Live in Peace :)

Saya terketuk menulis tentang ini ketika melihat maraknya kerusuhan SARA belakangan ini. Saya geram, saya benci, saya marah!! Sampai sebegitukah orang merasa dirinya benar? Sampai mengorbankan nyawa orang?
Biarkan saya sedikit bercerita.
Saya terlahir dari keluarga yang sangat plural tapi juga sangat taat beragama. Keluarga kakek-nenek dari ibu saya adalah keluarga pesantren. Keturunan kyai yang saya sendiri bingung menjelaskannya. Karena itu ibu mendidik saya dan adik-adik saya keras dalam agama.
Di sisi lain, keluarga bapak saya, terutama keluarga besar nenek saya adalah katholik taat. Almarhumah nenek saya yang cantik jelita adalah mualaf, beliau punya nama baptis. Adiknya ada yang menjadi biarawati.
Itulah yang membuat saya merasa bangga karena berbeda. Saya mendapat pendidikan agama yang keras sekaligus menghargai perbedaan di keluarga kami.
Itulah yang membuat saya sedih sekali. Kami sekeluarga begitu saling mencintai dan menghargai. Setiap lebaran, keluarga besar nenek tidak pernah lupa datang untuk sekedar mengucapkan selamat. Begitupun sebaliknya setiap natal. Kami pun sering dikirimi berbagai kue-kue natal. Ibu tidak pernah keberatan memberi selamat. Tidak takut haram memberi selamat. Menurutnya inilah bagian dari Hablumminannas (hubungan antar manusia).
Pernah ketika puasa, kami tepat berada di rumah saudara kami yang katolik. Kami pun dijamu berbuka. Kami juga dipersilahkan untuk solat magrib dan tarawih di rumahnya. Risihkah ibu? Tidak, beliau solat dengan biasa meskipun disana sini banyak terpajang salib. Menurutnya, dimanapun itu. Sholat ya sholat. Toh tempatnya juga suci, tidak ada bekas liur anjing.
Begitupun ketika nenek saya sempat kritis sekitar 2 bulan lalu. Adiknya yang biarawati (saya biasa memanggilnya Yang Selin, singkatan dari Eyang Franselin) datang bersama rombongan suster. beliau semua mengelilingi nenek saya yang tidak berdaya dan mendoakannya. Marahkah ibu dan bapak saya? Tidak. Yang Selin dan teman-temannya bermaksud baik, mendoakan kesembuhan nenek saya dengan caranya sendiri. Dengan cara yang dianggapnya benar.
Kami tidak pernah meributkan tentang perbedaan kami. Kami saling menyayangi. Memang ketika salah satu dari kami punya ’hubungan khusus’ dengan yang berbeda keimanan. Keluarga terdekatnya tetap saja tidak setuju. Tapi itu kan urusan berbeda. Pernikahan memang selayaknya dengan yang seiman. Sekali lagi, menurut ibu saya ini adalah perkara hablumminannas. Keyakinan islam sudah kami yakini sejak kami kecil, kami habiskan sore kanak-kanak kami dengan mengaji di TPA. Begitupun keluarga besar nenek saya.
Saya pun pernah masuk ke gereja, satu kali. Ketika saya mengikuti sakramen pernikahan tante saya. Saya penasaran setengah mati bagaimana ijab kabul ala katholik. Dan saya diberi kebebasan untuk itu. Yang lucu, bapak saya tertidur di gereja dengan posisi bersimpuh seperti orang berdoa. Hahahaha

Hal inilah yang menjadi kebanggaan saya, kemuarga saya punya tingkat toleransi antar umat beragama yang luar biasa. Pun ketika saya pernah dekat dengan seseorang yg beda agama, ibu memang agak menentang, tapi tidak terang-terangan, secara halus. Dia biarkan teman dekat saya itu datang ke rumah, membantu saya mengerjakan tumpukan PR fisika dan matematika. Dan mengijinkan kami keluar bersama teman-teman kami. Si kembar pun dekat dengan mereka, meskipun mereka mempertanyakan kalung salib yang dikenakannya J

