Showing posts with label Comin' to town. Show all posts
Showing posts with label Comin' to town. Show all posts

Goin' Insane @ Trans Studio Makassar


Kenapa sih ini harus dibikin judul sendiri? Karena ini seru tauukkk…!!! Waktu itu trans studio makassar masih jadi satu-satunya di Indonesia.


Begini, hari sebelumnya saya presentasi, dan itu berjalan dengan sempurna kok, saya senang sekali. Sorenya kami sudah makin galau karena keinginan kami ke trans studio memuncak. Tapi? Malam itu kami diundang dinner walikota makassar, berniat kabur? Kami gak mau cari mati. Dari pada nanti kena marah pak bos, karena beliau sudah mewanti-wanti kami untuk tidak datang terlambat. Selesai presentasi, tanpa babibu kami bergedas belanja oleh-oleh di Somba Ompu, inilah pusat perdagangan oleh-oleh makassar, mungkin kalo di jogja inilah malioboronya. Pokoknya semua serba ekspress.

Singkat kata, kami sampai ke rumah dinas pak walikota, dinner, gak taunya gabung sama apa yaaa waktu itu, pokoknya acara yang rameee banget. Dan kami sebel, tau gitu kabur aja, rumah dinas pak walikota gak jauh dari tanjung bunga, tempat si trans studio itu. Makin galau karena rencananya besok kami akan turun lapangan. Hadeeehhhh…. Pupus sudah harapan nyicip trans studio, jauh-jauh ke makassar!! Kejadian malam itu banyak yang disensor huahahahahaha, saya gak mau ah ingat-ingat lagi…

Pagi hari, hujan deraaasss sekaliii…. Saya malas bangun, kami sarapan dengan gak bersemangat, mempertanyakan dan meratapi nasib kami yang akan turun lapangan buat wawancara. Bukan kami gak suka, tapi kami sudah kennyang yang begitu-begitu. Bukannya itu memang pekerjaan kami? Pagi yang benar-benar suraammm…. Sampai di tempat konferensi ternyata pesertanya belum pada datang, jangan bayangkan wajah pak bos waktu itu, intinya beliau tidak marah pada kami, dan kami bersyukur untuk itu.


Karena peserta yang dinanti tidak kunjung tiba, DAN BANJIR di tempat dimana kami akan wawancara, maka acara hari itu, dengan persetujuan pak bos berubah menjadi acara bebas! HOREEEEE………!!!!!!!! ALAM BERSAHABAT DENGAN KAMIII…!!! Sempat pak bos tanya: “trans studio itu apa? Hujan-hujan gini?” saya bilang “Indoor pak, tenang aja, tempat main itu” akhirnya beliau berkata: oke kalau begitu daripada bolak balik, lekas berkemas, habis itu kita ke trans studio dan langsung menuju bandara. Kami melesat!!!! Packing pulang sambil tak henti-hentinya berterima kasih pada hujan, eh pada Tuhan karena menurunkan hujan.




Ternyata masih banyak halangan, dan kami baru sampai di tanjung bunga ba’da zuhur. Itu pun masih belum bisa masuk, menunggu rombongan kak Ida. Padahal pak bos mewanti-wanti jika kami Cuma punya waktu sampai pukul 14.30 WITA, kami harus mengejar pesawat pulang (terutama tim dari medan) lama kami disana menanti kak ida, sebenarnya bisa saja kami masuk, tapi kak ida sudah menjanjikan kalo kami akan di diskon.

Pak bos sudah resah, karena kami belum juga masuk, akhirnya saya berinisiatif untuk melobi mbak-mbak trans studio, untung mbak-mbaknya itu sudah tau kalo rombongan kami dapat diskon. Tapi sumpah yaaa…mbak-mbaknya itu rempong banget!!! Jadi itung-itungan diskon itu kan dihitung berdasar jumlah banyak rombongan yang ikut, nah…saya bingung juga itu mbak nya ngitung gimana, ribeeettt banget. Sy kasih tau ngeyel lagi. Diantara kami kan ada 2 orang yang dapat tiket masuk gratis kan ngitung biaya masuk perorangnya tinggal jumlah orang yang bayar dibagi jumlah total keseluruhan to? Nah si embaknya itu ngeyel!!! Begoooo banget, saya sampe ngomel, ngapa coba mereka ngurusin kita bayar per orang berapa, itu kan urusan kita. Dia Cuma tinggal terima totalnya aja. Gitu aja ribet. Udah tu, saya sampe ngomel-ngomel baru mbaknya nyerah. 
Foto diambil tepat ketika saya abis ngomel sama mbak-mbak rempong trans studio makassar >.<


Nah, sudah itu maki….pokoknya mi kita sudah berhasil masuk to,,, dan waktu kami sampai 14.30 Cuma tinggal 1,5 jam!!! Bayangkan!!! Apa yang terjadi? Setelah masuk kami langsung berlari, cari wahana yang paling seram. Pak bos gak ikut masuk, Cuma anak muda saja, ditambah bu muji. Bu muji pun ikut berlarian bersama kami hohohohoho


