Songket/Sarung Tenun Samarinda

Kalo ditanya apa yang terkenal dari samarinda mungkin sebagian besar menjawab songket/sarung Samarinda. Nah, di kunjungan pertama saya di ibukota kaltim ini (april 2009) saya diajak oleh supervisor saya (waktu itu saya masih jadi data entry) menjelajah salah satu yang khas di Samarinda.

Tujuan saya adalah kecamatan Samarinda Seberang, dari namanya terbayang letaknya yang memang di seberang sungai Mahakam. Kota samarinda sendiri terbelah oleh sungai Mahakam, dan ketika itu hanya ada satu akses ke samarinda seberang : Jembaan Mahakam. Jembatan itu menjadi satu-satunya penghubung pusat kota samarinda dengan kecamatan-kecamatan lain di seberang sungai. Sebenarnya ada jembatan lain yang belum dibuka, yaitu jembatan mahulu. (Jembatan Mahulu baru resmi dibuka pada tahun 2010)




Hari itu saya memang berencana melakukan supervisi teman-teman enum di daerah samarinda seberang (sekalian jalan-jalan tentunya). Setelah sedikit melihat-lihat daerah sengkotek, saya bersama supervisor saya melanjutkan perjalanan ke Jl. P. Bendahara, Gg. Pertenunan, Samarinda seberang. Disanalah pusat songket samarinda. 

Gg. Pertenunan adalah sebuah perkampungan yang berdiri diatas rawa yang juga tidak jauh dari sungai Mahakam. Jalan masuknya tersusun dari kayu, tentu saja rumah-rumahnya berbentuk semacam rumah panggung. Motor saya parkir di tepi jalan P. Bendahara, agar kami tidak repot berjalan di gang yang sempit itu. Sekitar 20 meter kedalam saya mulai mendengar irama kayu beradu. Seperti yang diceritakan supervisor saya itu suara alat tenun tradisional. Sebagian besar penduduk di gang pertenunan ini berprofesi sebagai penenun sarung. Jika pagi atau sore hari suara alat tenun tradisional itu riuh sekali, tapi indah. 
Salah satu penduduk gg. pertenunan membuat sarung motif kotak-kotak

Satu kain dibuat sekitar 1-2 minggu

Gang pertenunan cukup padat, dan bukan tidak mungkin ada orang yang nyasar disini, gangnya rumit dan banyak hehe. Hasil riset pribadi field supervisor tim kami sarung samarinda ini sebenarnya bukan benar-benar asli kota ini. Para penenun adalah migran bugis yang berpindah ke Kalimantan timur. Ya, hampir semua penghuni gang pertenunan adalah orang bugis. Saya sudah cerita kan kalau di samarinda teebentuk kantong-kantong migrant dari daerah tertentu juga pengelompokan pekerjaan menurut daerah asalnya? Gang pertenunan inilah salah satunya.

Lalu apakah motif kain sama dengan sarung bugis asli dari Sulawesi? Tentu tidak. Untuk motif sudah dimodifikasi khas kaltim, bunga-bunga besar dengan warna-warna mencolok. Khasnya sih warna ungu. Tapi ada juga motif kotak-kotak biasa.
Sarung motig yang rumit dibuat sekitar 2-3 minggu

Saya beruntung sempat mengobrol banyak dengan salah satu penenun disana. Untuk harga sarung yang motif kotak-kotak biasa dihargai Rp 150.000 sedangkan untuk yang motifnya rumit seharga Rp 300.000. ada juga yang sepasang untuk laki-laki perempuan seharga Rp 500.000. murah bukan? Langsung di pembuatnya sih. Padahal pembuatan satu sarung bisa memakan waktu 2 minggu loh. saya diberitahu bagaimana cara membedakan sarung tenun asli dan hasil tenun mesin. Menurut pembuatnya, tenun handmade cenderung kasar daripada buatan mesin, dan dalam satu sarung pasti ada sambungannya, karena 1 sarung tidak mungkin terdiri dari 1 lembar kain. Beratnya juga lebih dibandingkan hasil tenun mesin. 
Motif dan warna sarung khas samarinda, agak hore tapi cantik :D