Menurut saya agama adalah keyakinan kita, yang kita anggap benar. Satu yang saya tanggap ketika kuliah sosiologi budaya tidak ada sesuatu yang bisa kita nilai secara biner benar atau salah. Kita pun punya perspektif masing-masing untuk menilai kebenaran. Jadi kita tetap tidak bisa menganggap yang berbeda dengan kita itu salah.
Saya pernah disebut kafir, oleh orang-orang yang mengaku islam yang benar. Mau tau rasanya?? SAKIT!!! Lebih menyakitkan daripada patah hati!! Demi Allah....
Bayangkan yang saya yakini dari kecil, yang saya jalani sepanjang hidup saya dianggap salah!!! Oknum itupun tanpa ragu menuduh ibu saya salah. Tidak. Ibu saya tidak pernah salah mengajarkan tentang agama. Karena beliau tidak asal-asalan. Saya tau itu. Quran dan Hadist yang jadi petunjuknya. Saya yang disuruh membuktikan sendiri kalau saya tidak percaya.
Tidak perlu saya ceritakan detilnya, saya bertemu seseorang yang kemudian mengatai saya kafir. Saya ajak berdebat, dia mementahkannya. Saya benci pada diri saya yang tidak tau banyak soal agama. Dan yang kemudian saya lakukan saya melarikan diri, tapi saya ditahan tidak boleh pergi. Saya lalu menangis sejadi-jadinya. Di tempat umum mereka menenangkan saya, saya seperti kesetanan. Saya hanya ingin pulang, saya meronta dan menangis meraung-raung. Tidak rela apa yang saya lakukan ini dianggap salah, tidak terima saya dibilang kafir. Tidak terima apa yang diajarkan ibu saya dianggap sesat. Saya terus menangis dan menangis.
Dan akhirnya orang itu membiarkan saya pergi dengan syarat saya tidak boleh memberitahukan hasil pertemuan itu dengan siapapun. Saya mau berjanji, yang penting saya bisa pergi. Di perjalanan pulang saya masih menangis, sampai kos saya semakin menagis. Magrib itu sajadah saya penuh dengan air mata. Selepasnya saya cerna lagi kata-kata orang itu, lalu saya sadar kata-kata orang itu. Dia tidak solat, tidak usah saya jelaskan mengapa. Dari situ saya tau saya tidak sungguh2 kafir, dan akhirnya saya tenang. Seandainya saya masih punya kesempatan bertemu ingin sekali saya tampar mulutnya!!

Tulisan saya yang ngalor ngidul ini bermuara pada 1 hal. Saya termasuk korban SARA, dan itulah yang ingin saya sampaikan. Menyakitkan sekali ketika kita dibilang kafir atau sesat. Kalo yang mengatainya sih saya yakin cuek saja, tapi korbannya??
Saya yakin Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan cinta kasih. Beliau punya paman yang tidak islam bukan? Apakah beliau membencinya? Tidak. Apakan beliau mengatai pamannya kafir? Tidak.
Beliau hanya marah pada orang-orang yang menyakiti agamanya, beliau hanya memerangi yang juga memerangi agamanya.
Saya sedih ketika seseorang dengan mudahnya mengatai orang lain kafir.
Saya hanya ingin negara ini damai, sedamai keluarga besar saya....
Selengkapnya...

Kitab Lontar Sutasoma Salinan I Wayan Muditadnana

Seorang tua yang masih penuh semangat, tulus dan ramah. Itulah yang saya tangkap ketika pertama kali bertemu beliau. I Wayan Muditadnana, seorang penulis naskah kuno diatas lontar.
Saya mengenalnya ketika berkunjung ke Tenganan, salah satu desa adat di Bali. Rumahnya sangat sederhana, seperti sebagaimana rumah di Tenganan pada umumnya, tanpa teras dan halaman. Memang saya tidak mengenalnya secara khusus, tapi Demi Tuhan saya baru mengetahui ada sosok semengagumkan itu tepat ketika saya melihat dan mendengar beliau membaca penggalan kitab sutasoma.
I Wayan Muditadnana

