Senja di Mahakam

April 2009,

Pertama kali saya ditugaskan ke luar Jawa. Jangan tanya soal perasaan, pasti girang bukan kepalang. Pertama kali saya dapat kerja tetap eeh langsung dibuang ke Kalimantan Timur hehehehe.

Singkatnya pagi itu saya berangkat, jam 6 pagi sudah di bandara, bersama 3 kawan satu tim ditambah bos besar saya. Pagi itu ternoda karena saya terlambat, kena marah saya di depan pacar saya uuhhh..malu hehe. Tapi biarlah,,

Kali kedua saya naek pesawat, jadi gak begitu norak :p
Tapi, begitu hampir mendarat saya mendadak norak, pengen liat kalimantan dari atas. Gak seperti dugaan saya, Kalimantan ternyata gak melulu hutan.



*****
Bandara Sepinggan, Balikpapan. 
Saya lupa omelan bos besar saya, senyum terkembang lebaar sekali, oleh supervisor (mas wisnu) saya disarankan melakukan upacara ’gedruk bumi’ yaitu menghentakkan kaki tiga kali. Menurutnya saya harus melakukan itu karena ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di bumi etam hahaha, sebenarnya ini hanya bercanda. Tapi karena saya terlalu senang sayapun melakukannya dengan penuh kebahagiaan.

Perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda masih sekitar 3 jam jalur darat. Kami dibagi dua mobil dan saya kebagian sama bu muji dan pak bos. Sepanjang jalan saya tidak bisa memejamkan mata. Rasanya saya ingin menjadi saksi tiap jengkal tanah Kalimantan. Tidak ada hutan lebat seperti bayangan saya, atau kebun-kebun sawit. Saya melewati bukit Soeharto, dan taman nasional Bukit Bangkirai (yang dua tahun kemudian, tahun 2011 saya kunjungi).

3 jam kemudian, saya sampai di Samarinda, pertama daang saya langsung disuguhi keelokan sungai terpanjang di Indonesia, Mahakam. Sungai sebesar itu baru pertama saya lihat.

*****
Karena saya kesana untuk bekerja, baru hari ketiga saya sempat berjalan-jalan. Sore hari setelah training saya dan teman-teman memutuskan untuk berjalan-jalan. Amanat bos besar saya juga, pak bos menyuruh teman-teman yang berasal dari Samarinda untuk menceburkan saya ke sungai mahakam hahahahaha, beliau bilang saya belum ke samarinda kalau belum berenang di mahakam.
Menanti senja di tepian mahakam 

Jadilah sore itu kami ke tepian (sebutan untuk taman disisi Mahakam).
Jika banyak orang tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama, kali itu saya mengalaminya. Walaupun tepian berada persis di tepi jalan utama, saya tidak begitu merasakannya. Angin semilir, matahari yang hangat, suara tongkang pembawa batubara... Ini... INDAH... belum ketika senja datang, Subhanallaahhh.... Saya berikrar sore itu: saya cinta senja di tepi sungai Mahakam.
Senja di tepian Mahakam, Subhanallah..Indah yaa?

Foto yang saya ambil tampa editan sama sekali,,diambil dari kamera pocket biasa. Apa artinya? Itulah keindahan asli senja mahakam.
Teman saya bilang, kalau saya minum air mahakam saya pasti akan kembali kesini, apakah saya melakukannya? Hahahaha tentu tidak, nyatanya takdir membawa saya kembali beberapa kali



Selengkapnya...

Green School Bali

Sudah pernah berkunjung ke Bali? Hmmm...mungkin banyak yang sudah.

Tapi kalau ke Green School? Hehehe, saya mau bercerita sedikit tentang pengalaman saya disana.


Ini kali ketiga saya mengunjungi Bali, dan kali pertama saya tau sekaligus melihat Green School. Dari namanya sudah terbayang belum seperti apa sekolahnya? yang pertama kali terbayang di benak saya sih sekolah ini begitu ramah lingkungan. Dan saya gak salah... =D


***



"Welcome To Green School"


Tulisan kecil yang terukir pada bambu di sebelah kiri pintu gerbang green School. Nyentrik, itu kesan pertama saya, setelah itu saya terpana pada keasrian suasana di sini. Dari pintu masuk yang tampak adalah pos penjaga yang terbuat dari bambu, semacam kantin di samping lapangan, dan disebrangnya ada suara celotehan anak-anak serta irama bola basket dan decitan sepatu. Itu suara yang indah (Kangen maen basket mode: ON). Diujung pintu terdapat bangunan yang seluruhnya terbuat dari kayu.