Cara merawatnya? Tidak boleh dicuci pake sabun/detergen, nanti rusak. Selain itu kain juga tidak boleh diperas. Kalo mampu sih mending dry clean saja hehehe. Oia, harga untuk songket tenun mesin adalah Rp 70.000 termasuk selendang. Bisa dibeli da pasar pagi dekat pelabuhan samarinda. Saya sempat membelinya di tahun 2010, yang tenun mesin tentunya karena saya gak punya uang. Kain itu yang saya pakai di waktu wisuda. Cantik sekali loohh… :D
Selengkapnya...

Samarinda the 1st trip.

April 2009,

Saatnya menjelajah Samarinda!! Jadwal hari ini adalah try out wawancara untuk para enumerator, jadi saya masih belum punya pekerjaan. Hey, ini kesempatan menjelajah kota, sekalian supervisi enum hehehehe.

Kawasan yang kami eksekusi adalah yang tidak jauh dari beskem kami di Jl. Gerilya Samarinda, yaitu Jl. Otto Iskandardinata. Dari beskem, kami menuju sungai karang mumus, menyusuri tepinya, sampai ke pasar lalu berbelok ke arah kiri. Karena sudah siang kami mampir makan siang. Beli sate dan minum es.
Sungai Karang Mumus, salah satu anak sungai Mahakam, kadang sering bikin banjir juga kalau meluap


Di Samarinda ini saya merasa seperti di rumah, karena banyak sekali migran yang berasal dari jawa, benar saja, penjualnya orang jawa timur dan pembeli yang saya temui berasal dari jawa tengah dan jogja. Hwahhh..klop lah sudah ngobrol ngalor ngidul.


Tapi saya gak lantas berlama-lama kok, panas juga. Setelah mengisi energi satu persatu teman-teman enumerator kami datangi, sambil melihat-lihat suasana permukiman penduduk. Kawasan ini cenderung padat. Jalan dan gang tersusun dari kayu karena kawasan ini didirikan diatas rawa, ada beberapa memang jalan yang disemen, terutama jalan utama.

Perkampungan di salah satu sudut Samarinda




Setelah berkeliling, ada satu kelompok enumerator yang belum saya temukan. Saya dan supervisor saya berniat mencari mereka setelah menanyakan nama dan alamat responden yang mereka wawancarai. Bertanya kesana kemari, kami sudah sampai di ujung kawasan ini (jl. Otista gg keluarga) katanya kawan kami berada di rumah bapak X diatas bukit (nama responden tidak boleh saya sebarkan), bener aja, rumahnya bener-bener yang paling puncak.... 
Banyak rumah penduduk diatas bukit

Dari atas sini, tampak aliran sungai mahakam

Model permukiman di Samarinda ini cenderung berkelompok, para migran/pendatang dari daerah tertentu menempati daerah tertentu pula. Seperti yang saya kunjungi kali ini, mayoritas penduduk adalah pendatang dari Buton. Di daerah lain, seperti di Samarinda seberang, Jl, Manunggal, mayoritas penduduk berasal dari Tana Toraja. Begitu pola permukiman disini, para migran dari daerah cenderung membentuk kantong-kantong migran. Dan yang menarik jenis pekerjaan mereka ini cenderung berbeda loh tiap daerahnya. Saya menemukan perkampungan pembuat bata (warga setempat menyebutnya pembataan) di daerah Gunung Tarap, dan pembuatnya berasal dari Madura. Kemudian, di kawasan sengkotek dimana banyak terdapat pabrik kayu, para pekerjanya mayoritas berasal dari Bima, NTB. Migran di Samarinda membentuk jaringan sosial mereka sendiri sekian lama, ini yang kemudian menghasilkan kelompok-kelompok di suatu kawasan dan jenis pekerjaan tertentu.