Awalnya beliau menceritakan ketertarikannya terhadap sejarah dan kitab-kitab kuno. Juga tentang gurunya dari belanda yang mengajarinya bahasa sansekerta (jujur saya miris mendengarnya). Berikut kecintaannya terhadap kitab-kitab itu, juga sedikit kegelisahannya karena beliau tidak punya penerus. Dan saya berpikir, haruskah besok anak-anak saya mempelajari warisan nenek moyangnya dari orang asing?
Pak Wayan sudah punya banyak karya, banyak sudah kitab yang ditulisnya lebih tepatnya disalin, banyak pula orang yang memesan dan membeli karyanya. Beliau sampai punya 4 buah buku khusus tamu yang datang memesan dan membeli berikut nota pembelian dan pengirimannya. Dengan semangatnya beliau bercerita kalau pernah ada orang yang ingin membeli buku catatan tamu itu, beliau tertawa-tawa karena heran untuk apa buku itu dibeli. Tapi tentu saja beliau tidak memberikannya hehehehe
Beliau rendah hati, tidak ingin disebut seniman, pujangga atau kata-kata bombastis sejenis. Karena menurutnya beliau melakukan pekerjaannya karena hobi (juga cinta dan ketulusan-yang ini menurut saya). Menurut ceritanya, beliau bangun jam 4 pagi dan langsung mulai bekerja, dengan lampu sorot cipataannya sendiri: lampu pijar dalam bola separuh yang dilapis semaram alumunium foil atau kertas timah (saya kurang tahu pasti). Tapi sampai saat ini pak Wayan membaca naskah-naskah tersebut tanpa bantuan kacamata. Luar biasa.
Ada satu karya yang jadi andalannya, yang sepertinya sampai kapanpun tidak akan diserahkan kepada siapapun: SUTASOMA. Yang di dalamnya memuat semboyan negara kita: Bhinneka Tunggal Ika. Sepenuh hati beliau menceritakan kepada semua tamu pada waktu itu, termasuk saya, mengenai kecintaannya terhadap karya itu. Dan dengan segenap kebanggaan penuh, karena tamunya mayoritas anak muda, beliau mengambil kotak berisi salinan kitab tersebut. Berbeda dengan karya-karya lainnya, Sutasomanya ditempatkan dalam kotak merah yang cantik, dimana di sisi-sisinya diukit bunga-bunga yang beliiau tulis dengan emas. Tulisan dalam lontar ditulis dengan kemiri yang dibakar. Beliau menyelesaikan itu dalam 2 tahun. Karya tulisan lontar itu tersusun dari potongan-potongan lontar berbentuk persegi panjang yang disatukan dengan tali di tengahnya.
 Kotak berisi salinan kitab Sutasoma

Cover salinan kitab Sutasoma

Dan seperti janjinya, beliau membacakan kitab bertuliskan tulisan sansekerta itu kepada kami. Membacanya bukan asal. Harus ada nadanya, seperti nembang (menyanyi) kalo dalam istilah jawa. Kata pak Wayan, cara membacanya HARUS seperti beliau, kalau tidak beliau tidak suka. Saya jadi ingat ibu saya yang sering memarahi saya kalau mengaji tidak dengan lagu yang enak, ibu saya suka kalo orang ngaji pake qira’ah gitu. Tapi saya kan gak bisa hahahahaha. Seperti itulah pak Wayan, membaca kitab Sutasoma dan kitab sansekerta lain juga harus ada lagunya.
Beliau membacakan bagian kitab yang mengandung kalimat Bhinneka Tunggal Ika, di halaman 115:

Rwãneka dhãtu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Šiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa,

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jualah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran

Demi Tuhan saya merinding mendengarnya, rasanya ingin menangis menyadari betapa besar warisan nenek moyang kepada kita. Setelahnya pak Wayan juga bercerita, kalau dulu Pak Karno pun mendalami kitab itu sehingga bisa merumuskan semboyan negara. Orang bali dulu biasa mengkaji kitab-kitab lama. Seperti anak-anak pesantren mendalami kitab kuning. Saya bingung bagian mana yang saya kagumi. Sutasoma, Pak Wayan, Bung Karno, atau ketiganya. Begitulah seorang pemimpin, tidak pernah melupakan sejarahnya.
Pada detik dimana pak Wayan membacakan kitab itu, saya tau saya semakin jatuh cinta, tapi saya bingung, pada siapa... tapi sepertinya saya positif mengagumi sosok tua penuh semangat di depan saya: I Wayan Muditadnana
Ingin berkunjung ke rumah beliau? Mudah saja, datang ke Tenganan, dari gerbang desa hanya sekitar 100-200m akan ada petunjung rumah pak Wayan.



