21 Weeks Pregnancy: Kehamilan, Persalinan dan Ketakutan-Ketakutan Itu

Udah separuh perjalanan kehamilan, masuk ke minggu 21.
Sempat ada masalah di minggu ke 19 dan 20 tapi Alhamdulillah teratasi dengan baik.

Kadang memang di saat-saat tertentu lupa kalo sedang bawa nyawa calon manusia. Aaah...kalo ingat itu rasanya cuma bersalah doank sama bayi cinta. Maafkan Ibu ya, Nak....

Beberapa kali sempat tiba-tiba kayak dizzy gitu, yang rada parah pas abis makan siang di kantor, tiba-tiba badan dingin. Untung gak sampe pingsan. Yang kedua pas belanja di pasar, itu udah pake gelap pandangan matanya, untung ada kursi dan penjualnya ibu-ibu, jadi paham lah yaa orang hamil gimana, huhuhuhuhu....

Dan sempat flek di tengah-tengah jeda meeting. Gilanya aku gak minta dilarikan ke rumah sakit, malah semedi ngajakin ngobrol si bayi kirim afirmasi biar dia baik-baik aja. It works looh...!

Memang dari sejak awal tau bayi cinta ini bernyawa (minggu 12) udah diwanti-wanti ibu untuk sering ngajakin ngobrol. Gak cuma aku, tapi ayahnya bayi cinta juga. Whatever dia belum bisa denger, karena dia udah bisa ngerasain 'gelombang cinta' ayah ibunya. Doesn't make any sense? Yaah ini mah paling teorinya kayak molekul air yang didoain sebelum diminum itu. *sok tau lagi*

Selengkapnya...

Untuk Anakku (Catatan 16 minggu kehamilan)

16 minggu sudah kamu di rahim ibu, Nak....
Biar ibu ceritakan kejadian semalam. Sejak kemarin pagi, ayahmu sudah tidak sabar ingin melihat jenis kelaminmu. Ayah berbicara banyak padamu, jangan malu-malu, katanya. Ayah dan ibu rajin sekali membaca artikel perkembangan bayi tiap minggu. Dan melihat video perkembangan bayi-bayi lain. Di tempat ibu memeriksakan kandungan alatnya canggih sekali, dokternya pun baik. Ibu tahu, kelaminmu mulai terbentuk sejak usia 12 minggu, tapi belum ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Dan mulai minggu ini, minggu ke 16, kelaminmu sudah mulai berkembang dan terlihat jelas perbedaannya.

Ayahmu ingin punya anak laki-laki, katanya agar punya teman koalisi melawan ibu. Juga agar nanti bisa menemaninya naik gunung dan main bola. Kalau ibu? Laki-laki atau perempuan sama saja. Semua akan jadi kebanggaan ibu kan?

Kamu sudah terlihat besar, ibu tidak tahu berapa ukuran tubuhmu, kata dokter sudah tidak bisa diukur panjang kepala ke kaki. Kakimu sudah panjang, Nak.... Jari tanganmu terlihat, dan melambai. Tapi tidak seaktif bulan lalu. Mungkin kamu terlalu lelah menemani ibu meeting sepanjang pagi-sore ya? Dokter bilang gerakanmu akan bisa ibu rasakan dalam 1-2 minggu ini.

Menurut dokter, kamu perempuan.
Selengkapnya...

Liburan Kilat! Malang - Bromo

Rencana trip Malang-Bromo tersusun sangat lama di kepala. Ini adalah tujuan pertama honeymoon kami sebenarnya. Tapi gagal. Kenapa? Waktu dan duitnya gak cukup *jujur banget*. Jadilah kami setelah menikah honeymoon ke Pangandaran. (Ceritanya kurang lebih disini). *Besok kalo sempat yang versi aku, aku tulisin sendiri. Pasti lebih seru :p*

