Mitos dan Primbon Jawa Dalam Otak Saya

Sore ini saya tergelitik untuk menulis apa yang sering say apikirkan tentang mitos. Saya hidup dan besar di lingkungan yang penuh mitos dan legenda, maklum orang jawa. Di sisi lain saya boleh berbangga karena ibu saya membekali saya dengan ilmu agama yang cukup (atau malah kurang saya gak tau pasti) intinya saya tau rukun iman, rukun islam dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Hahahaha (hhhmmm…..ada saat dimana kondisi ini saya rasakan agak menyedihkan)

Well, selama ini saya gak pernah pusing dengan namanya perbedaan. Sudah berulang kali saya cerita, keluarga saya teramat plural, berbagai macam suku dan agama bersatu dan rukun di dalamnya pokoknya bhinneka tunggal ika. Merdeka!

Jadi begini, saya Cuma ingin ‘berdamai’ dengan setiap adat istiadat suatu daerah tertentu. Terutama adat istiadat jawa. Saya lelah ketika saya harus berdebat panjang dengan orang lain atau diri saya sendiri ketika adat istiadat itu dihubungkan dengan halal-haram, musyrik, atau syirik. Kenapa? Saya kan (calon) peneliti sosial (aamiin Ya Robb) kalo saya berkutat dengan itu apa saya gak digamparin massa? Contoh: di suatu daerah menggelar upacara adat sebelum masa tanam padi, banyak sesajen untuk Dewi Sri, apa yang terjadi kalo saya lagi riset disana terus bilang: itu gak boleh!! Kan saya bisa mati (oke, ekstrim) minimal saya gak diterima disana dan gak dapat data. Lagi, kalo dalam hati saya tertanam kebenaran sosial biner bukankah laporan riset saya bakal condong ke arah tertentu dan jadi subyektif?

Jadi, jangan terlalu negatif memandang apa yang saya pilih, saya ingin ada di tengah, (lagi) sebagai (calon) peneliti sosial (aamiin Ya Robb). Selebihnya, urusan agama biar menjadi urusan saya pribadi, hhmmm, saya dan Allah SWT.

Mitos di Jawa ni unik-unik loh. Pernah dengar mitos orang hamil harus selalu bawa peniti di bajunya?? Percaya? Hahahaha. Begini, ini adalah adat istiadat turun-temurun diJawa. Katanya ini berguna untuk mengusir mbak kunti yang bakal ganggu ibu hamil. Dan si mbak kunti itu takut sama benda tajam. Kata orang yang ‘bisa lihat’ memang mbak-mbak kunti itu suka sama bayi, jadi dia gangguin ibu hamil itu buat ngambil bayinya. Banyak-banyak berdoa biar gak diganggu, yaaa…. Kalo gitu, saya gak akan nulis. Nah, bagaimana saya menerima hal itu dengan lapang dada? Saya dulu sinis loh ‘kayak gitu kok dipercaya’. Hasilnya? Saya balas ditatap sinis sama nenek saya ‘iki ki ajarane wong tuo!’ (ini itu ajaran orang tua) nah looo,,,saya menyakiti hatinya.


Akhirnya, pemikiran saya begini, ketika kita diganggu nyamuk kita pasti pakai anti nyamuk kan? Mau yang semprot, elektrik, atau yang oles. Bisa juga memakai tumbuhan Zodia, yang mengeluarkan aroma yang gak disukai nyamuk. Bagaimana kalo kita menganalogikan mbak kunti sebagai nyamuk? Nah anti nyamuknya ya peniti dan benda tajam lainnya itu? Simple kan?? :D


Saya juga pernah heran, bayi-bayi tetangga saya seringkali memakai gelang dan ‘perhiasan’ dari bengle, bengle itu semacam rempah-rempah dan baunya gak enak. Katanya ‘biar gak kena sawan’ heloooo…. Saya sendiri gak ngerti loh contoh kongkrit dari kena sawan itu gimana. Pernah lihat bayi seringkali fokus ke arah tertentu, memperhatikan sesuatu, kemudian tertawa atau menangis sendiri? Ini ada hubungannya dengan contoh kasus pertama dan perhiasan bengle tadi. Nah, selain benda tajam, mbak kunti juga gak suka bau bengle ini. Itu sih simplenya. Sepupu saya si wiki, dulu juga begitu, yang sering dia perhatikan, diatas lemari. Tapi tante saya gak kasi bengle, ya tiap masuk kamar didoakan, baca an-naas sampai al-ikhlas dulu. Sekarang udah gak begitu. Ini cara saya berdamai dengan mitos yaa… mau dipake yang mana sih terserah aja.