Pilihan pertama kami jatuh di wahana jelajah, disini kita dibawa naik kapal untuk menjelajahi beberapa bagian dunia, ada orang indian yang sedang mengadakan ritual. Puncak wahana ini adalah ketika kereta yang kami naiki diterjunkan tadi ketinggian. Basaahhhh……. Tapi seru sekali, biar gak gitu tinggi. Saya waktu itu sekapal dengan asri, mbak norma dan mbak izzah. 1 kapal muat 4 orang, yang kami tunggu tentu saja ekspresi si phobia terbang yang juga phobia ketinggian: Mas Alan. Di kapal kedua ternyata dia duduk paling depan huahahahaha, mukanya menunjukkan keterpaksaan dan kepasrahan melawan ketinggian :p

Yang paling depan, yang paling ketakutan hahahaha

Waktu yang sempit memaksa kami berlari dari satu wahana ke wahana lain. Pokoknya yang serem-serem duluan. Yang paling seru menurut kami adalah Dragon Tower, wahana dimana kami dijatuhkan dari ketingggian 15 meter berulang-ulang. Pertamma kali masuk kami mengantri di sebuah ruangan dan disuguhi sebuah cerita tentang seorang putri yang diculik naga apa gimana yaa waktu itu, lupa-lupa ingat dan gak penting. Nah pas dibuka, JRENG…JRENGGG…!! Mbak norma sempat ingin mengurungkan niat, tapi malang tak dapat ditolak, dia tidak bisa mundur. Heboh berteriak-teriaklah kami disana. Bu Muji tak henti-hentinya mengucap doa hehehehe.
Kastil belakang saya itulah wahana dragon tower


Beruntung waktu itu sedang sepi, jadi kami tidak perlu mengantri terlalu lama untuk tiap wahana. Yang asyik adalah ketika kami maen boom boom car. Sampe nambah satu sesi lagi, huahahaha.
Kami benar-benar tidak sempat menikmati ketegangan yang ada, satu wahana langsung disambung wahana lainnya, waktu yang sempit, tak henti kami menengok jam. Oleh-oleh souvenir trans studio pun harus dipilih dan dibayar dengan buru-buru. Intinya: SERU!!!
Foto di wahana bom-bom car :)

Jam 14.30 tepat, kami sudah kembali berkumpul di tempat pak bos menunggu. Dan dengan semangat kami ceritakan pengalaman kami di dalam, seperti gerombolan cucu yang tengah pamer kepada kakeknya hahahaha…
Belanja souvenir. Gak disarankan beli baju seragam trans corp itu harganya 200rb (-.-")

Sebelum ke bandara, kami mampir ke somba ompu lagi untuk belanja otak-otak. Ternyata pesawat kami delay lama sekali, dan si otak-otak pun tidak jadi untuk oleh-oleh kami habiskan di bandara karena kami kelaparan dan gak dapet snack dari merpati. Sial!! Sekitar jam 22.30 kami baru mendarattt di jogja,,, lelah tapi senang……
Catatan kehebohan saya di negeri angin mamiri, mudah-mudahan kelak saya bisa kembali :D
Selengkapnya...

Liburan Ala Koper Pake Ransel (part 1, Alila Hotel-Ubud)


Gimana ceritanya saya bisa sampai kesini? Buat saya itu keajaiban, pernah dengar the secret? mungkin semacam itulah. Saya benar-benar bermimpi bisa ke ubud. 2 hal yang paling mendorong saya kesana: Film Eat, Pray, Love dan Novel Perahu Kertas. dua hal itu bikin saya gila tentang ubud. sudah sering dengar dan browsing. tapi saya benar-benar ingin membuktikan dengan mata saya sendiri kemolekkan Ubud.

Dan tiba-tiba kesempatan itu seperti tergeletak di meja kerja saya: Paket 'Liburan' include tiket PESAWAT PP dan menginap TIGA MALAM di Ubud. Such a crazy things, eh? Saya benar-benar bersyukur karenanya.


Ini bukan paket liburan biasa, tempat-tempat yang saya datangi pun tidak biasa, tidak seperti travel agent lain. nanti satu-satu saya ceritakan. Sekarang, saya mau cerita hotel cantik tempat saya menginap dulu. Saya search di google tempat ini, mengunjungi websitenya, melihat foto-fotonya. Wow...luar biasa. eh sekedar info, foto-foto dalam tulisan saya ini bukan dari web ya, tapi milik kawan saya, diambil langsung dari TKP ketika saya berkunjung kesana. mau tau tarifnya? cek saja lah di web. saya pun melongo melihatnya. Orang udik yang biasa traveling pake kereta ekonomi tiba-tiba disuguhi hotel (saya gak tau bintang berapa) yang tarifnya dollar!!


Sore hari saya sampai di Ubud, setelah sebelumnya mampir ke benoa dan GWK. Akses ke hotel dari jalan umum relatif jauh, sebenarnya hotel menyediakan shuttle bus untuk pengunjung. Bis pariwisata kami yang besar itu gak bisa masuk, karena rombongan banyak jadi yaaa...ganti-gantian lah naik mobilnya. Karena baru saja sampai, kami masih bersemangat. Jalan kaki lah kami dari depan sampai ke lokasi hotel. Jangan tanya pemandangannya, kayak di ungaran sih hahahaha, tapi beda loh, atau mungkin karena saya cuma terbawa suasana aja? saya juga gak tau pasti.