Sembari menunggu tour saya bermain ayunan bambu disamping lapangan. Huwaaa...senangnyaaa!!! Sambil sekali-selaki ngeliat dari jauh anak-anak yang maen basket, setelah saya perhatikan kok banyak bule yaa, hei coachnya juga bule!! Kalo saat itu saya gak sedang menunggu tour pasti dengan gak tau malunya saya nimbrung latian sama om bule ganteng hohohoho...

An then, tours begin..

Kalo ini saya sukses melongo, bangunan yang saya kita kayu itu ternyata bambu. Bambu, bambu, bambu dimana-mana. AWESOME!!!! Saya dan teman-teman dipandu pengurus green school berkeliling, di satu sudut saya melihat sekelompok anak bule lagi belajar bernanyi, iihhh lucu-lucu banget deehh..!!


Suasana dari lantai dua, pasukan abu itu rombongan saya :)



Menurut ibu pengurus (maaf saya tidak menanyakan namanya) green school ini diperuntukkan untuk anak-anak ekspatriat yang tinggal dan bekerja di bali (pantas daritadi saya cuma liat bule) murid-murid dan guru-gurunya kebanyakan orang asing, meskipun ada beberapa yang pribumi. Tapi menurut ibu pengurus lagi, untuk orang pribumi masuk ke green school hanya bisa melalui program scholarship dan tesnya susah banget, biayanya juga mahal.

Sekolah ini adalah hasil pemikiran John Hardy, warga Kanada yang telah tinggal di Bali (Sumber) Dari info ibu pengurus, arsitek green school berasal dari UGM. Hooo...menurutnya lagi semua bagian bambu tidak ada yang terbuang. Ada yang menggunakan bambu petung sampai kepada akarnya, kemudian bambu yang tidak lurus digunakan untuk dinding, ada lagi yang digunakan untuk lantai dan tangga. Intinya, semua made by bamboo...!! mantap laahhh...

Bambu yang diambil sampai ke akar untuk tiang bangunan

Para perabot juga dari bambu
Bagian tengah green school






Nah, dari segi pendidikannya sekarang, menurut saya green school ini punya sisi unik sendiri. Anak-anak dituntut untuk bisa fokus, kreatif, cerdas dan aktif. Ruang kelas yang semi terbuka dan ada beberapa yang memang terbuka melatih anak-anak berkonsentrasi, terbukti, anak-anak bule yang saya temui sedang belajar menyanyi itu tidak peduli dengan kehadiran kami, mereka cuek saja menyanyi dan menari lompat-lompat. memang pada awal masuk sekolah mereka masih suka terganggu, tapi seiring berjalannya waktu mereka bisa mengatasi itu.

Kurikulumnya seperti sekolah pada umumnya, ada ekskul juga, tapi anak-anak disini juga belajar bagaimana berbisnis. Tingkat pendidikan yang tersedia dari play group, kindergarten, grade 1-10.

Sayangnya saya kesana sore hari, sehingga proses belajar disana tidak bisa banyak saya ikuti. Di seolah ini, anak-anak juga diajarkan untuk ramah terhadap alam, dari hasil karya mereka banyak sekali yang memanfaatkan barang-barang bekas. Saya melihat hasil karya lukis mereka, kerajinan tangan dll.

Oiya, green school punya pembangkit listrik sendiri loh, sebenarnya konsep gedung bambu ini tidak menggunakan penerangan dan AC, udah adem dan terang kok. Lampu hanya digunakan pada saat darurat seperti ketika saya berkunjung kesana: Hujan dan mendung tebal, sehingga membutuhkan penerangan lebih.