Lain lagi soal PRIMBON dulu saya Cuma buat lucu-lucuan loh baca ramalan primbon. Tapi sekarang saya banting stir menjadi pengagum primbon. Serius. Begini, malu saya mengakuinya. Lagi-lagi tentang sepupu saya, Wiki. Wiki itu, tepat lahir pada tanggal 1 Muharram, 1 suro kalo orang jawa bilang. Nah, menurut tradisi jawa orang tua anak harus mengadakan ritual ini itu demi keselamatan si anak. Hari ini hari keramat sih. Belum juga katanya anak ini nantinya cenderung ‘sulit’, kemauannya keras dll. Kebanyakan berkembangnya ke arah negatif. Bude dan ibu saya bilang, untuk menenangkan om dan tante saya “yaahh, orang dulu yang lahirnya suro kebanyakan begitu”.

Itu jadi tamparan keras loh buat saya. Saya malu sudah sinis sama yang namanya ajaran primbon. Kenapa orang bisa menyimpulkan anak yang lahir bulan suro nantinya begini? Karena kebanyakan orang jawa jaman dahulu yang lahir bulan suro pasti begitu. Ini adalah satu bentuk penelitian sosial sederhana yang dilakukan oleh nenek moyang orang jawa!!! Iya kan? Mereka gak gak bisa menyimpulkan begini kalo mereka gak memperhatikan dengan seksama latar belakang hari kelahiran mereka. Banyangkan mereka punya kesimpulan karakter manusia secara rinci dalam 360an hari. Berikut pekerjaan yang umumnya mereka lakoni serta sukses di dalamnya. Pernah membayangkan berapa jumlah sampel dan lama penelitiannya? Ada yang mau iseng bikin contoh proposal penelitian PRIMBON biar jadi tampak sedikit ilmiah? Hehehehe…

Sekarang saya masih mencari jawaban bagian mana dari primbon yang dulu saya anggap mistis. Entah kenapa saya jadi bingung.

Saya kasih satu contoh sangat sederhana, pernah kan kita men-judge orang begini “orang itu mukanya kayak penjahat” “jangan dideketin, muka playboy” seorang sahabat saya yang waktu itu belum kuliah psikologi aja bisa mencap pacar sya ketika itu dengan kalimat begini “kayaknya kok dia pembohong ya?”. Pikirkan kenapa kita bisa memberi kesimpulan begitu: karena kebanyakan penjahat punya tampang khas, karena playboy punya wajah, sikap, dan tatapan mata tertentu, karena pembohong….. (ohh,oke, saya belum tau kriteria muka pembohong). Iya kan? Saya ingat ketika kuliah sosiologi kriminal, saya diterangkan bahwa sebagian besar kriminal mempunyai struktur tulang dagu, tulang rahang dan tulang dahi tertentu. Ini adalah ilmu kriminal. Dan primbon pun begitu, gak ada bedanya kan? Masihkan menganggap mistis primbon itu? Kalo saya gak, anda sih terserah :D

Ada lagi, ketika saya ke Bontang bulan lalu, kami sedang sarapan di Bontang kuala, mau menuju pulau beras basah. Di sebuah warung nasi kuning. Ibu penjual warung itu bercerita, kalai di pulau beras basah ada pohon pandan yang banyak tali-nya, tempat orang minta hajat, beliau bilangnya. Lebih lanjut, ibu itu bercerita begini, ketika orang itu punya hajat ia akan datang ke pulau beras basah dan mengikatkan tali ke pohon pandan itu, dan orang itu biasanya akan berjanji kalau hajat atau keinginannya terpenuhi ia akan kembali ke beras basah dan lelepas tali yang ia ikatkan. Apakah pohon pandan itu yang mengabulkan permohonan?

Pandan tempat mengikat tali, bukan di pohon pandannya ternyata (-.-')
@pulau Beras Basah
Biasa kita akan termakan mentah-mentah kan? Pasti kita beranggapan itu pohon keramat. Teman saya ada yang gak berani foto disana? Saya?? Berani dooonkkk, gak ada yang mistis. Kenapa? Saya mencoba berpikir realistis. Menurut saya ini adalah sebuah nadzar, contoh saya punya keinginan, misalnya saja saya pengen punya apartemen, terus saya ikatkan tali di pohon itu, dan saya berjanji pada diri saya, kalo saya nanti punya apartemen saya akan kembali ke beras basah untuk melepas tali. Ini semacam nadzar kan? Ibu penjual nasi kuning itu juga bilang, “yah percaya gak percaya ya mbak” lah, menurut saya sih justru terlalu jauh kalo kita percaya pohon itu yang akan mengabulkan permintaan kita, itu sih jelas gak masuk akal. Saya sempat loh ingin mengikatkan tali, tapi saya mikir lagi, dari jawa ke bontang biayanya mahal, pesawat ke balikpapan PP, taksi ke bontang PP, sewa perahu ke beras basah, waduh….akhirnya saya gak jadi ikatin tali hehehehe.

Masih banyak yang bisa dibahas, tapi nanti bisa jadi novel. Kenapa sih saya nulis begini? Alasan saya sederhana, saya gak mungkin gak menghormati tradisi nenek moyang saya yang sudah trun temurun, kedua saya gak mau terlalu terbebani dengan cap musyrik, syirik dll karena dosanya besar dan tidak terampuni, makanya saya merubah pemikiran saya, selain sebagai (calon) peneliti sosial tentunya. 