Perjalanan menuju Alila Hotel, karena gak sabar nunggu jemputan kami jalan kaki deh :-)


Kesan pertama masuk hotel: kayak dibawa ke kompleks perumahan dengan konsep etnik minimalis (apa ssiiiihhh) forget it. saya gak ngerti apa-apa soal konsep rumah. ya pokoknya gtu, jadi kamar kami itu ada di semacam rumah-rumah mungil. Karena lahannya luas jadi bangunan di kawasan ini cuma 2 lantai aja, trus kontur tanah yang bertingkat-tingkat itu dimanfaatkan dengan baik. Kamar saya nomor 219. Mau tau kayak apa? foto dibawah bukan kamar saya, tapi kurang lebih begini lah. Hotel ini sempurna buat honeymoon. Jangan tanya ya apa yang saya pikirkan hahahahaha
Kamar-kamar hotel, dua tingkat, kamar saya di bagian atas.

Sisi sebelah dalam.

Kamar saya kurang lebih begini, asik yaa...

Kamar saya di bagian tengah hotel, tapi berbatasan langsung dengan pepohonan. tempat tidur saya langsung menghadap pintu dan dinding kaca, Huaahhh....andai sedang bulan madu, saya yakin saya gak akan keluar kamar. (baiklah, mulai ngelantur). Dan jangan salah sangka, saya sekamar sama dua teman saya. Jenis kelaminnya perempuan.
Pemandangan dari tempat tidur saya

Intinya, kamar saya seperti benar-benar diciptakan untuk orang bulan madu, Kamar mandinya? gak bisa dikunci, pintunya dobel, dan dari luar kita bisa ngintip kedalam. Shower ada di sebelah kiri kamar mandi, gak keliatan kali ada yang ngintip, tapi dinding sebelah shower terbuat dari kaca, gak langsung tembus keluar, ada dinding batunya kok, lantai shower dari batu alam juga, serasa mandi di air terjun pokoknya.
Shower, kalo kamar saya ada dinding kaca dan dinding batu, bukan kayu seperti di foto

Suasana sekitar kamar, dan hotel benar-benar menyatu dengan alam. Pepohonan rindang, udara sejuk. Eh, saya juga sering melihat tupai lari-larian di pepohonan loh, keliatan jelas dari kamar saya. Buat yang mau jalan-jalan ke ubud, hotel juga menyediakan shuttle ke pusat ubud, nanti diantar jemput kok. Kalo saya? ya naek bus lah, kan ikut rombongan.
Sepeda yang jadi fasilitas hotel, saya lagi ngantri pengen pinjam (-.-')

Serunya lagi, kolam renang cantik milik alila ini airnya gak dingin. Saya gak bohong, saya berenang pagi-pagi sekali dan gak merasa kedinginan, gak tau airnya dihangatkan atau gimana. Kawan-kawan saya juga berenang malam-malam dan gak dingin. Padahal yang udah pernah ke ubud pasti tau donk udara disana kayak apa? Tapi saran saya kalo mau berenang pagi-pagi aja, biar bisa liat pemandangan, kalo malem gelap banget.



Tampaknya hotel ni sempurna banget yaa.... Gak juga, saya punya kritik, cuma 1: Menu sarapan. Bukan apa-apa yaa... masa 3 malem saya disana menu sarapannya gak pernah ganti? ada bubur ayam, mi goreng, nasi goreng, roti dan croisant, buah potong. Udah, itu aja dan itu-itu melulu. Yaa,,enak sihh tapi kaaannnn bosen. Boleh lah ada menu tetap, tapi ada juga donk yang diganti.... soal rasa saya gak akan komen, sebanding kok dengan hotelnya. keanekaragaman menu sarapan aja yang kurang.
Nasi goreng, mi goreng, bubur

Buah potong, roti dan croissant

Breakfast time... me and my friends

Oohh, ada lagi yang kurang, sbenernya sih gak gitu saya rasakan, tapi buat info aja. Kamar saya gak ada tivinya!!!! diatas bed ada semacam pintu lemari dari kayu, saya pikir itu tivi, eh gak taunya dooonnnkkk... JENDELA, sial!! hahahaha, saya sih gak pusing, toh saya ke ubud juga bukan buat nonton tivi hehehe

And, What is the conclusion? Alila is a great hotel, Yap! Really great!!
Selengkapnya...

Ethnic Runaway, Tenggarong

Ada 3 hal yang membawa saya dan teman-teman saya kemari. Pertama beban kerja yang hampir selesai, kedua: kawan enumerator yang punya semacam vila disini, dan ketiga: mumpung kami ada di Kalimantan timur dan entah kapan akan kembali lagi.

Pagi itu (Mei 2008) beskem gerilya sudah riuh oleh kawan-kawan, mereka membantu kami membereskan barang bawaan yang akan kami bawa ke tenggarong. Yang idak boleh terlupa adalah: satu peti seafood segar yang diterbangkan langsung dari Tarakan. Kawan saya, jidong, panggilan sayangnya :p yang mensponsori seafood ini. Dia adalah pengusaha tambak di tarakan sana.

