Showing posts with label Love it life. Show all posts
Showing posts with label Love it life. Show all posts

SLow di Pulow, Beras Basah Island

Pulau Beras Basah, Bontang
Mei 2011,

Ini dalah survey tahun terakhir proyek yang sedang kami kerjakan, seperti biasa, saya selalu ditempatkan di Samarinda :)

Susunan team baru yang berisi banyak manusia-manusia 'ajaib' membuat 3 minggu di Samarinda betul-betul luar biasa. Dan berdasarkan tradisi, setelah lelah bekerja kali selalu mencuri-curi waktu untuk jalan-jalan. Target kita? Bontang, sudah disusun bahkan ketika awal kami datang hahahaha. Yang biin semangat Bu Muji, beliau pernah mengunjungi Bontang, tapi berkat bujuk rayu teman-teman beliau yg belum pernah ke Beras Basah jadi semangat. Saya beri tahu, bu Muji hobi sekali jalan-jalan, kalo mengunjungi tempat yang belum pernah dikunjunginya maka tidak ada apapun yg bisa menghalanginya.

Buktinya? hari-hari terakhir kami digeber terus bekerja biar punya cukup waktu ke bontang, luar biasa. Rencana disusun dadakan, intinya gimana caranya yang penting sampai kesana.


Hari Senin 30 Mei 2011, setelah Zuhur kami berangkat dari basecamp di Jl. Perjuangan Samarinda ke terminal Lempake. Kami menyewa angkot dari dekat basecamp. Waktu itu rombongan kami 11 orang, dalam 1 angkot, udara panas dan jalanan yang macet bikin tambah gerah. Kalau jendela angkot dibuka lebar-lebar debu-debu masuk. Ahh, kota ini memang gak bersahabat.

Tahun 2009 waktu pertama kali kesini, gak sampai seminggu saya sukses radang tenggorokan.

Setelah sampai di Terminal Lempake, kami langsung naik ke bis jurusan Bontang, bis kecil 3/4 dengan tempat duduk yang sempit. Penumpangnya sudah banyak jadi kami duduk terpisah. Perjalanan kami dimulai sekitar jam 2 siang. Ini benar-benar petualangan, tempat duduk yang sempit dan jalan Samarinda - Bontang yang berlubang membuat kami terlempar-lempar, belum hiburannya yang dangdut koplo. MasyaAllah..... 3 jam kami begini, saking lelah bekerja sebelumnya dengan kondisi begitu saya masih bisa tertidur, dan terbangun sekitar 20 menit sebelum sampai Kota Bontang.

Oia, ongkos Terminal Lempake - Terminal Bontang 25.000 rupiah saja.

Tiba di Terminal Bontang sore hari, kami berencana untuk menginap di Bontang Kuala, Bontang Kuala ini adalah kampung nelayan. Lain kali saya ceritakan lebih detail :)
The Backpacker Team di depan terminal Bontang


Untuk menuju Bontang-Kuala, kami menyewa Taxi. Di Bontang angkot disebut Taxi, dan diatas angkot memang tulisannya taksi, 40ribu untuk 1 taxi sampai di Bontang Kuala. 2 orang teman kami dari samarinda ke bontang mengendarai motor, mereka yang bertugas mencarikan penginapan untuk kami.

Sampai di Bontang, kami menginap di Penginapan Shanty, 100ribu/malam untuk 3 orang. Malam itu kami habiskan di Bontang Kuala, rencana besok pagi kami berangkat ke Beras Basah.
Penginapan di Bontang

Setelah subuh, kami bersiap, teman kami ada yang bertugas membeli nasi dan semangka untuk bekal dan mencari kapal untuk disewa. Jam 8 angkot yang kemarin kami sewa sudah datang menjemput. Menuju pelabuhan.

Sewa kapal waktu itu 250-300 ribu, 1 jam perjalanan saja dari Bontang menuju ke pulau Beras basah. Awalnya kami semua bersemangat, heboh foto ini foto itu, hahahaha, sampai tengah jalan diam karena kehabisan energi, dan kembali bersemangat karena lihat mercusuar yang menjulang. Tujuan kami sudah tampak!!

Pulau Beras Basah

Lautan yang bening, pulau kecil, dan mercusuar yang putih, woow, luar biasa. Siang itu, hanya ada kami, dan 2 rang pengunjung. Hari itu Beras basah jadi pulau pribadi kami..!!!




Panas yang menyengat tidak menyurutkan kami untuk bermain air, berenang, terjun dari dermaga dan dari kapal. Such a perfect place... Tapi, hati hati yaa, disana terdapat ubur-ubur loh, dan ubur-uburnya menyengat, biarpun tidak banyak dan kecil tapi kan bengkak juga kalau disengat, teman saya Yusbi, jadi korban sengatan ubur-ubur.



Nah, mungkin pada penasaran ya kenapa pulau ini dinamai beras basah? Begini ceritanya. Dulu ada kapal dagang yang akan menuju bontang membawa beras, kapal tersebut karam tidak jauh dari sebuah pulau, sebua beras yang dibawa jadi basah. Akhirnya pulau tersebut dinamai Beras Basah.



Di pulau itu terdapat pohon pandan yang dibawahnya ada batang kayu yang penuh dengan tali, konon katanya orang yang sering punya keinginan mengikatkan talinya ke batang tersebut dan jika terkabul dia akan kembali dan mencabut talinya :) 

Di tiang papan ini, tali permohonan diikatkan

Kami pulang menjelang sore, disana tidak ada tempat bilas, jadi kami menuju Bontang dan numpang mandi di rumah Pak Haji, pemilik kapal. Kami bergegas ke terminal agar sampai samarinda tidak terlalu malam, karena esok hari kami harus sudah di Balikpapan. Perjalanan yang luar biasa :D

Berebutan semangka

Selengkapnya...