Nah, saya senang bisa berdamai dengan tradisi Jawa yang indah dan penuh santun ini, saya jadi makin ingin tahu lebih banyak, saya yakin ada alasan sangat logis dari setiap adat dan tradisi jawa, bukan hanya berujung dengan kata ‘ora elok’, gak ada asap tanpa api, saya yakin itu.

>>>relevansi primbon jaman sekarang memang perlu ditelusuri lebih lanjut, primbon adalah penelitian jaman dulu, pengambilan sampel masyarakat jawa yang masih kental dengan tradisi dan adat jawa. Saya masih belum tau apakan primbon juga berlaku untuk etnis lain atau orang jawa yang sudah lama tinggal diluar jawa dengan adat istiadat berbeda. Mungkin intuk etnis tionghoa ini seperti Feng shui.
Selengkapnya...

Siang kami yang gamang...

Ini survey terakhir RUMiCI, tahun ke empat, dan tahun ketiga saya bergabung disini, dan sya tidak pernah pindah region. Salalu di SAMARINDA. Saya sampai hafal beberapa bagian kota ini sampai ke sudut-sudutnya, dalam 3 tahun 5 kali sudah saya ke ibukota Kalimantan Timur ini.

Beskem kami, di jl. Perjuangan, dekat sekali dengan kampus Universitas Mulawarman, kawasan hunian mahasiswa, banyak makanan. Demi Tuhan saya gak pernah berhhenti makan, hahahaha. Nafsu makan saya sangat baik. Air lancar mengalir, tidak seperti tahun lalu dimana kami harus beli air tiap 2 hari sekali untuk mandi dan mencuci.

Tim samarinda ada 18 orang, terdiri dari 1 orang RC, bu Muji; 2 SPV saya dan Uline; 1 Field SPV Asri, 2 orang Puncher Mas danny dan mb Popon, serta 12 orang enumerator. Saya gak bohong 12 orang enum itu sepertinya gak ada yang beres, huahahaha. Mungkin kami semua gak beres, eh bu Muji tidak termasuk ya di dalamnya, beliau adalah yg terhebat diantara yg terhebat.

Hari-hari pertama survey, kami sempat membuat cemas asri. Waktu itu, hari kedua survey, saya ingat betul, kami sedang makan siang dan anak-anak tengah mengeksekusi daerah bukuan, daerah ini sangat jauh dari peradaban. Peradaban kami maksudnya (kalo peradabannya ulin sih deket banget, ulin adalah preman daerah sana hehehehe ^^v). jalanan banyak berlubang karena sering keluar masuknya peti kemas. Ketika kami tim officer sedang makan siang di Seliur. Bu muji menelpon saya dari beskem, beliau Cuma diam, saya heran, saya sudah halo-halo berkali-kali. Akhirnya saya menutup telponnya, takut bu muji salah pencet. Menurut bu muji, hapenya yg Iphone3 itu terlalu canggih untuk beliau yg gaptek. Saya melanjutkan makan, tapi tiba-tiba mas danny menerima telpon entah dari siapa, setelah ditutup dengan raut wajah yg tidak saya mengerti artinya dia bilang:

“tau gak? Ada enum tangerang kecelakaan…….”


………………jeda, saya masih mengartikan raut wajahnya


“terus…………” lanjutnya lagi, saya menyimak sambil makan


“…………meninggal…….” Dan nafsu makan saya hilang seketika, saya seketika ingin menangis, memikirkan anak-anak di lapangan, dan mbak Izzah…



Kami disitu, mbk popon, ulin, diah, fitri termasuk mas danny diam dalam pikiran kami masing-masing. Fitri langsung menanyakan pada rekan enum di tangerang, saya langsung sms mbak norma, ingin rasanya menelpon mbak izzah, tapi saya bingung harus bicara apa. Kabar dari tangerang sampai, dari Okta salah satu enumnya, dia menceritakan kalau yang kecelakaan itu adalah bang Yanto, Field Supervisor tangerang, kabarnya tertabrak kereta. Badan saya bergetar, saya mati-matian menahan air mata, saya langsung sms ibu saya, sms mas, bermaksud melegakan hati saya. Dan kami serentak langsung ingat pada asri, field supervisor kami. Cuma satu yang bisa kami bilang pada asri dan enum kami: HATI-HATI.

Kami melanjutkan makan dengan perasaan gamang, memikirkan kawan-kawan kami, memikirkan mbak izzah dan Eka, memikirkan pak TNE juga pak Chris yang saat itu ada pada waktu kejadian. Ya Tuhan…..hati saya habis rasanya, sebegitu dekatkah pekerjaan kami pada maut? Mungkin selama ini kami tidak pernah memikirkannya.