Lepas zuhur kami berangkat menuju rumah Irma, inilah starting point kami. Dan vila milik keluarga Irma inilah yang akan kami tumpangi selama di tenggarong. Jadi hari itu kami berangkat bersama orang tua Irma naik mobilnya. Ternyata bawaannya gak kalah heboh, bawa bed cover buanyak, kompor, alat makan berikut bahan makanannya dll :o


Singkat cerita, kami sampai di tenggarong seberang. Vila Irma hanya 100 meter dari sungai Mahakam, yang diujung sana tampak jembatan tenggarong yang mirip golden gate, waktu gelap indah sekali looohhh.

Seperti kebanyakan rumah disini, vila Irma berdiri diatas rawa, saya sempat kuatir banyak nyamuk, tapi ternyata tidak. Asik sekali vilanya, kadang saya seperti merasa rumahnya bergoyang karena arus air rawa dibawahnya. Menyenangkan sampai saya kebelet pipis dan ke toilet, asal tahu saja kamar mandinya outdoor!!!!! Mampus!! Pemandangannya rawa dan ladang milik orang, toiletnya hanya ditutup terpal. Lebih parah dari kamar mandi milik sub unit tetangga waktu saya KKN di Borobudur dulu. Sore itu saya bertekad saya gak akan pup sampai kembali lagi ke samarinda… T.T


Lupakan soal kamar mandi, malam itu selepas magrib kami berpesta!!! Satu peti seafood yang terdiri dari puluhan ekor udang dan ikan GT jadi sasaran keganasan kami, mereka kami goreng dan kami bakar lalu langsung kami habiskan. Tanpa nasi tentunya, saya sudah sering makan nasi hahaha..



Selesai makan, saya gak ikut cuci piring, bukan apa-apa saya liburan membawa laptop dan 10 buah kuesioner yang masih jadi tanggung jawab saya. Malam itu saya lembur, teman2 lain sibuk main kartu dan terlelap. Dini hari, karena udara yang sangat dingin dan efek kekenyangan saya pun tewas dengan sukses, masuk ke kamar akhwat dan melihat kawan2 saya berjejer, saya kebagian tempat paling ujung dan gak kebagian selimut huwaaaa…..akhirnya saya tidur melungker sampai subuh.

Subuh tiba, Cuma cuci muka dan gosok gigi saya berjalan ke tepi sungai Mahakam, menikmati elok dan indahnya jembatan tenggarong yang tampak kecil diujung sana. Dan pagi itu ternoda gara-gara saya yang pengen ke belakang. Oh..mau bagaimana lagi, saya harus menunaikan panggilan alam dengan perawaan was-was. (udah ah, masalah mandi di rawa cukup disini saja)

Jam 9 pagi, saya dan rombongan berjalan ke kota, yang saya lihat pertama adalah stadion utama tenggarong yang tahun 2007 dipergunakan untuk PON. Stadion ini keren banget, sayang gak terawat. Saya Cuma lewat, karena stadionnya gak jauh dari rumah Irma. Tujuan pertama: Museum Mulawarman, Saya sengaja tidak ikut rombongan mobil Irma, saya naek motor bersama teman-teman dengan 1 alasan sederhana: biar saya bisa menyebrang sungai Mahakam naek fery. JAngan banyangkan fery disini seperti yang ada di jawa pada umumnya kapal fery disini hanya kapal kayu biasa yang didorong mesin. Hanya cukup untuk 5 buah motor.



Mampir sejenak di rumah saudara asri (kawan enum saya), kami langsung bergegas ke museum mulawarman. Museum ini adalah bekas istana kerajaan Kutai Kartanegara. Biaya masuknya Cuma 3000 rupiah. Saya bener-bener excited. Apa yang saya lihat di buku sejarah jaman sekolah dulu sekarang ada di depan mata saya, wooowww!! Di depan museum itu terdapat patung lembuswana. Saya kurang paham soal mitos binatang aneh ini. Sepertinya dia adalah semacam hewan peranakan sapi, gajah dan entah burung apa hahahaha. Museum ini tepat di tepi sungai Mahakam, di depan penyeberangan ke pulau kumala. Pulau kumala ini adalah pulau di tengah sungai Mahakam yang digunakan sebagai tempat wisata. Saya tidak kesana, karena waktu liburan kami tidak banyak





Yang kedua, museum kayu, Sebenarnya dari museum mulawarman tadi saya berpisah dari rombongan. Kali ini tinggal saya, jidong, asri, aldo dan mas wisnu yang ke museum kayu. Kami naek motor dari museum mulawarman. Rombongan yang naek mobil sepertinya langsung kembali ke samarinda. Saya gak mungkin mau, mumpung disini bok!! Oke, singkat cerita saya ampai di museum kayu, bangunan khas kaltim, rumah panggung.

Memang museum ini tidak semega museum mulawarman tentu saja. Tapi disini saya bisa tau banyak hal. Berbagai macam tumbuhan dan fungsinya. Berbagai macam jenis kayu berikut kualitasnya.