(Try to be) Real Javanese woman

Hari ini unik sekali,
Berangkat ke kantor pake kebaya warisan mbah ayi, dipadukan dengan celana dan wedges 3cm serta kerudung senada, membuat kemeja jadul milik saya tidak terkesan jadul, yaahhh mode selalu berputar memang.

Melewati gang kecil menuju kantor, saya bertemu seorang nenek yang sedang berjemur, menyapa saya dengan ramahnya (gak seperti ibu-ibu dan anak-anak mudanya kalo gak dicuekin ya disuit-suitin) kata beliau "berangkat kerja neng?" dan tanpa tedeng aling-aling saya menjawab "Inggih mbah..."

Oh My GOD!!!!
Saya malu dan mati-matian nahan ketawa (saya menertawai diri saya sendiri) sebegitu parahkah kemampuan saya beradaptasi disini? sampai-sampai tidak bisa meilah-milah cara berkomunikasi yang baik di tiap daerah. Payaaahhhh.....!!!


Di satu sisi, saya senang karena saya masih benar-benar membawa adat budaya ditempat dimana saya dibesarkan. Dan wel, sampai sekarang saya masih belum bisa, atau memang saya tidak mau mencoba, berkomunikasi ala anak-anak disini, pake elo-gue....

Dan sekarang, sama setiap teman saya, baik chatting, sms atau ngobrol, yg sama2 orang jawa saya total komunikasi pake bahasa jawa, biasanya kan gado-gado. Lidah saya gimana gitu kalo lama gak ngomong jawa, si mas kan gak bisa, dia bisanya cuma umpatan -___-

Dan 1 lagi, saya sedang ingin tau banyak tentang wayang,,kalo ini semacam rasa hormat sama budaya leluhur sih, soalnya saya malu pas ditanya soal samurai saya bisa cerita panjaaannngggg, giliran ditanya cerita togog-mbilung pun saya gak tau, kan maluuu....

I'm proud being javenese (kalimat ini kalo ditranslate ke krama inggil apaan yaa?) aduuuhhh :)
Selengkapnya...

My 1st project

29 September 2011

10.30 malam, baru saja rebahan di kasur, 3 hari terakhir ini gila sekali rasanya. Project pertama saya, setelah sekian lama menjadi supervisor lapangan saya dipercaya buat memimpin sebuah riset pasar. Senang? I'm not sure, because honestly Im not quite familiar with market research.

Section head saya adalah tipe orang yang selalu memberi challenge ke staf nya, setiap saya tanya ini itu katanya selalu "bikin aja dulu". Dan untuk proposal serta kuesioner yang saya buat memang gak banyak masalah sih, biarpun saya sempat bingung dan paranoid masalah sampling. Saya ingat sekali ketika sidang proposal skripsi saya dibantai habis masalah sampling frame.

Masalah saya sebenarya adalah pada tenaga parttime yang menyebar kuesioner dan entry data. Mereka kerja lambaaannn sekali, pusing saya dibuatnya. Alhasil hari-hari terakhir saya turun tangan nyebar kuesioner dan entry data sendiri. Partner kerja saya sampai bengong. Saya sih gak peduli, daripada gak selesai??

Kemarin, 6 jam non stop saya bikin report, ngebut sengebut ngebutnya. Beruntungnya cuma analisis deskriptif jadi cepat saja. Jam 7 malam report sent,,dan jam 11 malam saya sudah dibikin panas dingin gara2 head saya sms 'miting jam 9'. feeling saya sih saya bakal tamat.

Tadi pagi, indikasi tingkat stres maksimal dalam tubuh saya adalah perasaan mulas berkepanjangan. Saya tidak ingin gagal di debut pertama saya. Dan Alhamdulillah revisinya gak banyak, saya hanya disuruh menambah 3 chart buat memperdalam analisis saya. Tapi bikin chart itu mnta ampun susahnyaa..... bingung juga neranginnya, semacam meng-crostab-kan 5 variabel sekaligus!!! Pusing bukan kepalang, ketika saya mentok baru saya bilang ke head saya 'koh, kayaknya gak bisa dibikin deh chartnya' setelah itu jreeeennnggg...dikasih tau lah cara bikinnya.

Section head saya adalah perpaduan sempurna mantan bos di kantor lama saya dan dosen penguji skripsi saya. Teliti, berstandar statistik tinggi, senang memberi tantangan tapi minus marah-marah. Kritik saya ini itu sambil sengengas cengenges gitu....aahhhhh....kadang saya rindu dimarahin.



Direktorat tempat saya bekerja adalah sekumpulan anak muda, kami semua benar-benar seperti teman, bercanda tawa ini itu, dan sama-sama miskin karena hobi makan di warteg paling murah, mau abis gajian atau tanggal tua makan siang warteg melulu... Jadi kami juga sering ledek-ledekan.


Oia, sebenarnya saya masih punya satu PR, hasil riset saya belum berhasil saya jawab: 'is the market feasible or not?'. ITU!!!! Angka riset saya bilang iya, tapi menurut section head saya saya masih harus bersemedi malam ini untuk menentukan yes or no, saya masih dipersilahkan untuk mengutak atik data saya karena alasan saya dianggap belum kuat. Ketika saya minta saran, head saya cuma ketawa dan bilang "keputusan sepenuhnya ada di kamu sebagai product analyst, taruhannya nyawa loh..." 


See?? orang itu menantang saya lagi, saya yakin dengan liat data saya dia udah tau jawabannya, sebenarnya saya udah dapat petunjuk, tapi saya tetap harus punya angka buat bukti feasibility-nya. Ini lah betenya riset kuantitatif, semua pake ukuran, harus ada angkanya...