Pulang ke beskem, saya menemukan bu muji diam termenung, matanya merah dan basah oleh air mata, saya hubungi mbak norma, kami sama-sama syok, kami sama-sama memikirkan teman-teman kami. Siang itu kami tidak fokus bekerja, kabar dari teman-teman di lapangan yang saya nantikan. Dan ketika asri sampai ke beskem, dia langsung menumpahkan unek-uneknya. Protes karena dia jadi yang paling dikhawatirkan oleh kami. Saya benar-benar tidak tau harus berbuat apa waktu itu… ini adalah ujian terhebat kami.
Cerita selengkapnya bisa dibaca di tulisan mbak izzah, saya menangis lagi membacanya, salut pada kekuatan hatinya. dibaca disini yaa...
Selengkapnya...

Ethnic Runaway, Tenggarong

Ada 3 hal yang membawa saya dan teman-teman saya kemari. Pertama beban kerja yang hampir selesai, kedua: kawan enumerator yang punya semacam vila disini, dan ketiga: mumpung kami ada di Kalimantan timur dan entah kapan akan kembali lagi.

Pagi itu (Mei 2008) beskem gerilya sudah riuh oleh kawan-kawan, mereka membantu kami membereskan barang bawaan yang akan kami bawa ke tenggarong. Yang idak boleh terlupa adalah: satu peti seafood segar yang diterbangkan langsung dari Tarakan. Kawan saya, jidong, panggilan sayangnya :p yang mensponsori seafood ini. Dia adalah pengusaha tambak di tarakan sana.

Lepas zuhur kami berangkat menuju rumah Irma, inilah starting point kami. Dan vila milik keluarga Irma inilah yang akan kami tumpangi selama di tenggarong. Jadi hari itu kami berangkat bersama orang tua Irma naik mobilnya. Ternyata bawaannya gak kalah heboh, bawa bed cover buanyak, kompor, alat makan berikut bahan makanannya dll :o


Singkat cerita, kami sampai di tenggarong seberang. Vila Irma hanya 100 meter dari sungai Mahakam, yang diujung sana tampak jembatan tenggarong yang mirip golden gate, waktu gelap indah sekali looohhh.

Seperti kebanyakan rumah disini, vila Irma berdiri diatas rawa, saya sempat kuatir banyak nyamuk, tapi ternyata tidak. Asik sekali vilanya, kadang saya seperti merasa rumahnya bergoyang karena arus air rawa dibawahnya. Menyenangkan sampai saya kebelet pipis dan ke toilet, asal tahu saja kamar mandinya outdoor!!!!! Mampus!! Pemandangannya rawa dan ladang milik orang, toiletnya hanya ditutup terpal. Lebih parah dari kamar mandi milik sub unit tetangga waktu saya KKN di Borobudur dulu. Sore itu saya bertekad saya gak akan pup sampai kembali lagi ke samarinda… T.T


Lupakan soal kamar mandi, malam itu selepas magrib kami berpesta!!! Satu peti seafood yang terdiri dari puluhan ekor udang dan ikan GT jadi sasaran keganasan kami, mereka kami goreng dan kami bakar lalu langsung kami habiskan. Tanpa nasi tentunya, saya sudah sering makan nasi hahaha..



Selesai makan, saya gak ikut cuci piring, bukan apa-apa saya liburan membawa laptop dan 10 buah kuesioner yang masih jadi tanggung jawab saya. Malam itu saya lembur, teman2 lain sibuk main kartu dan terlelap. Dini hari, karena udara yang sangat dingin dan efek kekenyangan saya pun tewas dengan sukses, masuk ke kamar akhwat dan melihat kawan2 saya berjejer, saya kebagian tempat paling ujung dan gak kebagian selimut huwaaaa…..akhirnya saya tidur melungker sampai subuh.

Subuh tiba, Cuma cuci muka dan gosok gigi saya berjalan ke tepi sungai Mahakam, menikmati elok dan indahnya jembatan tenggarong yang tampak kecil diujung sana. Dan pagi itu ternoda gara-gara saya yang pengen ke belakang. Oh..mau bagaimana lagi, saya harus menunaikan panggilan alam dengan perawaan was-was. (udah ah, masalah mandi di rawa cukup disini saja)

Jam 9 pagi, saya dan rombongan berjalan ke kota, yang saya lihat pertama adalah stadion utama tenggarong yang tahun 2007 dipergunakan untuk PON. Stadion ini keren banget, sayang gak terawat. Saya Cuma lewat, karena stadionnya gak jauh dari rumah Irma. Tujuan pertama: Museum Mulawarman, Saya sengaja tidak ikut rombongan mobil Irma, saya naek motor bersama teman-teman dengan 1 alasan sederhana: biar saya bisa menyebrang sungai Mahakam naek fery. JAngan banyangkan fery disini seperti yang ada di jawa pada umumnya kapal fery disini hanya kapal kayu biasa yang didorong mesin. Hanya cukup untuk 5 buah motor.