P.s: Sejak KKN di borobudur tahun 2008 lalu, saya bertekad memberi nama anak saya dalam bahasa sansekerta, dan semenjak bertemu pak Wayan, tekad saya semakin bulat. Karena menurut saya bahasa sansekerta itu indah, agung, historikal, megah. Bagaimana Afret Nobel? Setuju? Hahahahahahaha
Selengkapnya...

Fabi ayyi ala i rabbikuma tukaththiban


Penggalan surat Ar-Rahman, yang selalu menjadi favorit saya.

Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukaththibani
 kata-kata maha dasyat yang selalu sanggup membuat saya bangkit dari keterpurukan,
ketika apa yang saya ingini belum bisa saya raih,
 Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukaththibani
 ayat yang menurut saya sederhana tapi sarat makna,
entah kenapa ingin menangis rasanya ketika saya yang rapuh ini mencoba berdiri setelah terjatuh,
 Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukaththibani
 ayat yang sanggup membuat saya merasa dekat kepadaNya,
yang mampu mengkerdilkan saya dari kesombongan dan keangkuhan diri

Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukaththibani
Then which of the favours of your Lord will you deny?
Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?
 
Allah...aku mencintaiMu, Engkau tahu itu,
terimakasih...


Selengkapnya...

Menyusur Lereng Lawu (part 2)

Cerita Sebelumnya.... :D

Subuh...
Semangat sudah membara, setelah solat dan mandi kami sarapan sambil misuh-misuh menunggu mas alan yang belum juga sampai ke rumah mbak norma. Jadwal perjalanan kami mundur dari rencana gara-gara juragan bakso itu hehehe...

Candi Cetho dan Candi Sukuh yang akan jadi tujuan kami hari ini...

Sekitar jam 8 pagi kami berangkat, naik bis yang menuju terminal. aiihhh...maafkan saya yang lupa nama bis dan terminal juga ongkosnya. Pokoknya terminalnya itu dekat stasiun solo balapan. Dari stasiun kami naik bis lagi jurusan tawangmangu. lupa juga ongkosnya, yang ngurus kan mas wisnu pokoknya saya sudah setor 50ribu, beres perkara haihai...!!


Perjalanan menuju tawangmangu cukup jauh, sekitar 1 jam, dan karena kami sama-sama belum pernah ke kedua candi itu, kami minta petunjuk bapak kernet bis yang baik, saya tidur selama di perjalanan. ngantuk sekali rasanyaa...

Kami turun di terminal tawangmangu Intinya, kalau mau kesana bilang saja ke pak kernet bisnya, mau ke cendi cetho, nanti pasti diturunin di terminal itu...



Kami ganti angkot yang menuju arah candi cetho, memang gak sampai ke candinya, tapi nanti kita akan diturunkan di pangkalan ojek. Disana kami tawar menawar harga. Sekali lagi urusan mas wisnu hahahahaha. Kami terima beres. Empat ojek kami sewa, masing-masing satu orang. Berdasarkan cerita bapak-bapak ojek itu candi cetho masih sangat jauuuhh diatas. Nah, itu sebabnya saya pilih ojek yang motornya mirip punya bapak saya honda GL, saya tau motor itu bandel dalam urusan tanjak menanjak..



Benar saja, perjalanan yang mengerikan namun indah itu ditempuh dengan mudahnya, sambil ngobrol tentang putri bapak ojek itu saya menikmati indahnya hamparan kebun teh di kanan kiri, sebenarnya saya kurang bisa menikmati, karena saya gak pake helm dan memakai softlens, jadi sepanjang jalan mata saya kriyip-kriyip.