Gak Cuma itu, di tengah museum ada dua buaya muara raksasa!! Gila!! Baru kali ini saya liat buaya segede itu. Di kaca tempat buaya awetan itu disimpan tertempel kliping Koran ketika buaya itu ditangkap, dia habis menelan orang bulat-bulat!! Mengerikaaannnn….!! Buaya itu sepanjang 4 meter dan dipajang dengan mulut menganga, badan saya yang imut2 ini sih jelas bisa masuk kedalamnya. Tapi saya gak berminat…







Di museum ini kita juga bisa melihat berbagai macam rumah adat dayak, dalam bentuk miniature tentunya. Yang jadi superstar tentu saja potongan kayu yang diameternya sama dengan rentangan tangan saya, jenis kayunya ulin, ini kayu mahal yang kualitasnya sangat baik. Tapi sekarang sudah jarang bisa ditemukan di hutan Kalimantan. Biasa lah kalo sudah tahu harganya mahal ya jadi barang buruan utama.

Menurut saya sih museum ini kurang menarik, gelap dan tampat gak terurus, udah gitu letaknya jauuuhhh ke pelosok, kami nyaris tersasar. Mungkin orang lebih suka jalan ke pulau kumala kali yaa. Pulang dari museum kayu saya diajak jidong ke rumah temannya, disana saya disuguhi kelapa muda fresh from the tree, jidong yang memanjatkannya untuk saya, romantic banget kan? Hahahahaha. Kelapanya enak, lembut, bener-bener kelapa muda lah pokoknya!!!

Oke sekian perjalanan saya ke kabupaten terkaya di Indonesia, suatu saat saya ingin kembali kesini soalnya belum kesampean bawa oleh-oleh batu bara :p
Selengkapnya...

Songket/Sarung Tenun Samarinda

Kalo ditanya apa yang terkenal dari samarinda mungkin sebagian besar menjawab songket/sarung Samarinda. Nah, di kunjungan pertama saya di ibukota kaltim ini (april 2009) saya diajak oleh supervisor saya (waktu itu saya masih jadi data entry) menjelajah salah satu yang khas di Samarinda.

Tujuan saya adalah kecamatan Samarinda Seberang, dari namanya terbayang letaknya yang memang di seberang sungai Mahakam. Kota samarinda sendiri terbelah oleh sungai Mahakam, dan ketika itu hanya ada satu akses ke samarinda seberang : Jembaan Mahakam. Jembatan itu menjadi satu-satunya penghubung pusat kota samarinda dengan kecamatan-kecamatan lain di seberang sungai. Sebenarnya ada jembatan lain yang belum dibuka, yaitu jembatan mahulu. (Jembatan Mahulu baru resmi dibuka pada tahun 2010)




Hari itu saya memang berencana melakukan supervisi teman-teman enum di daerah samarinda seberang (sekalian jalan-jalan tentunya). Setelah sedikit melihat-lihat daerah sengkotek, saya bersama supervisor saya melanjutkan perjalanan ke Jl. P. Bendahara, Gg. Pertenunan, Samarinda seberang. Disanalah pusat songket samarinda. 

Gg. Pertenunan adalah sebuah perkampungan yang berdiri diatas rawa yang juga tidak jauh dari sungai Mahakam. Jalan masuknya tersusun dari kayu, tentu saja rumah-rumahnya berbentuk semacam rumah panggung. Motor saya parkir di tepi jalan P. Bendahara, agar kami tidak repot berjalan di gang yang sempit itu. Sekitar 20 meter kedalam saya mulai mendengar irama kayu beradu. Seperti yang diceritakan supervisor saya itu suara alat tenun tradisional. Sebagian besar penduduk di gang pertenunan ini berprofesi sebagai penenun sarung. Jika pagi atau sore hari suara alat tenun tradisional itu riuh sekali, tapi indah. 
Salah satu penduduk gg. pertenunan membuat sarung motif kotak-kotak

Satu kain dibuat sekitar 1-2 minggu

Gang pertenunan cukup padat, dan bukan tidak mungkin ada orang yang nyasar disini, gangnya rumit dan banyak hehe. Hasil riset pribadi field supervisor tim kami sarung samarinda ini sebenarnya bukan benar-benar asli kota ini. Para penenun adalah migran bugis yang berpindah ke Kalimantan timur. Ya, hampir semua penghuni gang pertenunan adalah orang bugis. Saya sudah cerita kan kalau di samarinda teebentuk kantong-kantong migrant dari daerah tertentu juga pengelompokan pekerjaan menurut daerah asalnya? Gang pertenunan inilah salah satunya.