Mampir sejenak di rumah saudara asri (kawan enum saya), kami langsung bergegas ke museum mulawarman. Museum ini adalah bekas istana kerajaan Kutai Kartanegara. Biaya masuknya Cuma 3000 rupiah. Saya bener-bener excited. Apa yang saya lihat di buku sejarah jaman sekolah dulu sekarang ada di depan mata saya, wooowww!! Di depan museum itu terdapat patung lembuswana. Saya kurang paham soal mitos binatang aneh ini. Sepertinya dia adalah semacam hewan peranakan sapi, gajah dan entah burung apa hahahaha. Museum ini tepat di tepi sungai Mahakam, di depan penyeberangan ke pulau kumala. Pulau kumala ini adalah pulau di tengah sungai Mahakam yang digunakan sebagai tempat wisata. Saya tidak kesana, karena waktu liburan kami tidak banyak





Yang kedua, museum kayu, Sebenarnya dari museum mulawarman tadi saya berpisah dari rombongan. Kali ini tinggal saya, jidong, asri, aldo dan mas wisnu yang ke museum kayu. Kami naek motor dari museum mulawarman. Rombongan yang naek mobil sepertinya langsung kembali ke samarinda. Saya gak mungkin mau, mumpung disini bok!! Oke, singkat cerita saya ampai di museum kayu, bangunan khas kaltim, rumah panggung.

Memang museum ini tidak semega museum mulawarman tentu saja. Tapi disini saya bisa tau banyak hal. Berbagai macam tumbuhan dan fungsinya. Berbagai macam jenis kayu berikut kualitasnya.

Gak Cuma itu, di tengah museum ada dua buaya muara raksasa!! Gila!! Baru kali ini saya liat buaya segede itu. Di kaca tempat buaya awetan itu disimpan tertempel kliping Koran ketika buaya itu ditangkap, dia habis menelan orang bulat-bulat!! Mengerikaaannnn….!! Buaya itu sepanjang 4 meter dan dipajang dengan mulut menganga, badan saya yang imut2 ini sih jelas bisa masuk kedalamnya. Tapi saya gak berminat…







Di museum ini kita juga bisa melihat berbagai macam rumah adat dayak, dalam bentuk miniature tentunya. Yang jadi superstar tentu saja potongan kayu yang diameternya sama dengan rentangan tangan saya, jenis kayunya ulin, ini kayu mahal yang kualitasnya sangat baik. Tapi sekarang sudah jarang bisa ditemukan di hutan Kalimantan. Biasa lah kalo sudah tahu harganya mahal ya jadi barang buruan utama.

Menurut saya sih museum ini kurang menarik, gelap dan tampat gak terurus, udah gitu letaknya jauuuhhh ke pelosok, kami nyaris tersasar. Mungkin orang lebih suka jalan ke pulau kumala kali yaa. Pulang dari museum kayu saya diajak jidong ke rumah temannya, disana saya disuguhi kelapa muda fresh from the tree, jidong yang memanjatkannya untuk saya, romantic banget kan? Hahahahaha. Kelapanya enak, lembut, bener-bener kelapa muda lah pokoknya!!!

Oke sekian perjalanan saya ke kabupaten terkaya di Indonesia, suatu saat saya ingin kembali kesini soalnya belum kesampean bawa oleh-oleh batu bara :p
Selengkapnya...

Pantai Drini, Awal Cerita Kami


Pantai ini punya sejuta cerita buat saya. Dari kelas 2 SMA saya sudah tau tentang pantai Drini. Dan pada Febuari 2008 saya baru sempat sampai disana. Jadi dulu, mantan pacar saya pernah punya keinginan mengajak saya berlibur kesana. Karena kabur ke luar kota (ke jogja dari semarang) kala itu belum pernah terlintas di benak saya, maka rencana itu belum pernah terealisasi. Tapi saya sudah sanggup membayangkan keindahan pantai ini dari cerita mantan pacar saya itu, deburan ombak besar yang menabrak karang (khas pantai selatan) dan ada bagian pantai yang tidak terjamah ombak besar karena landai, pasir yang putih dll.

Beberapa tahun kemudian, Febuari 2008 (saya SMA kelas 2 tahun 2003-2004,dan saya sudah lupa dengan pantai ini. Tidak sengaja sebenarnya saya kemari, diajak seorang lelaki yang sedang pedekate sama saya hehehehe.. Menemaninya bersama teman-temannya yang akan megambil sampel pasir dan air laut untuk riset TA-nya.

Target operasi pengambilan sampel adalah pantai-pantai di Gunung Kidul. Pagi hari kami berangkat. Beramai-ramai, padahal yang punya kepentingan Cuma dua orang hahahaha. Saya dijemput di kos jam setengah 8 pagi. Kumpul di kampus D3 Sipil UGM. Ternyata saya cewe sendiri hyaaahhh.... saya sih gak masalah, toh jenis kelamin saya, menurut beberapa orang, fleksibel :p


Kami berangkat sejam kemudian, biasa, ada yang molor. Total perjalanan kota jogja-gunung kidul sekitar 2 jam. Sampai di jalan wonosari salah satu kawan saya ada yang ban motornya bocor. Menunggu lagi. Setelah keluar dari pusat kota wonosari, motor yang saya tumpangi bersama cowo yang naksir saya itu (PD gila) ditilang pak polisi, gara-garanya: Kaca spion motor kecil!! Hahahaha, waktu itu sedang gencar digalakkannya spion standar. Kena deh 20 ribu hehehe...