Sampai di puncak bukit, saya seperti dibawa ke BALI...!!!
Serius, saya gak main-main...berjejer gerbang ala bali di pinggir-pinggir jalan. Dipuncaknya ada seperti sebuah pura yang tertutup kabut. Waahhhh.....benar-benar indah,,,

Banyak sejarah tentang candi cetho, yang saya gak tau...seperti lambang-lambang lingga yoni. Juga cerita tentang kenapa ada masyarakat Hindu diatas bukit ditengah-tengah Jawa Tengah. Kabarnya gara-gara perkembangan agama islam di pusat pemerintahan sehingga masyarakat hindu itu mengungsi ke atas bukit di lereng lawu. Begitu...





Candi ini terdiri dari 13 tingkat (banyak yaa..) nah, di tingkat 11-12 terdapat beberapa ruangan yang digunakan untuk bersemedi, tandanya gampang saja, jika ruangan itu digembok berarti tidak ada yang bersemedi di dalamnya.

selain candi cetho, di kawasan itu juga terdapat candi kethek dan puri saraswati yang digunakan sebagai tempat pemujaan Dewi Saraswati. berbeda dengan candi kethek yang hanya tampak seperti tumpukan bata, puri saraswati ini sangat bersih dan indah. sepetinya juga baru dibangun sehingga masih tampak terawat..




Puas menikmati indahnya, kami beristirahat di warung dekat gerbang candi, menyantap mi instan dan secangkir kopi panas. Waahhh...cocok sekali di udara seperti ini. Di warung itu pula, kami menyusun rencana menuju candi sukuh. Bertanya dengan bapak penjual warung, bapak itu menawarkan dua alternatif, naij ojek atau jalan kaki. naik ojek mungkin sekitar 25-30 ribu. Kalau jalan kaki, kata bapak itu "dekat saja, dibalik bukit itu" 

Setelah mempertimbangkan berbagai hal, dan bujuk rayu mas wisnu tentunya, diputuskan untuk berjalan kaki...

Nah, penderitaan kami akan bermula sekarang
...bersambung...


Selengkapnya...

Menyusur Lereng Lawu (Part 1)

Pertengahan Tahun 2010, saya dan ketiga teman kantor saya merencanakan perjalanan backpacker. Bermula ketika kami dilanda kelelahan mental (hahahahaha, sedikit berlabihan) setelah survey lapangan berakhir. Hmm, sedikit info, kami bekerja pada satu proyek riset survey di jogja.

Sebenarnya perjalanan itu bisa dibilang tidak sengaja, bermula dari celetukan mas wisnu, rekan kerja saya yg rindu berpetualang. mungkin dia muak berkutat dengan kuesioner, sementara tubuhnya tersusun dari jutaan kata yang berhubungan dengan alam. Mendengarnya berkata begitu saya mendadak bersemangat, akhirnya pembicaraan sampai kepada tujuan perjalanan. Dari Pangandaran, Kampung Naga, Pulau Sempu dan sebagainya. Tapi ternyata yang berminat hanya saya dan mas wisnu, hhhmmmm.... Bakal repot nanti urusan perijinan perjalanan saya.

Usut punya usut, mas wisnu mengingat ada satu tempat yang ingin dia kunjungi di daerah Karang Anyar, Solo. 2 buah candi eksotis di lereng Gunung Lawu. Akhirnya saya dan mas wisnu sepakat pergi kesana dan berencana melancarkan bujuk rayu kepada dua orang teman kantor kami yang memang tinggal di daerah sana. Saya bocorkan satu rahasia, mas wisnu itu sangat ulung dalam perkara rayu-merayu dan gombal-menggombal, jadi taktik kami untuk mendapatkan tempat menginap gratis berhasil dengan sukses!! \(^.^)/

Tema perjalanan kami kali ini Backpacking, jadi kami mempersiapkan masing-masing Rp 50.000 rupiah, diserahkan kepada mas wisnu sebagai penannggung jawab perjalanan. pesertanya 3 orang saya, mas wisnu, mbak norma dan mas alan.

Singkat kata...