Dan, besok saya udah harus stand by di kantor jam 8 pagi,,,,karena presentasi jam 11. Welcome to the jungle, warda... Selama ini saya selalu mikirin si mas yang kerja, kuliah dan bikin tugas. Sekarang saya merasakannya, saya gak bisa tidur kalo belum lewat tengah malam, dan malam ini saya cuma berharap punya waktu cukup untuk tidur. 


'Is the market feasible or not?' Selengkapnya...

Hoki Orang Hokian


Tempat tinggal baru saya, Kemanggisan, Jakarta Barat merupakan kawasan yang berpenduduk campur aduk, yang paling gampang dikenali tentu saja yang berwtnis cina. Tidak heran, karena di tempat ini berdiri universitas swasta yang masuk daftar universitas swasta termahal di Indonesia. Banyak karyawan, mahasiswa dan penduduk sekitar beretnis Cina.

Sebelumnya saya tidak pernah 'hidup' sedekat ini dengan orang-orang dari etnis cina, sewaktu di Semarang pun teman saya kebanyakan pribumi. Selama ini saya sedikit tahu kalau kebanyakan orang hokian itu memikirkan hoki atau keberuntungan.

Pernah saya membaca komik conan, kalau ada hari dimana hari itu disebut haru buruk dan hari baik, biasanya berseling sehari. Kemudian angka 4 itu katanya merupakan angka sial. Tengok di Tanah Abang, gedung setinggi itu tidak ada lantai 4. Urutannya lantai 1,2,3,3a,5 dt. Dan kalau saya tidak salah ingat juga salah satu gedung perkantoran perusahaan nasional pun begitu.

Sering lihat patung kucing yang melambai di depan toko? Itulah kucing keberuntungan, dalam bahasa jepang disebut 'MANEKI NEKO'. Sekali lagi, menurut kepercayaan orang cina, kucing membawa keberuntungan. Dan dengan memasang kucing yang 'ngawe-awe' (melambai-lambai) itu di depan toko, konon pelanggannya akan banyak. Benarkah itu? Saya belum pernah tanya ke pemilik toko dan membandingkan hasil penjualan sebelum dan sesudah memasang patung kucing itu hehehehe


Seorang ibu penjual nasi di dekat kos saya beretnis cina, yang saya panggil tante, beliau masih sangat fasih bahasa mandarin, agamanya budha, bicara bahasa Indonesia pun dengan logat mandarin. Beliau senang sekali bicara, dan membantu saya memberi tahu semua hal tentang lingkungan tempat saya tinggal. Dari beliau saya juga tahu kalau perhitungan hari baik dan buruk itu ternyata menentukan keberuntungan seseorang, apalagi kalau dikaitkan dengan kelahiran anak, menurut tante anak yang lahir di hari baik nasibnya juga akan baik, pun sebaliknya.

Tapi sambil tertawa-tawa tante itu berkata "Sekarang mana ada anak yg nasibnya buruk? Orang anak lahir kapan aja bisa dibikin.." hahahaha, iya juga yaaa....

Lain tante, lain Ci' Lidya. Rekan kerja saya ini juga etnis cina, berasal dari medan, logat bahasanya masih medan sedikit, apalagi kalo bilang 'cantik' entah kenapa membuat saya jadi teringat Kak Nita, kawan saya seorang dosen di USU sana (how are you kak?? :D)

Waktu itu, tidak lama setelah seorang dari divisi lain datang ke ruang kerja kami, dan setelah section head saya, koh Eric, meledeknya karena wajah dan badannya makin membulat, ci' Lidya nyeletuk "Orang itu hokinya gede loh" kami semua langsung penasaran. Kata ci' Lidya, menurut kepercayaan orang cina, laki-laki kalo berwajah bulat itu hokinya besar. Sedang perempuan kalo hidungnya makin besar dan makin menyerupai babi lah yang berhoki besar. Kontan kami semua tertawa terbahak-bahak. Saya masih bingung korelasi antara bentuk muka, bentuk hidung, jenis kelamin dan hoki, rasanya kok gak nyambung yaaa....

Tapi, wajah saya yg tidak bulat ini memang tidak hoki, soalnya tiap ada pengundian doorprize gak pernah dapat hahahahahaha....

Lain waktu, kalo saya dapat sesuatu yang menarik lagi akan saya ceritakan, saya senang tinggal di lingkungan baru ini, membuat saya semakin tahu banyak hal :D
Selengkapnya...

Photo Session : Gadis Desa (-.-')

Location : Sawah di pinggir kali garang, Ungaran
Photo by Mousetrap Picture

Wardrobe : gift from Winda, my friend
Selengkapnya...

Photo Session : Picnic Time

Location : Taman Sari Water Castle, Yogyakarta
Model : Me, Ridho (my brother) and Indira (my cousin)
Photo by Mousetrap Picture








Selengkapnya...

Photo Session : Sok-sok an Pre-Wed :p

Location: Benteng Vredeburg, Gedung Agung, Taman Pintar
Photo by Mousetrap Picture
Wardrobe milik pribadi, no make up








Selengkapnya...

Photo Session : Graduation

Location : Balairung UGM (Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada)
Photo by  Mousetrap Picture
Kebaya by Kurnia Modiste, sarung songket Samarinda
Make Up by Zie







Perjuangan 5 Tahun dan 4 bulan: Warda Latifiana, S. Sos




Foto ini dicetak besar-besar dan sekarang terpajang di ruang tamu rumah saya

Selengkapnya...