Lalu, apakah perbedaan-perbedaan ini menimbulkan konflik? Sama sekali tidak. Bukankah selama ini kita hampir tidak pernah mendengar adanya konflik di Kalimantan Timur bukan? Samarinda terutama.
*****

Back to the trip. Perjalanan mendaki gunung ini mengorbankan sandal saya, saya gak nyangka bakal menghadapi perjalanan seekstrim ini, gak cuma naek tangga, tapi gundukan-gundukan tanah. Dari depannya saja bisa keliatan sungai mahakam, bahkan islamic center di ujung sana, ckckckck. Bukannya saya manja, tapi salah kostum aja pake sandal cantik begini.
foto bersama anak-anak



Oia, saya disana sampai menjelang senja lagi, dan sekali lagi saya menyaksikan senja yang indah menghiasi kota tepian..
Selengkapnya...

Senja di Mahakam

April 2009,

Pertama kali saya ditugaskan ke luar Jawa. Jangan tanya soal perasaan, pasti girang bukan kepalang. Pertama kali saya dapat kerja tetap eeh langsung dibuang ke Kalimantan Timur hehehehe.

Singkatnya pagi itu saya berangkat, jam 6 pagi sudah di bandara, bersama 3 kawan satu tim ditambah bos besar saya. Pagi itu ternoda karena saya terlambat, kena marah saya di depan pacar saya uuhhh..malu hehe. Tapi biarlah,,

Kali kedua saya naek pesawat, jadi gak begitu norak :p
Tapi, begitu hampir mendarat saya mendadak norak, pengen liat kalimantan dari atas. Gak seperti dugaan saya, Kalimantan ternyata gak melulu hutan.



*****
Bandara Sepinggan, Balikpapan. 
Saya lupa omelan bos besar saya, senyum terkembang lebaar sekali, oleh supervisor (mas wisnu) saya disarankan melakukan upacara ’gedruk bumi’ yaitu menghentakkan kaki tiga kali. Menurutnya saya harus melakukan itu karena ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di bumi etam hahaha, sebenarnya ini hanya bercanda. Tapi karena saya terlalu senang sayapun melakukannya dengan penuh kebahagiaan.

Perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda masih sekitar 3 jam jalur darat. Kami dibagi dua mobil dan saya kebagian sama bu muji dan pak bos. Sepanjang jalan saya tidak bisa memejamkan mata. Rasanya saya ingin menjadi saksi tiap jengkal tanah Kalimantan. Tidak ada hutan lebat seperti bayangan saya, atau kebun-kebun sawit. Saya melewati bukit Soeharto, dan taman nasional Bukit Bangkirai (yang dua tahun kemudian, tahun 2011 saya kunjungi).

3 jam kemudian, saya sampai di Samarinda, pertama daang saya langsung disuguhi keelokan sungai terpanjang di Indonesia, Mahakam. Sungai sebesar itu baru pertama saya lihat.

*****
Karena saya kesana untuk bekerja, baru hari ketiga saya sempat berjalan-jalan. Sore hari setelah training saya dan teman-teman memutuskan untuk berjalan-jalan. Amanat bos besar saya juga, pak bos menyuruh teman-teman yang berasal dari Samarinda untuk menceburkan saya ke sungai mahakam hahahahaha, beliau bilang saya belum ke samarinda kalau belum berenang di mahakam.
Menanti senja di tepian mahakam 

Jadilah sore itu kami ke tepian (sebutan untuk taman disisi Mahakam).
Jika banyak orang tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama, kali itu saya mengalaminya. Walaupun tepian berada persis di tepi jalan utama, saya tidak begitu merasakannya. Angin semilir, matahari yang hangat, suara tongkang pembawa batubara... Ini... INDAH... belum ketika senja datang, Subhanallaahhh.... Saya berikrar sore itu: saya cinta senja di tepi sungai Mahakam.
Senja di tepian Mahakam, Subhanallah..Indah yaa?

