halaman 115:

Rwãneka dhãtu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Šiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa,

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jualah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran

Demi Tuhan saya merinding mendengarnya, rasanya ingin menangis menyadari betapa besar warisan nenek moyang kepada kita. Setelahnya pak Wayan juga bercerita, kalau dulu Pak Karno pun mendalami kitab itu sehingga bisa merumuskan semboyan negara. Orang bali dulu biasa mengkaji kitab-kitab lama. Seperti anak-anak pesantren mendalami kitab kuning. Saya bingung bagian mana yang saya kagumi. Sutasoma, Pak Wayan, Bung Karno, atau ketiganya. Begitulah seorang pemimpin, tidak pernah melupakan sejarahnya.
Pada detik dimana pak Wayan membacakan kitab itu, saya tau saya semakin jatuh cinta, tapi saya bingung, pada siapa... tapi sepertinya saya positif mengagumi sosok tua penuh semangat di depan saya: I Wayan Muditadnana
Ingin berkunjung ke rumah beliau? Mudah saja, datang ke Tenganan, dari gerbang desa hanya sekitar 100-200m akan ada petunjung rumah pak Wayan.



P.s: Sejak KKN di borobudur tahun 2008 lalu, saya bertekad memberi nama anak saya dalam bahasa sansekerta, dan semenjak bertemu pak Wayan, tekad saya semakin bulat. Karena menurut saya bahasa sansekerta itu indah, agung, historikal, megah. Bagaimana Afret Nobel? Setuju? Hahahahahahaha
Selengkapnya...