Kabarnya toilet green school juga unik, tapi saya belum melihatnya, jadi saya gak bisa cerita banyak. Yang menarik lagi, di tiang-tiang bambu tertulis beberapa nama orang, ternyata itu adalah orang yang memberikan donasi untuk green school. Saya melihat ada beberapa nama artis dalam dan luar negeri juga loohh.. =D

Saya juga berfoto di salah satu tiang bambu yang bertuliskan 'Just for Love' hahahaha

Me and my Mas :D

Kalo dari maketnya, atap green school keliahatan kayak rumah keong. Asik ngebayangin punya rumah seperti ini, tapi maintenance nya itu kayaknya ribet. green school aja dalam jangka waktu 15 tahun harus diganti bambu baru lagi. Ya memang gak semuanya langsung, tapi bertahap. Kasihan juga nanti ganggu proses belajar mengajar.

Maket green school

***

Green School berlokasi di daerah Sibang Kaja, Badung, Bali. Sekitar 20 menit ke arah utasa dari denpasar dan 15 menit ke arah selatan dari Ubud. Tempatnya terpencil, saya harus berjalan jauh ke pelosok karena bis gak bisa masuk sampai depan green school. Saran saya mending sewa mobil atau motor, hehehehe

Jika ada waktu ke Bali berkunjunglah kesana, terutama untuk orang-orang yang gila akan pendidikan yang 'berbeda' dan seni bangunan atau arsitektur. Saya jamin gak akan nyesel. Kenapa? Rahasia, buktikanlah sendiri hehehehe...

Kalau ingin tau lebih banyak soal green school>>>> About Green School

>>>Foto-foto bukan hasil jepretan saya yah, hehehe. itu saya copy punya teman-teman saya, tapi waktu pengambilannya sewaktu sya datang kesana kok =D


Action dulu sebelum pulang

My Favourite, make me sooo sleepy



Selengkapnya...

Sehari di Metaphora

Jreng...jreng...!!
Tiba-tiba saja saya terdampar disini, kok bisa? Hmmm ceritanya panjang dan gak penting juga hahaha. Intinya saya cuma nunggu waktu saya pulang ke semarang, kereta saya jam setengah sepuluh malam. nah daripada saya seharian bengong gak tau kemana (gak punya duit juga) jadi saya memutuskan buat ngikut pacar saya ke kantor di daerah pejaten.

Sebenernya saya gak enak, takut ganggu orang kerja. Apalagi saya kan orangnya gak bisa diem...
belom sama teman-teman kerja si mas. Untung sedikit banyak saya sudah kenal, hehehe,,, (saya pernah diajak family gathering sih..)

Jadi modal cuek...
Saya naek angot dari jatinegara ke pejaten. 2 kali, angkot 06 sampe kampung melayu trus angkot 16. Saya turun di depan UNAS, dijemput mas, trus mampit makan di AYAM BAKAR MAS MONO di pejaten raya. Rasanya menurut saya kurang mantap hehehe, sambelnya gak pedes...

Oke, sampe di kantor, disambut pak pri (yang jaga kantor). Ternyata gak ada orang, hhmmm...gak banyak sih, cuma ada beberapa arsitek, dan seorang drafter (si mas sendiri) yang laennya pada gak lembur. Hmmm denger dari cerita mas dih ada beberapa arsitek sama drafter yang dipindah sementara buat nyelesein proyek laen.

Jadinya yaa...saya di ruang drafter berdua. Jangan mikir aneh-aneh yaa... ruangan ini gak terpisah kok, eh terpisah deng, tapi gak tertutup, semacam kamar gitu. Asing...kesan pertama saya, ruang kerja saya dipenuhi lemari berisi kuesioner. Sementara disini, hanya ada 3 unit komputer, 3 unit printer yang saah satunya guedeeee buanget!!! terus ada tumpukan gulungan kertas di pojok ruangan. Jadi satu sama mushola mini.

Saya disuruh nunggu sambil maen2 leptop mas, sebenernya sih suruh ngenet di komputer laen, tapi saya gak mau ah jauh2 dari mas, mending maen leptop disampingnya aja. untung bawa modem hehehehe...