Foto yang saya ambil tampa editan sama sekali,,diambil dari kamera pocket biasa. Apa artinya? Itulah keindahan asli senja mahakam.
Teman saya bilang, kalau saya minum air mahakam saya pasti akan kembali kesini, apakah saya melakukannya? Hahahaha tentu tidak, nyatanya takdir membawa saya kembali beberapa kali



Selengkapnya...

Green School Bali

Sudah pernah berkunjung ke Bali? Hmmm...mungkin banyak yang sudah.

Tapi kalau ke Green School? Hehehe, saya mau bercerita sedikit tentang pengalaman saya disana.


Ini kali ketiga saya mengunjungi Bali, dan kali pertama saya tau sekaligus melihat Green School. Dari namanya sudah terbayang belum seperti apa sekolahnya? yang pertama kali terbayang di benak saya sih sekolah ini begitu ramah lingkungan. Dan saya gak salah... =D


***



"Welcome To Green School"


Tulisan kecil yang terukir pada bambu di sebelah kiri pintu gerbang green School. Nyentrik, itu kesan pertama saya, setelah itu saya terpana pada keasrian suasana di sini. Dari pintu masuk yang tampak adalah pos penjaga yang terbuat dari bambu, semacam kantin di samping lapangan, dan disebrangnya ada suara celotehan anak-anak serta irama bola basket dan decitan sepatu. Itu suara yang indah (Kangen maen basket mode: ON). Diujung pintu terdapat bangunan yang seluruhnya terbuat dari kayu.

Sembari menunggu tour saya bermain ayunan bambu disamping lapangan. Huwaaa...senangnyaaa!!! Sambil sekali-selaki ngeliat dari jauh anak-anak yang maen basket, setelah saya perhatikan kok banyak bule yaa, hei coachnya juga bule!! Kalo saat itu saya gak sedang menunggu tour pasti dengan gak tau malunya saya nimbrung latian sama om bule ganteng hohohoho...

An then, tours begin..

Kalo ini saya sukses melongo, bangunan yang saya kita kayu itu ternyata bambu. Bambu, bambu, bambu dimana-mana. AWESOME!!!! Saya dan teman-teman dipandu pengurus green school berkeliling, di satu sudut saya melihat sekelompok anak bule lagi belajar bernanyi, iihhh lucu-lucu banget deehh..!!


Suasana dari lantai dua, pasukan abu itu rombongan saya :)



Menurut ibu pengurus (maaf saya tidak menanyakan namanya) green school ini diperuntukkan untuk anak-anak ekspatriat yang tinggal dan bekerja di bali (pantas daritadi saya cuma liat bule) murid-murid dan guru-gurunya kebanyakan orang asing, meskipun ada beberapa yang pribumi. Tapi menurut ibu pengurus lagi, untuk orang pribumi masuk ke green school hanya bisa melalui program scholarship dan tesnya susah banget, biayanya juga mahal.

Sekolah ini adalah hasil pemikiran John Hardy, warga Kanada yang telah tinggal di Bali (Sumber) Dari info ibu pengurus, arsitek green school berasal dari UGM. Hooo...menurutnya lagi semua bagian bambu tidak ada yang terbuang. Ada yang menggunakan bambu petung sampai kepada akarnya, kemudian bambu yang tidak lurus digunakan untuk dinding, ada lagi yang digunakan untuk lantai dan tangga. Intinya, semua made by bamboo...!! mantap laahhh...

Bambu yang diambil sampai ke akar untuk tiang bangunan

Para perabot juga dari bambu
Bagian tengah green school






Nah, dari segi pendidikannya sekarang, menurut saya green school ini punya sisi unik sendiri. Anak-anak dituntut untuk bisa fokus, kreatif, cerdas dan aktif. Ruang kelas yang semi terbuka dan ada beberapa yang memang terbuka melatih anak-anak berkonsentrasi, terbukti, anak-anak bule yang saya temui sedang belajar menyanyi itu tidak peduli dengan kehadiran kami, mereka cuek saja menyanyi dan menari lompat-lompat. memang pada awal masuk sekolah mereka masih suka terganggu, tapi seiring berjalannya waktu mereka bisa mengatasi itu.