Jumat, 23 Juli 2010
Pukul 18.30 kami berkumpul di stasiun lempuyangan. mas alan sudah berangkat dulu, naik motor, karena masih berkepentingan mengurus warung baksonya hehehehehe

Pukul 19.00 kereta Prambanan Ekspres yg akan membawa kita ke Solo. Rp 9.000 rupiah. Beruntung kami mendapatkan tempat duduk. hhmmm....nikmatnya, dapat tempat duduk di prameks, liyer-liyer deh saya...
kami turun di Stasiun Solo Balapan, dijemput papa mbak norma langsung menuju ke rumahnya..



Setelah beristirahat dan makan malam (gratis hehehe) kami berempat menjelajah malam di kota Solo. Ngarsodipuran dan keraton solo menjadi tujuan kami. Saya kurang begitu mengerti sejarah ngarsodipuran, yang pasti malam itu ngarsodipuran tengah bersiap untuk pementasan keroncong esok malam. Biar saya gambarkan. Ngarsodipuran adalah sebuah jalan di Kota Solo, terdapat semacam museum, ada satu tempat, saya lupa namanya. yang akan menjadi tempat pementasan keroncong. di depannya terdapat patung sepasang orang berpakaian adat jawa dan sebuah kentongan raksasa. satu yang jadi favorit saya, Pohon Lampu Sarang burung... waah itu cakep banget!!


Dibawahnya kami bercerita tentang masa kecil kami. Sewaktu SD, kami mendapat pelajaran muatan lokal jawa yang di dalamnya ada pelajaran karawitan (gamelan jawa) dan nembang (menyanyi) jawa. hwahhh seru sekali...!! belum lagi kehebohan cara kami bercerita yang sangat lebay hahahahahaha

setelah itu, kami jalan-jalan berkeliling kraton solo, hanya berjalan-jalan saja, karena seingat saya waktu sudah larut malam. Nah, karena kami sudah lapar, akhiqnya kami nongkrong di angkringan di daerah Solo baru, di jalan menuju waterboom Pandawa, dekat patung hanoman. Jam 1 dini hari kami sampai ke rumah mb norma dan langsung istirahat. karena esok one day trip kami dimulai jam 7 pagi...

...........zzzzz.......

Bersambung kesini looh ^^ Selengkapnya...

Ulang tahun saya vs Pangrango

Saya bingung harus memulai dari mana. Yang saya tahu pasti saya sedang merasa gundah, saya sedang merasa diperlakukan jahat atau tidak adil. Tapi, sejujurnya ada yang berkecamuk dalam hati saya (halaahhh...).
Begini, mengenai saya dan mas, hehe, hidup saya akhir-akhir ini penuh dengannya. Saya tidak sedang bertengkar memang, kami masih berkomunikasi seperti biasa, masih terkadang memanggil ’cinta’. Masih mengucapkan selamat tidur, selamat pagi dan memberi semangat ketika kami sama-sama akan berangkat bekerja.
Lalu apa yang salah? Ini yang saya tidak mengerti. Saya tau mas sangat menggilai berpetualang. Dia rindu naik gunung, itu yang dia beritahukan pada saya dengan segenap kemelankolisan yang dia punya (bahkan dia tidak pernah seperti itu pada saya). Tapi dia ingin melaksanakannya pada hari ulangtahun saya. Padahal jauh-jauh hari kami sudah bersepakat untuk menghabiskan waktu berdua di hari itu. Bagaimana mungkin saya tidak gundah??
Hati saya berontak, saya sempat marah, marah sekali.... saya memang belum menumpahakan amarah saya kepada mas, saya bingung...
Di sisi lain saya juga merasa egois, saya takut saya salah melarang-melarang kesenangan mas. Tidak adakah jalan tengah??
Saya ingat perkataan seorang teman kalau laki-laki sejenis mas nobel saya itu memang jangan terlalu diikat, biarkan dia bebas karena dia tidak akan berpaling. Intinya adalah laki-laki yang terobsesi pada satu hal dia hanya akan melihat hal itu. Tapi kan saya sudah merencanakannya jauh-jauh hari? Kenapa dia sekonnyong-konyong membatalkannya hanya karena kemelankolisannya yang mendadak rindu mendaki itu?
Salahkah saya menuntut janji saya?
Salahkah saya melarangnya?
Salahkah saya memaksakan kehendak??