Awalnya, kami ke pantai baron, hanya sebentar karena gak jadi ambil pasir disana, gak tau th apa alasannya. Lanjut perjalanan, entah kemana, tiba-tiba saya sudah sampai ke pantai yang indah, DeJavu.... entah kenapa sepertinya kok saya pernah kemari, tapi saya lupa dimana. Tanya ke teman ternyata ini pantai drini hwaaahhh.... keingetan mantan saya deeehhh :p


Ada satu bagian pantai yang tenang, ada bangian yang tidak henti diserang ombak besar pantai selatan. Kedua bagian itu terpisah oleh bukit karang yang tinggi dimana sudah disediakan tangga untuk memanjatnya. Fokus saya dan cowo yang naksir saya itu langsung tertuju ke bukit karang itu, dia langsung mengajak saya keatas sana.

Karang ini rimbun sekali oleh pepohonan pantai, dari bawah, saya melihat seperti puing bangunan dan menara pandang diatasnya. Sampai diatas, woooowww, Subhanallah, pemandangan diatas sini luar biasa, saya diam terpaku, saya cinta laut. Saya suka termenung memandang ombak dan laut yang luas, itu membuat saya sangat tenang.



Lama kami berdua diatas karang itu terdiam, saya memandang laut dan tidak peduli dengan orang disamping saya, sepertinya dia mati gaya. Karena biasanya yang memulai obrolan itu saya. Sebenarnya saya kenal dengannya sewaktu awal kuliah, dan baru kembali dekat 2 tahun kemudian, tanpa sengaja, ada kuasa Tuhan didalamnya, misteri, tapi sangat indah....

Saya yang menyadari anehnya kediaman ini, lantas mengajaknya mengobrol panjang lebar, bercerita tentang kegiatan seminggu sebelumnya dimana kami berlibur ke bali. Suasana mulai cair. Teman-teman kami yang lain datang, suasana jadi semakin heboh, mereka sudah selesai mengambil pasir dan air laut untuk sampel riset. Kami lantas berfoto ramai-ramai dan tertawa-tawa menikmati keindahan semua yang ada di depan kami.






Tidak lama, gerombolan lelaki itu ngiler melihat air, dari wajah-wajahnya sepertinya mereka ingin terjun dari atas karang ini dan nyemplung ke laut... tapi untung mereka masih ingat kalau nyawa mereka Cuma satu, akhirnya mereka turun. Berniat gabung, tapi saya ditahan sama si cowo yg naksir saya itu (Tuhan, jantung saya berdebar. Tingkat GR saya ada pada titik maksimal)

Tangannnya dingin,,,
Jantung saya berdebar,
Dia keringetan (syaa gak tau itu keringat grogi atau keringat panas cuaca)
Jantung saya makin berdebar..

Gak usah saya ceritakan detailnya, saya yakin semua sudah tau :p

Dan heeii, akhirnya saya punya pacar lagi hahahaha

Selanjutnya, suasana benar-benar cair, 4 bulan pedekate setelah 2 tahun kami sekedar mengenal...







Tempat ini adalah favorit kami... Saya, dan Afret Nobel

Hari itu masih dilanjutkan dengan makan ikan di pantai kukup, pulang kehujanan dan sampai jogja menjelang magrib. Sehabis magrib saya diantar pulang, katanya ”Dinda, terimakasih ya sudah mau seharian bersamaku”


Selengkapnya...

Laporan SPT pertama saya

Semua ini berawal dari group alumni SMA N 4 Semarang di facebook, yang merencanakan reuni lagi.

Kawan saya, yang bekerja di dirjen pajak mengingatkan kami untuk segera melaporkan SPT bagi yang sudah mempunyai NPWP, naahh... saya lah salah satunya. Langsung saya tanyakan bagaimana tata cara penyampaian SPT itu.
NPWP milik saya

Ketika saya memberitahukan kepada teman kerja saya, yang sama-sama punya NPWP, dia langsung mendadak heboh, banyak sekali pertanyaan, karena gaji bulanan kita tidak pernah dipotong pajak. Entah kenapa saya jadi ikut-ikutan membayangkan yang tidak-tidak. Menurut teman saya juga, batas penghasilan kena pajak adalah Rp 15.840.000/tahun. Kami mendadak takut ditangkap polisi lah, takut didenda ini itu lah hahahahaha.