Kurikulumnya seperti sekolah pada umumnya, ada ekskul juga, tapi anak-anak disini juga belajar bagaimana berbisnis. Tingkat pendidikan yang tersedia dari play group, kindergarten, grade 1-10.

Sayangnya saya kesana sore hari, sehingga proses belajar disana tidak bisa banyak saya ikuti. Di seolah ini, anak-anak juga diajarkan untuk ramah terhadap alam, dari hasil karya mereka banyak sekali yang memanfaatkan barang-barang bekas. Saya melihat hasil karya lukis mereka, kerajinan tangan dll.

Oiya, green school punya pembangkit listrik sendiri loh, sebenarnya konsep gedung bambu ini tidak menggunakan penerangan dan AC, udah adem dan terang kok. Lampu hanya digunakan pada saat darurat seperti ketika saya berkunjung kesana: Hujan dan mendung tebal, sehingga membutuhkan penerangan lebih.

Kabarnya toilet green school juga unik, tapi saya belum melihatnya, jadi saya gak bisa cerita banyak. Yang menarik lagi, di tiang-tiang bambu tertulis beberapa nama orang, ternyata itu adalah orang yang memberikan donasi untuk green school. Saya melihat ada beberapa nama artis dalam dan luar negeri juga loohh.. =D

Saya juga berfoto di salah satu tiang bambu yang bertuliskan 'Just for Love' hahahaha

Me and my Mas :D

Kalo dari maketnya, atap green school keliahatan kayak rumah keong. Asik ngebayangin punya rumah seperti ini, tapi maintenance nya itu kayaknya ribet. green school aja dalam jangka waktu 15 tahun harus diganti bambu baru lagi. Ya memang gak semuanya langsung, tapi bertahap. Kasihan juga nanti ganggu proses belajar mengajar.

Maket green school

***

Green School berlokasi di daerah Sibang Kaja, Badung, Bali. Sekitar 20 menit ke arah utasa dari denpasar dan 15 menit ke arah selatan dari Ubud. Tempatnya terpencil, saya harus berjalan jauh ke pelosok karena bis gak bisa masuk sampai depan green school. Saran saya mending sewa mobil atau motor, hehehehe

Jika ada waktu ke Bali berkunjunglah kesana, terutama untuk orang-orang yang gila akan pendidikan yang 'berbeda' dan seni bangunan atau arsitektur. Saya jamin gak akan nyesel. Kenapa? Rahasia, buktikanlah sendiri hehehehe...

Kalau ingin tau lebih banyak soal green school>>>> About Green School

>>>Foto-foto bukan hasil jepretan saya yah, hehehe. itu saya copy punya teman-teman saya, tapi waktu pengambilannya sewaktu sya datang kesana kok =D


Action dulu sebelum pulang

My Favourite, make me sooo sleepy



Selengkapnya...

Sehari di Metaphora

Jreng...jreng...!!
Tiba-tiba saja saya terdampar disini, kok bisa? Hmmm ceritanya panjang dan gak penting juga hahaha. Intinya saya cuma nunggu waktu saya pulang ke semarang, kereta saya jam setengah sepuluh malam. nah daripada saya seharian bengong gak tau kemana (gak punya duit juga) jadi saya memutuskan buat ngikut pacar saya ke kantor di daerah pejaten.

Sebenernya saya gak enak, takut ganggu orang kerja. Apalagi saya kan orangnya gak bisa diem...
belom sama teman-teman kerja si mas. Untung sedikit banyak saya sudah kenal, hehehe,,, (saya pernah diajak family gathering sih..)

Jadi modal cuek...
Saya naek angot dari jatinegara ke pejaten. 2 kali, angkot 06 sampe kampung melayu trus angkot 16. Saya turun di depan UNAS, dijemput mas, trus mampit makan di AYAM BAKAR MAS MONO di pejaten raya. Rasanya menurut saya kurang mantap hehehe, sambelnya gak pedes...