Lalu apakah motif kain sama dengan sarung bugis asli dari Sulawesi? Tentu tidak. Untuk motif sudah dimodifikasi khas kaltim, bunga-bunga besar dengan warna-warna mencolok. Khasnya sih warna ungu. Tapi ada juga motif kotak-kotak biasa.
Sarung motig yang rumit dibuat sekitar 2-3 minggu

Saya beruntung sempat mengobrol banyak dengan salah satu penenun disana. Untuk harga sarung yang motif kotak-kotak biasa dihargai Rp 150.000 sedangkan untuk yang motifnya rumit seharga Rp 300.000. ada juga yang sepasang untuk laki-laki perempuan seharga Rp 500.000. murah bukan? Langsung di pembuatnya sih. Padahal pembuatan satu sarung bisa memakan waktu 2 minggu loh. saya diberitahu bagaimana cara membedakan sarung tenun asli dan hasil tenun mesin. Menurut pembuatnya, tenun handmade cenderung kasar daripada buatan mesin, dan dalam satu sarung pasti ada sambungannya, karena 1 sarung tidak mungkin terdiri dari 1 lembar kain. Beratnya juga lebih dibandingkan hasil tenun mesin. 
Motif dan warna sarung khas samarinda, agak hore tapi cantik :D

Cara merawatnya? Tidak boleh dicuci pake sabun/detergen, nanti rusak. Selain itu kain juga tidak boleh diperas. Kalo mampu sih mending dry clean saja hehehe. Oia, harga untuk songket tenun mesin adalah Rp 70.000 termasuk selendang. Bisa dibeli da pasar pagi dekat pelabuhan samarinda. Saya sempat membelinya di tahun 2010, yang tenun mesin tentunya karena saya gak punya uang. Kain itu yang saya pakai di waktu wisuda. Cantik sekali loohh… :D
Selengkapnya...

Samarinda the 1st trip.

April 2009,

Saatnya menjelajah Samarinda!! Jadwal hari ini adalah try out wawancara untuk para enumerator, jadi saya masih belum punya pekerjaan. Hey, ini kesempatan menjelajah kota, sekalian supervisi enum hehehehe.

Kawasan yang kami eksekusi adalah yang tidak jauh dari beskem kami di Jl. Gerilya Samarinda, yaitu Jl. Otto Iskandardinata. Dari beskem, kami menuju sungai karang mumus, menyusuri tepinya, sampai ke pasar lalu berbelok ke arah kiri. Karena sudah siang kami mampir makan siang. Beli sate dan minum es.
Sungai Karang Mumus, salah satu anak sungai Mahakam, kadang sering bikin banjir juga kalau meluap


Di Samarinda ini saya merasa seperti di rumah, karena banyak sekali migran yang berasal dari jawa, benar saja, penjualnya orang jawa timur dan pembeli yang saya temui berasal dari jawa tengah dan jogja. Hwahhh..klop lah sudah ngobrol ngalor ngidul.


Tapi saya gak lantas berlama-lama kok, panas juga. Setelah mengisi energi satu persatu teman-teman enumerator kami datangi, sambil melihat-lihat suasana permukiman penduduk. Kawasan ini cenderung padat. Jalan dan gang tersusun dari kayu karena kawasan ini didirikan diatas rawa, ada beberapa memang jalan yang disemen, terutama jalan utama.

Perkampungan di salah satu sudut Samarinda




Setelah berkeliling, ada satu kelompok enumerator yang belum saya temukan. Saya dan supervisor saya berniat mencari mereka setelah menanyakan nama dan alamat responden yang mereka wawancarai. Bertanya kesana kemari, kami sudah sampai di ujung kawasan ini (jl. Otista gg keluarga) katanya kawan kami berada di rumah bapak X diatas bukit (nama responden tidak boleh saya sebarkan), bener aja, rumahnya bener-bener yang paling puncak.... 
Banyak rumah penduduk diatas bukit

Dari atas sini, tampak aliran sungai mahakam

Model permukiman di Samarinda ini cenderung berkelompok, para migran/pendatang dari daerah tertentu menempati daerah tertentu pula. Seperti yang saya kunjungi kali ini, mayoritas penduduk adalah pendatang dari Buton. Di daerah lain, seperti di Samarinda seberang, Jl, Manunggal, mayoritas penduduk berasal dari Tana Toraja. Begitu pola permukiman disini, para migran dari daerah cenderung membentuk kantong-kantong migran. Dan yang menarik jenis pekerjaan mereka ini cenderung berbeda loh tiap daerahnya. Saya menemukan perkampungan pembuat bata (warga setempat menyebutnya pembataan) di daerah Gunung Tarap, dan pembuatnya berasal dari Madura. Kemudian, di kawasan sengkotek dimana banyak terdapat pabrik kayu, para pekerjanya mayoritas berasal dari Bima, NTB. Migran di Samarinda membentuk jaringan sosial mereka sendiri sekian lama, ini yang kemudian menghasilkan kelompok-kelompok di suatu kawasan dan jenis pekerjaan tertentu.

Lalu, apakah perbedaan-perbedaan ini menimbulkan konflik? Sama sekali tidak. Bukankah selama ini kita hampir tidak pernah mendengar adanya konflik di Kalimantan Timur bukan? Samarinda terutama.
*****

Back to the trip. Perjalanan mendaki gunung ini mengorbankan sandal saya, saya gak nyangka bakal menghadapi perjalanan seekstrim ini, gak cuma naek tangga, tapi gundukan-gundukan tanah. Dari depannya saja bisa keliatan sungai mahakam, bahkan islamic center di ujung sana, ckckckck. Bukannya saya manja, tapi salah kostum aja pake sandal cantik begini.
foto bersama anak-anak



Oia, saya disana sampai menjelang senja lagi, dan sekali lagi saya menyaksikan senja yang indah menghiasi kota tepian..
Selengkapnya...