Time to go, Kos Sendok Jaya

Clear Invasi Kos :D

*menghela nafas* berat sekali rasanya, tepat empat tahun lalu saya datang, dengan pick up membawa semua perkakas dari kos lama di Blimbingsari. Dibantu tiga sahabat saya, Yudha, dismas dan triyono. Mereka membantu mengangkut barang-barang dan menata kamar baru saya. Kamar bertegel berukuran 2,5m x 3,5m. Sebenarnya kos ini steril dari laki-laki, tapi karena saya baru pindahan jadi saya dperbolehkan memasukkan tiga kucrut itu untuk bikin ribut kosan baru saya.

Kos Sendok jaya, begitu namanya. Dulu, masih ada wartel dan warung di depan kos yang bernama Sendok Jaya. Kawasan berbentuk letter U, saya menghuni salah satu sudutnya, disamping kamar saya ada Mbak Tiki, mahasiswi arsitektur UGM, sebelahnya mbak Anggi, mahasiswi S2 kedokteran hewan, kamar ujung adalah mila, waktu itu mila masih jadi mahasiswi d3 akuntansi, 2 kamar yang sederet dengan mila masih kosong tapi nantinya akan dihuni Ido dan ninggar, deretan seberang waktu itu Cuma ada mbak devi dan mbak meta. Lalu ada Dewi, mbak erna, Neni, dan Hesti yang ikut merubah formasi kami. Hhhmm Fuah dihitung gak yaaa hahahaha,

Pindah kesini karena saya ingin meninggalkan serpihan hati saya di kos lama, saya patah hati, yaa.. saya ingin meninggalkan semua, kos ini memang dekat dengan kos mantan saya, tapi saya memang sengaja, saya ingin menghadapinya dengan gagah, saya gak lemah. Karena itu saya menantang diri saya.

Buat saya tempat ini istimewa, taman bunga di tengah-tengah kamar kami benar benar jadi nilai plus. Kami sering nongkrong di depan kamar idho dan bercerita semua hal. Jangan tanya kalo mbak meta yang bercerita, orang itu seperti gak kehabisan bahan banyolan. Kami gak pernah berhenti tertawa kalo ada mbak meta. Bahkan cerita sedihnya pun bisa kami tertawakan, entah kami yang kejam atau memang cara mbak meta yang ekspresif.


Kami Cuma dijaga Yu Yah, sekali-sekali ibu kos datang dari jakarta membawa serta cucunya Razan dan Afra yang hobi sekali menyidak kamar kami. Tiba-tiba tanpa babibu mereka membuka kamar kami, hyaaa.....!! atau tiap pagi mereka berteriak-teriak, lain waktu mereka main ke kamar kami dan menanyakan semua hal. Kalo mereka datang kami gak pernah bisa bangun siang hahahaha

Seluruh penghuni kos ini adalah sahabat saya, merekalah saksi dari tiap langkah saya, kadang saya bisa ber jam-jam di kamar mila, bertukar pikiran, menangis, kemudian tertawa. Begitupun sebaliknya. Saya dan semuanya bisa membicarakan semua hal, menertawakan semua hal. 

Our togetherness @ Siung Beach



Teman-teman saya jadi saksi saya patah hati, kemudian masa-masa pedekate sama mas, saksi mantan-mantan saya yang pengen balik lagi. Mereka yang meledek saya ketika tiap malam minggu mas mulai sering ajak saya keluar, mengingatkan posisi saya dan mas. Bukan Cuma teman-teman saya. Teras depan itu juga jadi saksi bisu banyak hal, ketika suatu malam hujan dua orang yang duduk disana sama-sama kelu, tidak mampu bicara. Cuma sanggup menikmati hujan dan dingin karena sadar cinta sudah ada di hati mereka aaiiissshhh.....

Atau ketika seorang lelaki memberikan hadiah ulang tahun sebagai sebuah pertanda ‘kau dan aku selalu untuk selamanya’

Jendela kamar saya yang langsung ke jalan adalah akses terbaik untuk mbak meta, terutama, minta tolong dibukain pintu hwahahahaha,

Dan saya gak pernah absen buat menangis di depan ninggar, mila dan ido setiap saya selesai bimbingan, dipan di depan kamar ninggar selalu jadi tempatnya, mereka loh selalu membesarkan hati saya. Saya suka tempat ini...

Pernah satu kali, Dina, teman kantor saya datang, ketika magrib dan akan ambil wudhu, mila, idho dan ningar sedang mengaji. Besoknya dia bercerita ke seisi kantor kalo saya ngekos di pesantren hahahaha. Dan kami gak sealim penampian kami kok, kami benar-benar manusia biasa, remaja pada umumnya, tampilan kami muslimah tulen :D tapi kami juga punya sisi ‘nakal’ yang biar kami aja yang tau. 

Kami benar-benar menghargai prinsip individual masing-masing. Pun ketika satu masalah pelik menimpa salah satu dari kami. Atau ketika mila berpindah haluan jadi ukhti-ukhti hehehe, dia masih mau dengar curhatan kami soal lelaki, tanpa menjudge kami macam-macam. Dia yang gak kenal lagi istilah ‘pacaran’ masih mau dengar keluh kesah saya soal ‘pacar’. Buat saya mila itu luar biasa,saya belajar banyak hal dari dia, dan sahabat saya itu akan menikah. Itu keinginan sejak lama, menikah di usia 24, tanpa tahu siapa calonnya, terbayangpun tidak. Dan tahu-tahu dia akan menikah, saya iri-iri bahagia... hehehe

Biarpun saya sesepuh disini, adek-adek saya seperti ninggar, ido dan dewi bisa ngajarin saya buat jadi lebih dewasa, mereka punya sisi indah masing-masing. Saya senang bisa dekat dengan mereka, bisa kenal dan merasakan ketulusan mereka, kesabaran mereka, kelembutan hati mereka, kenakalan mereka, kejutekan mereka. (duwh..kok jadi mbrebes mili yaa...)
Look!! That's our future!!