Oke, sampe di kantor, disambut pak pri (yang jaga kantor). Ternyata gak ada orang, hhmmm...gak banyak sih, cuma ada beberapa arsitek, dan seorang drafter (si mas sendiri) yang laennya pada gak lembur. Hmmm denger dari cerita mas dih ada beberapa arsitek sama drafter yang dipindah sementara buat nyelesein proyek laen.

Jadinya yaa...saya di ruang drafter berdua. Jangan mikir aneh-aneh yaa... ruangan ini gak terpisah kok, eh terpisah deng, tapi gak tertutup, semacam kamar gitu. Asing...kesan pertama saya, ruang kerja saya dipenuhi lemari berisi kuesioner. Sementara disini, hanya ada 3 unit komputer, 3 unit printer yang saah satunya guedeeee buanget!!! terus ada tumpukan gulungan kertas di pojok ruangan. Jadi satu sama mushola mini.

Saya disuruh nunggu sambil maen2 leptop mas, sebenernya sih suruh ngenet di komputer laen, tapi saya gak mau ah jauh2 dari mas, mending maen leptop disampingnya aja. untung bawa modem hehehehe...

15 menit pertama saya masih beradaptasi sama 'kantor beginian' heheheh
sepiiii banget, padahal ada orang, ya beberapa arsitek tadi, tapi mereka serius banget kerjanya. cuma ada suara lagu. kalo di kantor saya, mau lagi serius juga tetap ada yang nyanyi2 (saya sih terutama hahahaha)

ternyata suasananya sih gak tegang, yaahh kan sebelumnya udah kenal sama teman2 mas.

Akhirnya saya ngenet aja lah, sambil sekali-sekali ngelirik mas...
Duuwwhh... saya jadi inget suasana di kos bu sum, waktu mas masih sibuk ngertain TA. Saya yang nemenin, sambil sibuk sendiri. entah kerja, entah maen-maen hehehe...

Saya suka liat mas serius,,habis dia biasanya bercanda melulu, kesannya jadi macho (lebay...)


Sambil ngeliatin yang mas kerjain, kalo ini sya sudah familiar, dari jaman dulu udah sering liar mas bikin gituan... Saya fesbukan dan twitteran deh.. kadang ngegodain mas juga yang berusan ketauan di missed called  mantannya hwahahahahahaha

dasar deh aaahhh.....

Sebentar lagi magrib, gak kerasa.
rencananya abis magrib nanti kita makan bareng trus saya diantar ke pasar minggu sampe dapat angkot.
hahahaha,
saya gak diantar sampe jatinegara. Gpp lah...saya kan mandiri, toh ibu juga pesan tadi kalo jangan ganggu mas yang lagi kerja dan ngerepotin mas. Hmmm....


>>Terimakasih bayak ya mas :-) Selengkapnya...

Keputusan saya...

Saya bukannya menyerah, tapi kali ini saya sudah sampai pada satu titik dimana saya harus memutuskan. Tetap disini atau pergi. Dan saya tidak mau berspekulasi. Karena menjadi pengangguran adalah menyakitkan. Karena itu, mulai hari ini saya stop mencari kerja, sampai 3 bulan kedepan. Akan saya pasrahkan semuanya pada lamaran-lamaran yang sudah saya kirim sebelumnya.


Kalau saya tidak juga mendapat panggilan, maka saya tetap disini.
mengapa begitu? Ya, tanggal 21 maret saya sudah harus mengikuti training untuk riset selanjutnya. otomatis saya mempunyai komitmen terharap kantor saya sampai survey selesai tanggal 1 juni nanti.

Mengapa saya ingin pergi? jujur, saya ingin mencari kehidupan yang lebih baik. Terkadang orang tua saya harus mem-backup kebutuhan saya perbulan.
Saya tidak ingin lancang. Disini tempat sya belajar banyak, tempat saya ditempa fisik dan mental menghadapi dunia kerja. diberikan ilmu tentang social research yang kurang saya dapat di kampus. Dari sinilah saya mengolah data untuk skripsi saya.