Senja di Mahakam

April 2009,

Pertama kali saya ditugaskan ke luar Jawa. Jangan tanya soal perasaan, pasti girang bukan kepalang. Pertama kali saya dapat kerja tetap eeh langsung dibuang ke Kalimantan Timur hehehehe.

Singkatnya pagi itu saya berangkat, jam 6 pagi sudah di bandara, bersama 3 kawan satu tim ditambah bos besar saya. Pagi itu ternoda karena saya terlambat, kena marah saya di depan pacar saya uuhhh..malu hehe. Tapi biarlah,,

Kali kedua saya naek pesawat, jadi gak begitu norak :p
Tapi, begitu hampir mendarat saya mendadak norak, pengen liat kalimantan dari atas. Gak seperti dugaan saya, Kalimantan ternyata gak melulu hutan.



*****
Bandara Sepinggan, Balikpapan. 
Saya lupa omelan bos besar saya, senyum terkembang lebaar sekali, oleh supervisor (mas wisnu) saya disarankan melakukan upacara ’gedruk bumi’ yaitu menghentakkan kaki tiga kali. Menurutnya saya harus melakukan itu karena ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di bumi etam hahaha, sebenarnya ini hanya bercanda. Tapi karena saya terlalu senang sayapun melakukannya dengan penuh kebahagiaan.

Perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda masih sekitar 3 jam jalur darat. Kami dibagi dua mobil dan saya kebagian sama bu muji dan pak bos. Sepanjang jalan saya tidak bisa memejamkan mata. Rasanya saya ingin menjadi saksi tiap jengkal tanah Kalimantan. Tidak ada hutan lebat seperti bayangan saya, atau kebun-kebun sawit. Saya melewati bukit Soeharto, dan taman nasional Bukit Bangkirai (yang dua tahun kemudian, tahun 2011 saya kunjungi).

3 jam kemudian, saya sampai di Samarinda, pertama daang saya langsung disuguhi keelokan sungai terpanjang di Indonesia, Mahakam. Sungai sebesar itu baru pertama saya lihat.

*****
Karena saya kesana untuk bekerja, baru hari ketiga saya sempat berjalan-jalan. Sore hari setelah training saya dan teman-teman memutuskan untuk berjalan-jalan. Amanat bos besar saya juga, pak bos menyuruh teman-teman yang berasal dari Samarinda untuk menceburkan saya ke sungai mahakam hahahahaha, beliau bilang saya belum ke samarinda kalau belum berenang di mahakam.
Menanti senja di tepian mahakam 

Jadilah sore itu kami ke tepian (sebutan untuk taman disisi Mahakam).
Jika banyak orang tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama, kali itu saya mengalaminya. Walaupun tepian berada persis di tepi jalan utama, saya tidak begitu merasakannya. Angin semilir, matahari yang hangat, suara tongkang pembawa batubara... Ini... INDAH... belum ketika senja datang, Subhanallaahhh.... Saya berikrar sore itu: saya cinta senja di tepi sungai Mahakam.
Senja di tepian Mahakam, Subhanallah..Indah yaa?

Foto yang saya ambil tampa editan sama sekali,,diambil dari kamera pocket biasa. Apa artinya? Itulah keindahan asli senja mahakam.
Teman saya bilang, kalau saya minum air mahakam saya pasti akan kembali kesini, apakah saya melakukannya? Hahahaha tentu tidak, nyatanya takdir membawa saya kembali beberapa kali



Selengkapnya...

Green School Bali

Sudah pernah berkunjung ke Bali? Hmmm...mungkin banyak yang sudah.

Tapi kalau ke Green School? Hehehe, saya mau bercerita sedikit tentang pengalaman saya disana.


Ini kali ketiga saya mengunjungi Bali, dan kali pertama saya tau sekaligus melihat Green School. Dari namanya sudah terbayang belum seperti apa sekolahnya? yang pertama kali terbayang di benak saya sih sekolah ini begitu ramah lingkungan. Dan saya gak salah... =D


***



"Welcome To Green School"


Tulisan kecil yang terukir pada bambu di sebelah kiri pintu gerbang green School. Nyentrik, itu kesan pertama saya, setelah itu saya terpana pada keasrian suasana di sini. Dari pintu masuk yang tampak adalah pos penjaga yang terbuat dari bambu, semacam kantin di samping lapangan, dan disebrangnya ada suara celotehan anak-anak serta irama bola basket dan decitan sepatu. Itu suara yang indah (Kangen maen basket mode: ON). Diujung pintu terdapat bangunan yang seluruhnya terbuat dari kayu.

Sembari menunggu tour saya bermain ayunan bambu disamping lapangan. Huwaaa...senangnyaaa!!! Sambil sekali-selaki ngeliat dari jauh anak-anak yang maen basket, setelah saya perhatikan kok banyak bule yaa, hei coachnya juga bule!! Kalo saat itu saya gak sedang menunggu tour pasti dengan gak tau malunya saya nimbrung latian sama om bule ganteng hohohoho...