Sebenarnya saya membuat NPWP juga karena rencana konyol: Ingin backpackeran ke Kuala Lumpur biar gak bayar fiskal :p (saya pikir itu gak konyol tapi)

Nah,,, jadilah saya pusing tuju keliling. Sampai tadi pagi, 29 Maret 2011. jam 8 pagi saya sudah ada di kantor pajak, meminta formulis SPT berikut buku petunjuk pengisian.

Terburu ke kantor, dan lapar saya dan teman saya langsung pulang dan berniat mengisi SPT di kantor. Ternyataa....kami betul-betul gak ngerti apa yang tertulis di SPT dan buku petunjuk, pusing seketika!!!

Teman kerja saya yang lain tertawa-tawa melihat kami kebingungan, dan sepertinya dari wajahnya tapak seperti berkata "rasain, untung aku gak punya NPWP". Melihat dia begitu, kami mendadak sombong. "hei, kita adalah supervisor disini, kalau kuesioner gila itu bisa kita taklukkan kita pasti bisa mengisi SPT ini"

Tapi ternyataa....

buku petunjukknya tidak lengkap!!!! banyak istilah tidak dijelaskan dalam buku petunjuk, hei, bagaimana kami bisa mengerti?!!

Hopeless, kami hanya mengisi kolom NPWP dan nama, lalu kami kembali ke kantor pajak, berniat mau menanyakan. untung di loket penyerahan SPT terdapat bagian konsultasi, nah jadilah kami mengisi SPT di bagian konsultasi itu.

Ternyata, batas penghasilan kena pajak 15,8 juta adalah setelah dikalikan norma pajak 35 persen (untuk freelance norma pajaknya sebesar itu) hasilnya? tentu saja penghasilan kena pajak kami masih jauh dibawah itu hahaha. Pajak kami NIHIL.

Kami pulang dengan tertawa-tawa, berbahagia karena kami belom harus membayar pajak. dan sepanjang jalan ke kantor kami bergosip tentang oknum-oknum pemangkir pajak, kami pusing membayangkan berapa angka nol yang dimiliki pemangkir itu kalau dia menunggak pajak sekian milyar.

Yang saya heran, apa dia gak malu ya gak mau bayar pajak. Pajak itu persentasenya kecil sekali looh dari pendapatan kita, ckckckck...


Hari ini saya merasa bangga sama diri saya sendiri, saya merasa sebagai warga negara yang baik. Saya sempat berpikir kok negara kejam banget majekin saya yang gajinya cuma cukup buat hidup bujangan. Ternyata enggak, sebagai freelance saya harus punya penghasilan lebih dari 50juta pertahun baru saya suruh bayar pajak yang totalnya cuam 800.000 saja. jumlah itu gak seberapa kaaan?

Saya juga gak peduli kalau kelak saya sudah harus bayar pajak, pajak saya lantas diselewengkan. Itu sih urusan mereka, saya gak mau cari perkara dengan tidak sesuai aturan. Apalagi biasanya pelanggar aturan yang terkena hukuman adalah orang-orang yang gak punya power buat menyogok ini itu. So, hari gini gak lapor SPT? Apa kata dunia?

Oia, tadi setelah saya terima bukti pelaporan SPT, mbak-mbak di loket bilang sama saya "Tahun depan, lapor lagi ya mbak" :D

Selengkapnya...

EloProgo Art House

Kalau pernah ke borobudur pasti tau jika di kawasan borobudur banyak terdapat barang-barang kesenian. Sebagian memang didatangkan dari jogja, tapi ada juga yang berasal dari sekitar kawasan candi.

Juni-Agustus 2008
Saya bertugas sebagai mahasiswa KKN di salah satu desa wisata di kecamatan borobudur, desa Wanurejo. Tidak banyak orang dengar, karena pamornya kalah oleh desa tetangga: desa Candirejo, saya pernah melihat liputan tentang celebrity on vacation di candirejo. Padahal untuk menuju ke candirejo pasti melewati wanurejo loh..

Apa sih keistimewaan desa KKN saya itu? Saya gak akan membandingkan yaa, sebenarnya banyak hal menarik. Satu dulu saya ceritakan: ELO-PROGO ART HOUSE.


Berlokasi di dusun Bejen, desa Wanurejo. Sebenarnya tim KKN kami tidak ditugaskan ke dusun ini, tapi karena tugas kami kala itu adalah mengembangkan potensi wisata desa wanurejo maka sedikit banyak kami mengetahui tentang spot-spot wisata menarik disini.

Dinamakan elo-progo karena art house ini persis berlokasi ditepi pertemuan sungai elo dan sungai progo. Fotonya? Hmmm, sayang sekali saya tidak berhasil menemukan foto-foto KKN milik teman-teman saya dulu, sewaktu saya kesana tempat yang menuju pertemuan dua sungai itu terpagar. Karena untuk menyimpan bubu raksasa rekor muri. Saya hanya melihat dari jauh, tapi saya beruntung sempat mengarung di pertemuan dua sungai itu. Sehari sebelum penarikan KKN saya dan teman-teman rafting di sungai elo dan finish di sungai progo atas tepat di kawasan elo progo art ini :D



Nah, karena tempatnya agak rumit jika berkunjung ke wanurejo bisa bertanya kepada penduduk sekitar. Tanya saja mau ke elo progo, atau ke tempat pak sony di bejen. Semua sudah tau. Nama pemilik elo progo ini adalah pak sony santoso. Saya waktu itu tidak sempat bertemu beliau, tapi beberapa teman saya yang memang mempunyai program kerja di tampat itu tentu saja pernah menemuinya.