Saya sedih sebenarnya, dan saya tidak tahu apa yang membuat saya sedih. Bukan saya tidak senang disini, tapi saya iri dengan teman-teman saya yang sudah berhasil meraih cita-citanya. sementara saya? dari dua tahun lalu masih berkutat hal yang melulu itu-itu saja. Saya suka menjadi asisten peneliti, seperti sekarang. Tapi bukankah ada berjuta proyek riset dan lembaga riset nergi dan swasta diluar sana??

Setidaknya, saya ingin punya penghasilan tetap...

Seandainya, saya lebih berjuang menyelesaikan skripsi saya...
Seandainya, saya lebih keras mencari kerja..
Dan berjuta seandainya-seandainya lain yang berkecamuk dalam hati saya...

Saya masih harus belajar ikhlas, saya tidak benar-benar menjadi pengangguran. Masih ada yang bisa saya syukuri bukan? Toh 3 bulan tidak akan lama :)

Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukaththiban
>>Then which of the favours of your Lord will you deny?
>>Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?


Selengkapnya...

Sate 'Petir' Pak Nino

Petir?
Kira-kira bisa menebak gak kenapa judul satenya begitu?
Puedes buangeettt!!!
Karena itulah sate pak nino dijuluki petir. gak cuma sate, ada juga tongseng dan gule (gulai dalam bahasa jawa) seperti warusng sate pada umumnya.

Ini kali kedua saya berkunjung ke sate pak nino. keduanya ditraktir om saya hehehehe, berapapun tingkat pedas yang anda minta akan diladeni oleh pak nino. Uniknya, tingkatan kepedasan diukur dengan tingkat pendidikan, dari tingkat play group, TK, SD, SMP dan kuliah.

sate, yang dipesan adik saya. gak pake cabe sama sekali


Kali pertama saya pesan sate, karena saya belom mudeng saya pesan pake cabe rawit 5 biji. semua digerus bersama dengan bumbu kecap. Hasilnya??? Hwaaa...!!! gilaaa!! pedes buanget!!!. Saya curiga cabe yang pak nino masukkan lebih dari 5 biji. Pesanan om saya lebih dasyat lagi, tongseng pedes tingkat SMP. sesendok saja saya cicip saya langsung menangis T.T GILAAAA....!!!!!!! pedesnya sampe ke ubun-ubun!! om saya sampe habis buanyak sekali tisu. Harusnya ongkosnya nambah itu hahahaha

Tongseng petir cemen milik saya

Yang kedua saya pesan tongseng, saya gak tau om saya yang pesankan. pokoknya saya bilang pedes aja. Pas dateng, pedes sih, tapi gak mantap!! Yaaaahhh...... Saya protes sama om saya, tapi si om bilang: "besok kamu bolak balik ke toilet loh" aahh, saya c gak peduli, itu kan resiko...

Ternyata setelah diusut lebih jauh itu tadi pedes tingkat play group. Cemeennn aaahhh.....

Nah, sampe siang ini Wiki, putra bungsu om saya sudah 6 kali pup. menurut saya itu karena efek tongseng petir tingkat play group yang dimakan mamanya. Buat ibu-ibu menyusui gak usah ikutan sok pedes deh, kasiaann...



Pengen uji nyali di sate pak nino? Silahkan datang ke ringroad selatan tirtonirmolo Yogyakarta. Dari arah barat warungnya di sebelah kiri, dekat dengan jembatan yang saya gak tau namanya.
untuk satu porsi makanan disana dapat ditebus pake uang 19.000. nasinya menurut saya sih sedikit, jadi saya paling tidak membutuhkan 2 porsi nasi (hehehehe, biar kecil makan saya banyak looh)

gulai yang kata saya sih gak pedes...
Selengkapnya...