Oh, sebelum mila pergi, sempat terjadi segmentasi posisi kamar kami, deret kamar saya adalah deret wanita karir, waktu itu Cuma saya dan hesti yang memang sibuk bekerja, deret seberang saya adalah wanita gak jelas hahahahaha, ada dewi, neni dan fuah, mereka sering gak ada dikos dan gak jelas juntrungannya pergi kemana. Kehadiran fuah lagi seperti ada dan tiada ^.^v. Deretan kamar yang dihuni mila, ido dan ninggar adalah penjaga kos, mereka jarang absen, pergi Cuma kalo benar-benar ada perlu hohohoho.
Mila's Farewell party


Ini saatnya saya pergi, 4 tahun yang indah bersama sendok jaya, mereka adalah bagian dari kesuksesan saya, mereka akan selalu ada di hati saya.




Jogja,Kos Sendok Jaya, Kamar ido, pake laptop ido, soalnya barang-barang di kamar udah di packing semua :D

Terimakasih yaa semua, terimakasih...


Selengkapnya...

Liburan Ala Koper Pake Ransel (part 1, Alila Hotel-Ubud)


Gimana ceritanya saya bisa sampai kesini? Buat saya itu keajaiban, pernah dengar the secret? mungkin semacam itulah. Saya benar-benar bermimpi bisa ke ubud. 2 hal yang paling mendorong saya kesana: Film Eat, Pray, Love dan Novel Perahu Kertas. dua hal itu bikin saya gila tentang ubud. sudah sering dengar dan browsing. tapi saya benar-benar ingin membuktikan dengan mata saya sendiri kemolekkan Ubud.

Dan tiba-tiba kesempatan itu seperti tergeletak di meja kerja saya: Paket 'Liburan' include tiket PESAWAT PP dan menginap TIGA MALAM di Ubud. Such a crazy things, eh? Saya benar-benar bersyukur karenanya.


Ini bukan paket liburan biasa, tempat-tempat yang saya datangi pun tidak biasa, tidak seperti travel agent lain. nanti satu-satu saya ceritakan. Sekarang, saya mau cerita hotel cantik tempat saya menginap dulu. Saya search di google tempat ini, mengunjungi websitenya, melihat foto-fotonya. Wow...luar biasa. eh sekedar info, foto-foto dalam tulisan saya ini bukan dari web ya, tapi milik kawan saya, diambil langsung dari TKP ketika saya berkunjung kesana. mau tau tarifnya? cek saja lah di web. saya pun melongo melihatnya. Orang udik yang biasa traveling pake kereta ekonomi tiba-tiba disuguhi hotel (saya gak tau bintang berapa) yang tarifnya dollar!!


Sore hari saya sampai di Ubud, setelah sebelumnya mampir ke benoa dan GWK. Akses ke hotel dari jalan umum relatif jauh, sebenarnya hotel menyediakan shuttle bus untuk pengunjung. Bis pariwisata kami yang besar itu gak bisa masuk, karena rombongan banyak jadi yaaa...ganti-gantian lah naik mobilnya. Karena baru saja sampai, kami masih bersemangat. Jalan kaki lah kami dari depan sampai ke lokasi hotel. Jangan tanya pemandangannya, kayak di ungaran sih hahahaha, tapi beda loh, atau mungkin karena saya cuma terbawa suasana aja? saya juga gak tau pasti.


Perjalanan menuju Alila Hotel, karena gak sabar nunggu jemputan kami jalan kaki deh :-)


Kesan pertama masuk hotel: kayak dibawa ke kompleks perumahan dengan konsep etnik minimalis (apa ssiiiihhh) forget it. saya gak ngerti apa-apa soal konsep rumah. ya pokoknya gtu, jadi kamar kami itu ada di semacam rumah-rumah mungil. Karena lahannya luas jadi bangunan di kawasan ini cuma 2 lantai aja, trus kontur tanah yang bertingkat-tingkat itu dimanfaatkan dengan baik. Kamar saya nomor 219. Mau tau kayak apa? foto dibawah bukan kamar saya, tapi kurang lebih begini lah. Hotel ini sempurna buat honeymoon. Jangan tanya ya apa yang saya pikirkan hahahahaha
Kamar-kamar hotel, dua tingkat, kamar saya di bagian atas.

Sisi sebelah dalam.

Kamar saya kurang lebih begini, asik yaa...

Kamar saya di bagian tengah hotel, tapi berbatasan langsung dengan pepohonan. tempat tidur saya langsung menghadap pintu dan dinding kaca, Huaahhh....andai sedang bulan madu, saya yakin saya gak akan keluar kamar. (baiklah, mulai ngelantur). Dan jangan salah sangka, saya sekamar sama dua teman saya. Jenis kelaminnya perempuan.
Pemandangan dari tempat tidur saya

Intinya, kamar saya seperti benar-benar diciptakan untuk orang bulan madu, Kamar mandinya? gak bisa dikunci, pintunya dobel, dan dari luar kita bisa ngintip kedalam. Shower ada di sebelah kiri kamar mandi, gak keliatan kali ada yang ngintip, tapi dinding sebelah shower terbuat dari kaca, gak langsung tembus keluar, ada dinding batunya kok, lantai shower dari batu alam juga, serasa mandi di air terjun pokoknya.
Shower, kalo kamar saya ada dinding kaca dan dinding batu, bukan kayu seperti di foto

Suasana sekitar kamar, dan hotel benar-benar menyatu dengan alam. Pepohonan rindang, udara sejuk. Eh, saya juga sering melihat tupai lari-larian di pepohonan loh, keliatan jelas dari kamar saya. Buat yang mau jalan-jalan ke ubud, hotel juga menyediakan shuttle ke pusat ubud, nanti diantar jemput kok. Kalo saya? ya naek bus lah, kan ikut rombongan.
Sepeda yang jadi fasilitas hotel, saya lagi ngantri pengen pinjam (-.-')

Serunya lagi, kolam renang cantik milik alila ini airnya gak dingin. Saya gak bohong, saya berenang pagi-pagi sekali dan gak merasa kedinginan, gak tau airnya dihangatkan atau gimana. Kawan-kawan saya juga berenang malam-malam dan gak dingin. Padahal yang udah pernah ke ubud pasti tau donk udara disana kayak apa? Tapi saran saya kalo mau berenang pagi-pagi aja, biar bisa liat pemandangan, kalo malem gelap banget.