15 menit pertama saya masih beradaptasi sama 'kantor beginian' heheheh
sepiiii banget, padahal ada orang, ya beberapa arsitek tadi, tapi mereka serius banget kerjanya. cuma ada suara lagu. kalo di kantor saya, mau lagi serius juga tetap ada yang nyanyi2 (saya sih terutama hahahaha)

ternyata suasananya sih gak tegang, yaahh kan sebelumnya udah kenal sama teman2 mas.

Akhirnya saya ngenet aja lah, sambil sekali-sekali ngelirik mas...
Duuwwhh... saya jadi inget suasana di kos bu sum, waktu mas masih sibuk ngertain TA. Saya yang nemenin, sambil sibuk sendiri. entah kerja, entah maen-maen hehehe...

Saya suka liat mas serius,,habis dia biasanya bercanda melulu, kesannya jadi macho (lebay...)


Sambil ngeliatin yang mas kerjain, kalo ini sya sudah familiar, dari jaman dulu udah sering liar mas bikin gituan... Saya fesbukan dan twitteran deh.. kadang ngegodain mas juga yang berusan ketauan di missed called  mantannya hwahahahahahaha

dasar deh aaahhh.....

Sebentar lagi magrib, gak kerasa.
rencananya abis magrib nanti kita makan bareng trus saya diantar ke pasar minggu sampe dapat angkot.
hahahaha,
saya gak diantar sampe jatinegara. Gpp lah...saya kan mandiri, toh ibu juga pesan tadi kalo jangan ganggu mas yang lagi kerja dan ngerepotin mas. Hmmm....


>>Terimakasih bayak ya mas :-) Selengkapnya...

Keputusan saya...

Saya bukannya menyerah, tapi kali ini saya sudah sampai pada satu titik dimana saya harus memutuskan. Tetap disini atau pergi. Dan saya tidak mau berspekulasi. Karena menjadi pengangguran adalah menyakitkan. Karena itu, mulai hari ini saya stop mencari kerja, sampai 3 bulan kedepan. Akan saya pasrahkan semuanya pada lamaran-lamaran yang sudah saya kirim sebelumnya.


Kalau saya tidak juga mendapat panggilan, maka saya tetap disini.
mengapa begitu? Ya, tanggal 21 maret saya sudah harus mengikuti training untuk riset selanjutnya. otomatis saya mempunyai komitmen terharap kantor saya sampai survey selesai tanggal 1 juni nanti.

Mengapa saya ingin pergi? jujur, saya ingin mencari kehidupan yang lebih baik. Terkadang orang tua saya harus mem-backup kebutuhan saya perbulan.
Saya tidak ingin lancang. Disini tempat sya belajar banyak, tempat saya ditempa fisik dan mental menghadapi dunia kerja. diberikan ilmu tentang social research yang kurang saya dapat di kampus. Dari sinilah saya mengolah data untuk skripsi saya.

Saya sedih sebenarnya, dan saya tidak tahu apa yang membuat saya sedih. Bukan saya tidak senang disini, tapi saya iri dengan teman-teman saya yang sudah berhasil meraih cita-citanya. sementara saya? dari dua tahun lalu masih berkutat hal yang melulu itu-itu saja. Saya suka menjadi asisten peneliti, seperti sekarang. Tapi bukankah ada berjuta proyek riset dan lembaga riset nergi dan swasta diluar sana??

Setidaknya, saya ingin punya penghasilan tetap...

Seandainya, saya lebih berjuang menyelesaikan skripsi saya...
Seandainya, saya lebih keras mencari kerja..
Dan berjuta seandainya-seandainya lain yang berkecamuk dalam hati saya...

Saya masih harus belajar ikhlas, saya tidak benar-benar menjadi pengangguran. Masih ada yang bisa saya syukuri bukan? Toh 3 bulan tidak akan lama :)

Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukaththiban
>>Then which of the favours of your Lord will you deny?
>>Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?


Selengkapnya...

Sate 'Petir' Pak Nino

Petir?
Kira-kira bisa menebak gak kenapa judul satenya begitu?
Puedes buangeettt!!!
Karena itulah sate pak nino dijuluki petir. gak cuma sate, ada juga tongseng dan gule (gulai dalam bahasa jawa) seperti warusng sate pada umumnya.