An then, tours begin..

Kalo ini saya sukses melongo, bangunan yang saya kita kayu itu ternyata bambu. Bambu, bambu, bambu dimana-mana. AWESOME!!!! Saya dan teman-teman dipandu pengurus green school berkeliling, di satu sudut saya melihat sekelompok anak bule lagi belajar bernanyi, iihhh lucu-lucu banget deehh..!!


Suasana dari lantai dua, pasukan abu itu rombongan saya :)



Menurut ibu pengurus (maaf saya tidak menanyakan namanya) green school ini diperuntukkan untuk anak-anak ekspatriat yang tinggal dan bekerja di bali (pantas daritadi saya cuma liat bule) murid-murid dan guru-gurunya kebanyakan orang asing, meskipun ada beberapa yang pribumi. Tapi menurut ibu pengurus lagi, untuk orang pribumi masuk ke green school hanya bisa melalui program scholarship dan tesnya susah banget, biayanya juga mahal.

Sekolah ini adalah hasil pemikiran John Hardy, warga Kanada yang telah tinggal di Bali (Sumber) Dari info ibu pengurus, arsitek green school berasal dari UGM. Hooo...menurutnya lagi semua bagian bambu tidak ada yang terbuang. Ada yang menggunakan bambu petung sampai kepada akarnya, kemudian bambu yang tidak lurus digunakan untuk dinding, ada lagi yang digunakan untuk lantai dan tangga. Intinya, semua made by bamboo...!! mantap laahhh...

Bambu yang diambil sampai ke akar untuk tiang bangunan

Para perabot juga dari bambu
Bagian tengah green school






Nah, dari segi pendidikannya sekarang, menurut saya green school ini punya sisi unik sendiri. Anak-anak dituntut untuk bisa fokus, kreatif, cerdas dan aktif. Ruang kelas yang semi terbuka dan ada beberapa yang memang terbuka melatih anak-anak berkonsentrasi, terbukti, anak-anak bule yang saya temui sedang belajar menyanyi itu tidak peduli dengan kehadiran kami, mereka cuek saja menyanyi dan menari lompat-lompat. memang pada awal masuk sekolah mereka masih suka terganggu, tapi seiring berjalannya waktu mereka bisa mengatasi itu.

Kurikulumnya seperti sekolah pada umumnya, ada ekskul juga, tapi anak-anak disini juga belajar bagaimana berbisnis. Tingkat pendidikan yang tersedia dari play group, kindergarten, grade 1-10.

Sayangnya saya kesana sore hari, sehingga proses belajar disana tidak bisa banyak saya ikuti. Di seolah ini, anak-anak juga diajarkan untuk ramah terhadap alam, dari hasil karya mereka banyak sekali yang memanfaatkan barang-barang bekas. Saya melihat hasil karya lukis mereka, kerajinan tangan dll.

Oiya, green school punya pembangkit listrik sendiri loh, sebenarnya konsep gedung bambu ini tidak menggunakan penerangan dan AC, udah adem dan terang kok. Lampu hanya digunakan pada saat darurat seperti ketika saya berkunjung kesana: Hujan dan mendung tebal, sehingga membutuhkan penerangan lebih.

Kabarnya toilet green school juga unik, tapi saya belum melihatnya, jadi saya gak bisa cerita banyak. Yang menarik lagi, di tiang-tiang bambu tertulis beberapa nama orang, ternyata itu adalah orang yang memberikan donasi untuk green school. Saya melihat ada beberapa nama artis dalam dan luar negeri juga loohh.. =D

Saya juga berfoto di salah satu tiang bambu yang bertuliskan 'Just for Love' hahahaha

Me and my Mas :D

Kalo dari maketnya, atap green school keliahatan kayak rumah keong. Asik ngebayangin punya rumah seperti ini, tapi maintenance nya itu kayaknya ribet. green school aja dalam jangka waktu 15 tahun harus diganti bambu baru lagi. Ya memang gak semuanya langsung, tapi bertahap. Kasihan juga nanti ganggu proses belajar mengajar.

Maket green school

***

Green School berlokasi di daerah Sibang Kaja, Badung, Bali. Sekitar 20 menit ke arah utasa dari denpasar dan 15 menit ke arah selatan dari Ubud. Tempatnya terpencil, saya harus berjalan jauh ke pelosok karena bis gak bisa masuk sampai depan green school. Saran saya mending sewa mobil atau motor, hehehehe

Jika ada waktu ke Bali berkunjunglah kesana, terutama untuk orang-orang yang gila akan pendidikan yang 'berbeda' dan seni bangunan atau arsitektur. Saya jamin gak akan nyesel. Kenapa? Rahasia, buktikanlah sendiri hehehehe...

Kalau ingin tau lebih banyak soal green school>>>> About Green School

>>>Foto-foto bukan hasil jepretan saya yah, hehehe. itu saya copy punya teman-teman saya, tapi waktu pengambilannya sewaktu sya datang kesana kok =D


Action dulu sebelum pulang

My Favourite, make me sooo sleepy



Selengkapnya...