Tampaknya hotel ni sempurna banget yaa.... Gak juga, saya punya kritik, cuma 1: Menu sarapan. Bukan apa-apa yaa... masa 3 malem saya disana menu sarapannya gak pernah ganti? ada bubur ayam, mi goreng, nasi goreng, roti dan croisant, buah potong. Udah, itu aja dan itu-itu melulu. Yaa,,enak sihh tapi kaaannnn bosen. Boleh lah ada menu tetap, tapi ada juga donk yang diganti.... soal rasa saya gak akan komen, sebanding kok dengan hotelnya. keanekaragaman menu sarapan aja yang kurang.
Nasi goreng, mi goreng, bubur

Buah potong, roti dan croissant

Breakfast time... me and my friends

Oohh, ada lagi yang kurang, sbenernya sih gak gitu saya rasakan, tapi buat info aja. Kamar saya gak ada tivinya!!!! diatas bed ada semacam pintu lemari dari kayu, saya pikir itu tivi, eh gak taunya dooonnnkkk... JENDELA, sial!! hahahaha, saya sih gak pusing, toh saya ke ubud juga bukan buat nonton tivi hehehe

And, What is the conclusion? Alila is a great hotel, Yap! Really great!!
Selengkapnya...

Mitos dan Primbon Jawa Dalam Otak Saya

Sore ini saya tergelitik untuk menulis apa yang sering say apikirkan tentang mitos. Saya hidup dan besar di lingkungan yang penuh mitos dan legenda, maklum orang jawa. Di sisi lain saya boleh berbangga karena ibu saya membekali saya dengan ilmu agama yang cukup (atau malah kurang saya gak tau pasti) intinya saya tau rukun iman, rukun islam dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Hahahaha (hhhmmm…..ada saat dimana kondisi ini saya rasakan agak menyedihkan)

Well, selama ini saya gak pernah pusing dengan namanya perbedaan. Sudah berulang kali saya cerita, keluarga saya teramat plural, berbagai macam suku dan agama bersatu dan rukun di dalamnya pokoknya bhinneka tunggal ika. Merdeka!

Jadi begini, saya Cuma ingin ‘berdamai’ dengan setiap adat istiadat suatu daerah tertentu. Terutama adat istiadat jawa. Saya lelah ketika saya harus berdebat panjang dengan orang lain atau diri saya sendiri ketika adat istiadat itu dihubungkan dengan halal-haram, musyrik, atau syirik. Kenapa? Saya kan (calon) peneliti sosial (aamiin Ya Robb) kalo saya berkutat dengan itu apa saya gak digamparin massa? Contoh: di suatu daerah menggelar upacara adat sebelum masa tanam padi, banyak sesajen untuk Dewi Sri, apa yang terjadi kalo saya lagi riset disana terus bilang: itu gak boleh!! Kan saya bisa mati (oke, ekstrim) minimal saya gak diterima disana dan gak dapat data. Lagi, kalo dalam hati saya tertanam kebenaran sosial biner bukankah laporan riset saya bakal condong ke arah tertentu dan jadi subyektif?

Jadi, jangan terlalu negatif memandang apa yang saya pilih, saya ingin ada di tengah, (lagi) sebagai (calon) peneliti sosial (aamiin Ya Robb). Selebihnya, urusan agama biar menjadi urusan saya pribadi, hhmmm, saya dan Allah SWT.

Mitos di Jawa ni unik-unik loh. Pernah dengar mitos orang hamil harus selalu bawa peniti di bajunya?? Percaya? Hahahaha. Begini, ini adalah adat istiadat turun-temurun diJawa. Katanya ini berguna untuk mengusir mbak kunti yang bakal ganggu ibu hamil. Dan si mbak kunti itu takut sama benda tajam. Kata orang yang ‘bisa lihat’ memang mbak-mbak kunti itu suka sama bayi, jadi dia gangguin ibu hamil itu buat ngambil bayinya. Banyak-banyak berdoa biar gak diganggu, yaaa…. Kalo gitu, saya gak akan nulis. Nah, bagaimana saya menerima hal itu dengan lapang dada? Saya dulu sinis loh ‘kayak gitu kok dipercaya’. Hasilnya? Saya balas ditatap sinis sama nenek saya ‘iki ki ajarane wong tuo!’ (ini itu ajaran orang tua) nah looo,,,saya menyakiti hatinya.