Ini kali kedua saya berkunjung ke sate pak nino. keduanya ditraktir om saya hehehehe, berapapun tingkat pedas yang anda minta akan diladeni oleh pak nino. Uniknya, tingkatan kepedasan diukur dengan tingkat pendidikan, dari tingkat play group, TK, SD, SMP dan kuliah.

sate, yang dipesan adik saya. gak pake cabe sama sekali


Kali pertama saya pesan sate, karena saya belom mudeng saya pesan pake cabe rawit 5 biji. semua digerus bersama dengan bumbu kecap. Hasilnya??? Hwaaa...!!! gilaaa!! pedes buanget!!!. Saya curiga cabe yang pak nino masukkan lebih dari 5 biji. Pesanan om saya lebih dasyat lagi, tongseng pedes tingkat SMP. sesendok saja saya cicip saya langsung menangis T.T GILAAAA....!!!!!!! pedesnya sampe ke ubun-ubun!! om saya sampe habis buanyak sekali tisu. Harusnya ongkosnya nambah itu hahahaha

Tongseng petir cemen milik saya

Yang kedua saya pesan tongseng, saya gak tau om saya yang pesankan. pokoknya saya bilang pedes aja. Pas dateng, pedes sih, tapi gak mantap!! Yaaaahhh...... Saya protes sama om saya, tapi si om bilang: "besok kamu bolak balik ke toilet loh" aahh, saya c gak peduli, itu kan resiko...

Ternyata setelah diusut lebih jauh itu tadi pedes tingkat play group. Cemeennn aaahhh.....

Nah, sampe siang ini Wiki, putra bungsu om saya sudah 6 kali pup. menurut saya itu karena efek tongseng petir tingkat play group yang dimakan mamanya. Buat ibu-ibu menyusui gak usah ikutan sok pedes deh, kasiaann...



Pengen uji nyali di sate pak nino? Silahkan datang ke ringroad selatan tirtonirmolo Yogyakarta. Dari arah barat warungnya di sebelah kiri, dekat dengan jembatan yang saya gak tau namanya.
untuk satu porsi makanan disana dapat ditebus pake uang 19.000. nasinya menurut saya sih sedikit, jadi saya paling tidak membutuhkan 2 porsi nasi (hehehehe, biar kecil makan saya banyak looh)

gulai yang kata saya sih gak pedes...
Selengkapnya...

WIS = UDAH

Setelah 5 tahun 4 bulan akhirnya 4 huruf sudah resmi disematkan di belakan nama saya


Warda Latifiana, S. Sos

Hahahahaha, saya akhirnya wisudaaaa....!!!!!!!!!!!!!!!
Luar biasa, rasanya tidak percaya saya berhasil menyelesaikan studi saya di kampus yang saya impikan dari kecil 

Saya dari kecil memang sudah punya cita-cita kuliah di UGM, sampe SMP saya menggebu-gebu sekali mau kuliah arsitektur. Akhirnya waktu SMA saya sadar kemampuan menghitung dan gambar saya itu dibawah rata-rata dan saya kembali ke kodrat saya dan kuliah di sosiologi.

mengerjakan skripsi 1,5 tahun menggunakan analisis data sekunder (kebangetan deh)

selain karena tuntutan dosen yang terlalu tinggi, saya juga kepentok di ilmu SPSS saya. aarrrggghhh... pernah semalaman saya tidak tidur hanya karena saya penasaran sama yang namanya T-test dan uji anova. ketika berhasil mengerjakan, saya cengar cengir ke kampus (dengan mata menghitam tentunya) tapi dosennya gak datang. AARRRRGGGHHHH........!!!!!!!!

Saya bahagia, semua berjalan begitu sempurna. Bapak ibu datang dengan bangganya. bapak berdandan maksimal menggunakan jas dan dasi (ganteng banget deh)

Adik saya yang datang Cuma ridho, yg laen sibuk dengan urusan masing2. biarlah…

Dan Man Nobel juga datang. Ngebela-belain ijin dari kantor, berangkat pagi dari jakarta naek pesawat. Hwaaaa.... so sweeet banget deh cintaku itu 

Jam 3 pagi saya sudah bangun, ngingetin mas untuk segera berangkat. Trus leyeh2 dulu sebentar sambil nunggu subuh, subuh baru saya mandi, make up artis saya: ZE, mahasiswi tata busana UNY yang juga asisten make up artist di salon milik ibunya, jam 5 datang dan langsung merubah saya jadi cantik..