Disini banyak dipajang karya lukis dari pak sony, seminggu 3 kali juga diadakan latihan menari untuk anak-anak. Ada juga rumah nyentrik yang tersusun dari bata-bata. Suasananya asri, dengan suara air mengalir. Hmmm....





Tepat sekali karena saya berkunjung kesana dalam rangka melepas penat bersama teman-teman satu pondokan. Intinya, sore itu kami refreshing karena ketegangan kami menjalani program kerja KKN. Saya menyesal tidak bisa mendapatkan hasil foto tim promosi KKN kami waktu itu dan membaginya kesini.

Masuknya gratis kok, tidak dipungut biaya, penduduk sekitar juga sering keluar masuk tempat ini, sore itu saya melihat sebuah keluarga yang body rafting disungai progo, wuiiiihhh, rasanya pengen ikutan nyemplung, airnya gak keruh sih..

Lain kali saya ingin berkunjung kesana lagi, mungkin mencari foto-foto yang lebih cakep dari yang disini, waktu itu bener2 asal jepret saja :( eh, jangan heran kalo difoto itu saya sama si mas yaah,, saya gak satu KKN sama mas kok, dia cuma menjenguk saya, gak betah kali saya tinggal lama-lama hahahahahaha

Nah, kalo mau tau lebih jauh tentang eloprogo art >>> Kesini
foto-foto yang lebih oke >>> disini



Ibu-ibu sub unit dusun Tingal Kulon: Anggita-saya-disty-astri-anis

Foto favorit saya, hasil karya anis :)


Selengkapnya...

Suatu Hari di Gerilya

Ini adalah kali pertama saya terlibat dalam proyek penelitian besar. Biasanya saya Cuma ikut riset kecil-kecilan di kampus, jurusan atau serabutan dimana-mana. Saya sudah menjalani profesi sebagai freelance (hahahaha) sejak awal-awal kuliah.

Saya sering menjadi enumerator/ tukang Tanya. Disini saya merintis karir (halah) sebagai data entry. Awal-awal saya mengalami banyak kesulitan. Tapi, saya banyak dibantu rekan-rekan satu tim saya yang memang sudah punya banyak pengalaman dan sabar.

Saya menurut sebagian orang sangat ekspresif dan cenderung emosional. Dalam pekerjaan jadi terkesan galak hahaha. Beruntung teman-teman saya bias mengimbangi dan masih sanggup mencandai saya yang terkadang bĂȘte karena program yang mogok jalan atau kesalahan pengisian kuesioner.

Pada suatu hari,,




Kejadian ini terjadi di beskem kami di Jl. Gerilya, Semarinda. Semalam sebelumnya saya yang teralu lelah memilih untuk tidur lebih cepat. Saya tau beberapa teman enum, supervisor dan partner entry data saya rebut sampai malam. Tapi saya gak peduli, saya capek. Bangun pagi, setelah subuh saya langsung bekerja. Menjelang jam 9 teman-teman enum mulai berisik dan heboh di ruang tamu, ruang kerja saya (tepatnya tempat saya nongkrong) berada di ruang tengah tepat terpisah tembok dengan ruang tamu temat teman-teman enum berdiskusi. Saya masih gak peduli, pekerjaan saya banyak. Sementara partner entri data saya tidur (dia memang kalo kerja malam). Semakin siang mereka semakin rebut saja dan tertawa-tawa. Sepertinya mereka meributkan warning dari supervisor kami yang biasa tertempel di dinding.

Karena semakin lama semakin ribut dan hore (mereka tertawa-tawa bahagia sekali) saya jadi penasaran. Ternyata ini biang keroknya:



Hwahahahahahaha, saya seketika melirik supervisor saya (mas wisnu) dia tetap kalem saja. Poin yang buat saya tertawa terbahak ada 3: pertama, soal salah satu enum yang aman selalu (dia gebetan mas wisnu) dan kedua poin mister X yang disuruh menemui saya dibalik tembok (mster X adalah enum yang sering sekali saya marahi), ketiga soal timbangan yang rusak karena uline (uline adalah enum yang menjadi objek penderita karena badannya yang sedikit subur)

Usut punya usut ternyata tulisan itu adalah hasil keisengan salah satu enum yang berhasil menirukan anda tangan mas wisnu hahahahahahaha. Sederhana, tapi itu sanggup membuat beberapa enum kelabakan karena mengira pekerjaannya tidak beres hahahahahahaha. Jidong, u’re Rock!!! \m/(^.^)\m/ 
Selengkapnya...