Akhirnya, pemikiran saya begini, ketika kita diganggu nyamuk kita pasti pakai anti nyamuk kan? Mau yang semprot, elektrik, atau yang oles. Bisa juga memakai tumbuhan Zodia, yang mengeluarkan aroma yang gak disukai nyamuk. Bagaimana kalo kita menganalogikan mbak kunti sebagai nyamuk? Nah anti nyamuknya ya peniti dan benda tajam lainnya itu? Simple kan?? :D


Saya juga pernah heran, bayi-bayi tetangga saya seringkali memakai gelang dan ‘perhiasan’ dari bengle, bengle itu semacam rempah-rempah dan baunya gak enak. Katanya ‘biar gak kena sawan’ heloooo…. Saya sendiri gak ngerti loh contoh kongkrit dari kena sawan itu gimana. Pernah lihat bayi seringkali fokus ke arah tertentu, memperhatikan sesuatu, kemudian tertawa atau menangis sendiri? Ini ada hubungannya dengan contoh kasus pertama dan perhiasan bengle tadi. Nah, selain benda tajam, mbak kunti juga gak suka bau bengle ini. Itu sih simplenya. Sepupu saya si wiki, dulu juga begitu, yang sering dia perhatikan, diatas lemari. Tapi tante saya gak kasi bengle, ya tiap masuk kamar didoakan, baca an-naas sampai al-ikhlas dulu. Sekarang udah gak begitu. Ini cara saya berdamai dengan mitos yaa… mau dipake yang mana sih terserah aja.

Lain lagi soal PRIMBON dulu saya Cuma buat lucu-lucuan loh baca ramalan primbon. Tapi sekarang saya banting stir menjadi pengagum primbon. Serius. Begini, malu saya mengakuinya. Lagi-lagi tentang sepupu saya, Wiki. Wiki itu, tepat lahir pada tanggal 1 Muharram, 1 suro kalo orang jawa bilang. Nah, menurut tradisi jawa orang tua anak harus mengadakan ritual ini itu demi keselamatan si anak. Hari ini hari keramat sih. Belum juga katanya anak ini nantinya cenderung ‘sulit’, kemauannya keras dll. Kebanyakan berkembangnya ke arah negatif. Bude dan ibu saya bilang, untuk menenangkan om dan tante saya “yaahh, orang dulu yang lahirnya suro kebanyakan begitu”.

Itu jadi tamparan keras loh buat saya. Saya malu sudah sinis sama yang namanya ajaran primbon. Kenapa orang bisa menyimpulkan anak yang lahir bulan suro nantinya begini? Karena kebanyakan orang jawa jaman dahulu yang lahir bulan suro pasti begitu. Ini adalah satu bentuk penelitian sosial sederhana yang dilakukan oleh nenek moyang orang jawa!!! Iya kan? Mereka gak gak bisa menyimpulkan begini kalo mereka gak memperhatikan dengan seksama latar belakang hari kelahiran mereka. Banyangkan mereka punya kesimpulan karakter manusia secara rinci dalam 360an hari. Berikut pekerjaan yang umumnya mereka lakoni serta sukses di dalamnya. Pernah membayangkan berapa jumlah sampel dan lama penelitiannya? Ada yang mau iseng bikin contoh proposal penelitian PRIMBON biar jadi tampak sedikit ilmiah? Hehehehe…

Sekarang saya masih mencari jawaban bagian mana dari primbon yang dulu saya anggap mistis. Entah kenapa saya jadi bingung.

Saya kasih satu contoh sangat sederhana, pernah kan kita men-judge orang begini “orang itu mukanya kayak penjahat” “jangan dideketin, muka playboy” seorang sahabat saya yang waktu itu belum kuliah psikologi aja bisa mencap pacar sya ketika itu dengan kalimat begini “kayaknya kok dia pembohong ya?”. Pikirkan kenapa kita bisa memberi kesimpulan begitu: karena kebanyakan penjahat punya tampang khas, karena playboy punya wajah, sikap, dan tatapan mata tertentu, karena pembohong….. (ohh,oke, saya belum tau kriteria muka pembohong). Iya kan? Saya ingat ketika kuliah sosiologi kriminal, saya diterangkan bahwa sebagian besar kriminal mempunyai struktur tulang dagu, tulang rahang dan tulang dahi tertentu. Ini adalah ilmu kriminal. Dan primbon pun begitu, gak ada bedanya kan? Masihkan menganggap mistis primbon itu? Kalo saya gak, anda sih terserah :D

Ada lagi, ketika saya ke Bontang bulan lalu, kami sedang sarapan di Bontang kuala, mau menuju pulau beras basah. Di sebuah warung nasi kuning. Ibu penjual warung itu bercerita, kalai di pulau beras basah ada pohon pandan yang banyak tali-nya, tempat orang minta hajat, beliau bilangnya. Lebih lanjut, ibu itu bercerita begini, ketika orang itu punya hajat ia akan datang ke pulau beras basah dan mengikatkan tali ke pohon pandan itu, dan orang itu biasanya akan berjanji kalau hajat atau keinginannya terpenuhi ia akan kembali ke beras basah dan lelepas tali yang ia ikatkan. Apakah pohon pandan itu yang mengabulkan permohonan?

Pandan tempat mengikat tali, bukan di pohon pandannya ternyata (-.-')
@pulau Beras Basah
Biasa kita akan termakan mentah-mentah kan? Pasti kita beranggapan itu pohon keramat. Teman saya ada yang gak berani foto disana? Saya?? Berani dooonkkk, gak ada yang mistis. Kenapa? Saya mencoba berpikir realistis. Menurut saya ini adalah sebuah nadzar, contoh saya punya keinginan, misalnya saja saya pengen punya apartemen, terus saya ikatkan tali di pohon itu, dan saya berjanji pada diri saya, kalo saya nanti punya apartemen saya akan kembali ke beras basah untuk melepas tali. Ini semacam nadzar kan? Ibu penjual nasi kuning itu juga bilang, “yah percaya gak percaya ya mbak” lah, menurut saya sih justru terlalu jauh kalo kita percaya pohon itu yang akan mengabulkan permintaan kita, itu sih jelas gak masuk akal. Saya sempat loh ingin mengikatkan tali, tapi saya mikir lagi, dari jawa ke bontang biayanya mahal, pesawat ke balikpapan PP, taksi ke bontang PP, sewa perahu ke beras basah, waduh….akhirnya saya gak jadi ikatin tali hehehehe.