Saya suka sekali hasil make upnya, natural, halus dan tidak menor..

Kebaya saya rancangan mbak titik (hahahaha) saya menjahitkan kebaya di kurnia modiste, murah, Cuma 160 ribu 1 setel. Sarunya pake songket samarinda yang saya beli jauh-jauh hari waktu saya ke samarinda.

Make up dan kebaya nya make me feel sooooooo...PURPLE

Fotonya mana?? Hhhmmm Mousetrap picture belom selesai mengeditnya.

Saya bahagia sekali, akhirnya saya jadi sarjana, entah mau kerja apa yang pasti rasanya lega, sudah tidak ada beban lagi

Satu yang bikin saya sedih, mbah ayi gak sempat melihat saya diwisuda, tanggal 23 febuari tepat 40 hari beliau meninggal…

Selengkapnya...

Live in Peace :)

Saya terketuk menulis tentang ini ketika melihat maraknya kerusuhan SARA belakangan ini. Saya geram, saya benci, saya marah!! Sampai sebegitukah orang merasa dirinya benar? Sampai mengorbankan nyawa orang?
Biarkan saya sedikit bercerita.
Saya terlahir dari keluarga yang sangat plural tapi juga sangat taat beragama. Keluarga kakek-nenek dari ibu saya adalah keluarga pesantren. Keturunan kyai yang saya sendiri bingung menjelaskannya. Karena itu ibu mendidik saya dan adik-adik saya keras dalam agama.
Di sisi lain, keluarga bapak saya, terutama keluarga besar nenek saya adalah katholik taat. Almarhumah nenek saya yang cantik jelita adalah mualaf, beliau punya nama baptis. Adiknya ada yang menjadi biarawati.
Itulah yang membuat saya merasa bangga karena berbeda. Saya mendapat pendidikan agama yang keras sekaligus menghargai perbedaan di keluarga kami.
Itulah yang membuat saya sedih sekali. Kami sekeluarga begitu saling mencintai dan menghargai. Setiap lebaran, keluarga besar nenek tidak pernah lupa datang untuk sekedar mengucapkan selamat. Begitupun sebaliknya setiap natal. Kami pun sering dikirimi berbagai kue-kue natal. Ibu tidak pernah keberatan memberi selamat. Tidak takut haram memberi selamat. Menurutnya inilah bagian dari Hablumminannas (hubungan antar manusia).
Pernah ketika puasa, kami tepat berada di rumah saudara kami yang katolik. Kami pun dijamu berbuka. Kami juga dipersilahkan untuk solat magrib dan tarawih di rumahnya. Risihkah ibu? Tidak, beliau solat dengan biasa meskipun disana sini banyak terpajang salib. Menurutnya, dimanapun itu. Sholat ya sholat. Toh tempatnya juga suci, tidak ada bekas liur anjing.
Begitupun ketika nenek saya sempat kritis sekitar 2 bulan lalu. Adiknya yang biarawati (saya biasa memanggilnya Yang Selin, singkatan dari Eyang Franselin) datang bersama rombongan suster. beliau semua mengelilingi nenek saya yang tidak berdaya dan mendoakannya. Marahkah ibu dan bapak saya? Tidak. Yang Selin dan teman-temannya bermaksud baik, mendoakan kesembuhan nenek saya dengan caranya sendiri. Dengan cara yang dianggapnya benar.
Kami tidak pernah meributkan tentang perbedaan kami. Kami saling menyayangi. Memang ketika salah satu dari kami punya ’hubungan khusus’ dengan yang berbeda keimanan. Keluarga terdekatnya tetap saja tidak setuju. Tapi itu kan urusan berbeda. Pernikahan memang selayaknya dengan yang seiman. Sekali lagi, menurut ibu saya ini adalah perkara hablumminannas. Keyakinan islam sudah kami yakini sejak kami kecil, kami habiskan sore kanak-kanak kami dengan mengaji di TPA. Begitupun keluarga besar nenek saya.
Saya pun pernah masuk ke gereja, satu kali. Ketika saya mengikuti sakramen pernikahan tante saya. Saya penasaran setengah mati bagaimana ijab kabul ala katholik. Dan saya diberi kebebasan untuk itu. Yang lucu, bapak saya tertidur di gereja dengan posisi bersimpuh seperti orang berdoa. Hahahaha