”untuk mas dan gunung dinda harus rela mengalah” katanya
Posisi saya tidak menguntungkan kali ini, saya hanya bisa berharap keajaiban....

Mungkin ulang tahun saya memang tidak semenyenangkan menaklukkan pangrango..


Selengkapnya...

Kawaii Sushi

Ini pengalaman kedua saya makan sushi, rencana yang muncul tiba-tiba setelah iseng membaca beberapa review tentang restoran (hhmmm, kalo boleh saya sebut restoran) sushi di pom bensin Coco dekat jembatan lempunyangan.


pom bensin coco?? ya, itu memang namanya, saya baru tahu setelah melitah struk pembayaran, dan teman kantor saya memang mengiyakan. Katanya itu daerah jajahannya jadi dia tau, setelah ditanya kenapa bisa bernama begitu dia hanya bisa menjawab COCO diambil dari kata kidul kali. Thats it! Agak maksa yaa?? hhmmm,,,sangat memaksa saya rasa lebih tepat hahahahaha

oya, karna ini pengalaman kedua saya makan sushi tidak berarti saya suka sushi yaa...
pengalaman pertama justru sangat menakutkan!!
Waktu itu saya bersama teman2 kantor saya sepakat untk makan bersama di Hotaru cafe, saya tidak tau alamatnya, yang pasti di depan mirota gejayan. nah, berhubung saya belun pernah makan makanan jepang dan saya sudah membuktikan bahwa udang mentah segar itu enak saya berani-berani saja pesan sushi... waktu itu saya pesan sushi kepiting, karena saya sedang rindu kepiting HARRY CRAB di Samarinda yg super enak itu.

Ternyata harapan saya sirna, pertama kali disajikan saya sudah menciium aroma-aroma tidak sedap dari makanan yg saya pesan, saya bingung bau apa, entah dari norinya atau amis kepiting atau apalah saya juga tidak tau, pokoknya saya makan aja, tapi ternyata..hueeekkkkkssssssssss!!!!!!!!!!! Di dalamnya ada potongan ALPUKAT!!! Yaaiiiikkkkssssss!!

finally jangan ditanya nasib itu sushi...

Setelah berapa lama saya membeanikan diri makan sushi lagi, kawai sushi itu, saya berani karena slogannya "Japanesse food Indonesian taste" dan menurut review beberapa orang isi sushinya dimasak, hhmmmm padahal saya rindu makan udang mentah segar.

karena itu saya mengajak dua teman kantor saya untuk makan disana, jadilah kita bertiga pergi. menerabas hujan sore-sore. jogja lagi melow, makanya nangis melulu hehehehe


Sebuah tempat di SPBU yang jadi tujuan kami, saya menemukannya tidak sengaja ketika mengisi bensin kala saya dan anak-anak kos sendok jaya piknik ke pantai siung. kecil saja tempatnya, bernuansa hijau. Menu yang saya pesan hhmmm, sempat bingung membolak-balik menu, saya juga meneliti satu persatu apakah ada kandungan alpukat di dalam menu itu, kalo iya hmmmpphhh jangan harap saya pesan. alpukat dicampur nasi, rasa itu mengerikaaannn!!!!!!



Akhirnya, saya pesan Tempura Shrimp Roll sushi dan lemon tea, teman saya menyarankan ocha biar berasa makan makanan jepang. tapi saya gak suka teh tawar....

Dan ternyata pesanan saya gak salah, itu enak. cukup bisa diterima lidah ungaran saya hohohoho. apalagi itu disajikan dengan bubuk cabe, waahhh kan itu Indonesia banget, lebih enak kan daripada wasabi yg macem odol. Hmm, acar jahe juga diberikan sebagai pendamping, ini gak kalah gak enak hahahaha

saya pikir sih bukan salah restoran atau sushinya kalo saya bilang gak enak. Lidah saya ini yg jadi biang keladinya ^^



Selengkapnya...