Masih banyak yang bisa dibahas, tapi nanti bisa jadi novel. Kenapa sih saya nulis begini? Alasan saya sederhana, saya gak mungkin gak menghormati tradisi nenek moyang saya yang sudah trun temurun, kedua saya gak mau terlalu terbebani dengan cap musyrik, syirik dll karena dosanya besar dan tidak terampuni, makanya saya merubah pemikiran saya, selain sebagai (calon) peneliti sosial tentunya. 

Nah, saya senang bisa berdamai dengan tradisi Jawa yang indah dan penuh santun ini, saya jadi makin ingin tahu lebih banyak, saya yakin ada alasan sangat logis dari setiap adat dan tradisi jawa, bukan hanya berujung dengan kata ‘ora elok’, gak ada asap tanpa api, saya yakin itu.

>>>relevansi primbon jaman sekarang memang perlu ditelusuri lebih lanjut, primbon adalah penelitian jaman dulu, pengambilan sampel masyarakat jawa yang masih kental dengan tradisi dan adat jawa. Saya masih belum tau apakan primbon juga berlaku untuk etnis lain atau orang jawa yang sudah lama tinggal diluar jawa dengan adat istiadat berbeda. Mungkin intuk etnis tionghoa ini seperti Feng shui.
Selengkapnya...

Laporan SPT pertama saya

Semua ini berawal dari group alumni SMA N 4 Semarang di facebook, yang merencanakan reuni lagi.

Kawan saya, yang bekerja di dirjen pajak mengingatkan kami untuk segera melaporkan SPT bagi yang sudah mempunyai NPWP, naahh... saya lah salah satunya. Langsung saya tanyakan bagaimana tata cara penyampaian SPT itu.
NPWP milik saya

Ketika saya memberitahukan kepada teman kerja saya, yang sama-sama punya NPWP, dia langsung mendadak heboh, banyak sekali pertanyaan, karena gaji bulanan kita tidak pernah dipotong pajak. Entah kenapa saya jadi ikut-ikutan membayangkan yang tidak-tidak. Menurut teman saya juga, batas penghasilan kena pajak adalah Rp 15.840.000/tahun. Kami mendadak takut ditangkap polisi lah, takut didenda ini itu lah hahahahaha.


Sebenarnya saya membuat NPWP juga karena rencana konyol: Ingin backpackeran ke Kuala Lumpur biar gak bayar fiskal :p (saya pikir itu gak konyol tapi)

Nah,,, jadilah saya pusing tuju keliling. Sampai tadi pagi, 29 Maret 2011. jam 8 pagi saya sudah ada di kantor pajak, meminta formulis SPT berikut buku petunjuk pengisian.

Terburu ke kantor, dan lapar saya dan teman saya langsung pulang dan berniat mengisi SPT di kantor. Ternyataa....kami betul-betul gak ngerti apa yang tertulis di SPT dan buku petunjuk, pusing seketika!!!

Teman kerja saya yang lain tertawa-tawa melihat kami kebingungan, dan sepertinya dari wajahnya tapak seperti berkata "rasain, untung aku gak punya NPWP". Melihat dia begitu, kami mendadak sombong. "hei, kita adalah supervisor disini, kalau kuesioner gila itu bisa kita taklukkan kita pasti bisa mengisi SPT ini"

Tapi ternyataa....

buku petunjukknya tidak lengkap!!!! banyak istilah tidak dijelaskan dalam buku petunjuk, hei, bagaimana kami bisa mengerti?!!

Hopeless, kami hanya mengisi kolom NPWP dan nama, lalu kami kembali ke kantor pajak, berniat mau menanyakan. untung di loket penyerahan SPT terdapat bagian konsultasi, nah jadilah kami mengisi SPT di bagian konsultasi itu.

Ternyata, batas penghasilan kena pajak 15,8 juta adalah setelah dikalikan norma pajak 35 persen (untuk freelance norma pajaknya sebesar itu) hasilnya? tentu saja penghasilan kena pajak kami masih jauh dibawah itu hahaha. Pajak kami NIHIL.

Kami pulang dengan tertawa-tawa, berbahagia karena kami belom harus membayar pajak. dan sepanjang jalan ke kantor kami bergosip tentang oknum-oknum pemangkir pajak, kami pusing membayangkan berapa angka nol yang dimiliki pemangkir itu kalau dia menunggak pajak sekian milyar.

Yang saya heran, apa dia gak malu ya gak mau bayar pajak. Pajak itu persentasenya kecil sekali looh dari pendapatan kita, ckckckck...


Hari ini saya merasa bangga sama diri saya sendiri, saya merasa sebagai warga negara yang baik. Saya sempat berpikir kok negara kejam banget majekin saya yang gajinya cuma cukup buat hidup bujangan. Ternyata enggak, sebagai freelance saya harus punya penghasilan lebih dari 50juta pertahun baru saya suruh bayar pajak yang totalnya cuam 800.000 saja. jumlah itu gak seberapa kaaan?

Saya juga gak peduli kalau kelak saya sudah harus bayar pajak, pajak saya lantas diselewengkan. Itu sih urusan mereka, saya gak mau cari perkara dengan tidak sesuai aturan. Apalagi biasanya pelanggar aturan yang terkena hukuman adalah orang-orang yang gak punya power buat menyogok ini itu. So, hari gini gak lapor SPT? Apa kata dunia?

Oia, tadi setelah saya terima bukti pelaporan SPT, mbak-mbak di loket bilang sama saya "Tahun depan, lapor lagi ya mbak" :D

Selengkapnya...