Hal inilah yang menjadi kebanggaan saya, kemuarga saya punya tingkat toleransi antar umat beragama yang luar biasa. Pun ketika saya pernah dekat dengan seseorang yg beda agama, ibu memang agak menentang, tapi tidak terang-terangan, secara halus. Dia biarkan teman dekat saya itu datang ke rumah, membantu saya mengerjakan tumpukan PR fisika dan matematika. Dan mengijinkan kami keluar bersama teman-teman kami. Si kembar pun dekat dengan mereka, meskipun mereka mempertanyakan kalung salib yang dikenakannya J

Menurut saya agama adalah keyakinan kita, yang kita anggap benar. Satu yang saya tanggap ketika kuliah sosiologi budaya tidak ada sesuatu yang bisa kita nilai secara biner benar atau salah. Kita pun punya perspektif masing-masing untuk menilai kebenaran. Jadi kita tetap tidak bisa menganggap yang berbeda dengan kita itu salah.
Saya pernah disebut kafir, oleh orang-orang yang mengaku islam yang benar. Mau tau rasanya?? SAKIT!!! Lebih menyakitkan daripada patah hati!! Demi Allah....
Bayangkan yang saya yakini dari kecil, yang saya jalani sepanjang hidup saya dianggap salah!!! Oknum itupun tanpa ragu menuduh ibu saya salah. Tidak. Ibu saya tidak pernah salah mengajarkan tentang agama. Karena beliau tidak asal-asalan. Saya tau itu. Quran dan Hadist yang jadi petunjuknya. Saya yang disuruh membuktikan sendiri kalau saya tidak percaya.
Tidak perlu saya ceritakan detilnya, saya bertemu seseorang yang kemudian mengatai saya kafir. Saya ajak berdebat, dia mementahkannya. Saya benci pada diri saya yang tidak tau banyak soal agama. Dan yang kemudian saya lakukan saya melarikan diri, tapi saya ditahan tidak boleh pergi. Saya lalu menangis sejadi-jadinya. Di tempat umum mereka menenangkan saya, saya seperti kesetanan. Saya hanya ingin pulang, saya meronta dan menangis meraung-raung. Tidak rela apa yang saya lakukan ini dianggap salah, tidak terima saya dibilang kafir. Tidak terima apa yang diajarkan ibu saya dianggap sesat. Saya terus menangis dan menangis.
Dan akhirnya orang itu membiarkan saya pergi dengan syarat saya tidak boleh memberitahukan hasil pertemuan itu dengan siapapun. Saya mau berjanji, yang penting saya bisa pergi. Di perjalanan pulang saya masih menangis, sampai kos saya semakin menagis. Magrib itu sajadah saya penuh dengan air mata. Selepasnya saya cerna lagi kata-kata orang itu, lalu saya sadar kata-kata orang itu. Dia tidak solat, tidak usah saya jelaskan mengapa. Dari situ saya tau saya tidak sungguh2 kafir, dan akhirnya saya tenang. Seandainya saya masih punya kesempatan bertemu ingin sekali saya tampar mulutnya!!

Tulisan saya yang ngalor ngidul ini bermuara pada 1 hal. Saya termasuk korban SARA, dan itulah yang ingin saya sampaikan. Menyakitkan sekali ketika kita dibilang kafir atau sesat. Kalo yang mengatainya sih saya yakin cuek saja, tapi korbannya??
Saya yakin Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan cinta kasih. Beliau punya paman yang tidak islam bukan? Apakah beliau membencinya? Tidak. Apakan beliau mengatai pamannya kafir? Tidak.
Beliau hanya marah pada orang-orang yang menyakiti agamanya, beliau hanya memerangi yang juga memerangi agamanya.
Saya sedih ketika seseorang dengan mudahnya mengatai orang lain kafir.
Saya hanya ingin negara ini damai, sedamai keluarga besar saya....
Selengkapnya...