Tapi namanya pengantin baru suka ada aja rejekinya yaa, akhirnya kesampaian juga kami ke Malang-Bromo. Berawal dari kado tiket pesawat Air Asia PP dari om Didik (Thank you so much, Om!). Sebenernya tiket ini syaratnya cuma: dipake tahun 2013, gak pake transit dan jangan dipakai pas peak season. Masalahnya ada di kita, kita gak punya paspor (manis banget kan rute luar negeri Air Asia, si om udah nawarin aja “Kemana? Singapur? Bangkok? Terserah kalian”), dan gak punya cuti (sama-sama baru pindah kerja ke tempat baru abis married)

Seneng-seneng pusing. Mau trip kemanaaa di weekend doank…..rute dari Jakarta cuma Medan, Makassar, Jogja, sama Surabaya. Ke Jogja males donk ah, bosan. Menurut jadwal, yang memungkinkan berangkat after office hour cuma Makassar sama Surabaya. Tapi kalo ke Makassar, aku maunya mampir ke Tanjung Bira/Toraja, soalnya kalo kotanya udah pernah nyicip. Mikir-mikir dan hitung-hitung akhirnya jatuhlah Surabaya, tujuan utama tentu saja mewujudkan mimpi ke Malang dan Bromo (Ujungnya gak bulan madu juga, jalan-jalan)

So, ini catatan liburan kami.......
Selengkapnya...

My Pregnancy : 12 weeks

Percaya diri dan kuatir campur aduk pas kontrol semalam, gara-gara kegiatan yg menurut sebagian orang rada ngawur, dan usia kandungan trimester pertama yg sangat rawan. Tapi aku juga cukup PD, karena aku gak pernah punya riwayat penyakit yang aneh-aneh.


Agenda sebulan lalu adalah perjalanan dinas Jakarta-Malang naik kereta. (Part ini yg bikin males cuma bosen di jalan doank), snorkeling di Pulau Harapan dan sekitarnya (Lumayan juga 3 jam terombang-ambing di laut, untung gak pake jackpot, mual doank) dan panas-panas survey lapangan di dalam kota Jakarta naek motor hehehehe

Yg juga bikin kuatir adalah nafsu makan yang belum kembali, meskipun udah gak pernah pake acara muntah lagi. Hobinya pepaya, mau gak mau, demi mengurangi kesulitan BAB. Perut belom buncit lah, ya kayak gak bisa BAB gimana sih buncitnya, gitu-gitu aja.... Gak kelihatan hamil pokoknya.

Di ruang tunggu udah nervous, sambil dalam hati terus-terus bilang "kamu harus sehat ya, Nak...". Sambil mupeng liat perutnya ibu-ibu lain yg udah buncit dan badannya berisi. Kok aku begini-begini ajaaaa....

Tapi pas udah lihat anakku, ilang deh semua nervous nya. Rasanya hati jadi ceraaaah banget. Liat dia bergerak-bergerak. Awalnya dia cuma guling-guling kanan-kiri, terus pas terlentang tangannya dia gerakin, pas adegan itu dokternya langsung bilang "Dadah, Bapaak.....!". Bapaknya begong doank masih....

Fetal development 12 weeks (source: babycentre.co.uk)
Selengkapnya...

Pregnancy by Design

Kenapa by design? Well, karena direncanakan.


Awalnya kami memang sepakat untuk menunda punya anak, pikiran saya yah 1 tahun dulu. Ada banyak pertimbangan, yang....kayaknya gak mungkin yah dibeberin disini. 1 bulan setelah menikah udah banyak aja gitu yang nanya, udah isi belom, padahal list destinasi bulan madunya juga belom banyak yg direalisasikan. Kapan lagi kan ya jalan bebas berdua?

Gak kesemua orang juga bilang menunda, ada yang teramat sensitif terus malah diceramahin panjang kali lebar kali tinggi, kesimpulannya sama: NANTI KEBABLASAN SUSAH HAMIL. Jujur aja sempat ciut dibilang begitu. Tapi kita berdua sih positif thinking aja. Pasti dikasih. Pasti. 

Ibu malah kalo ditanya udah mau punya cucu belom malah dijawab : "Halah, paling juga dia belom pengen". Lah, kita syok juga. Padahal pas jaman kita pacaran bayi orang selalu diakui "Ini cucuku". Perasaan perempuan emang misterius banget.....
Selengkapnya...

Wedding: The preparation is (almost) done!

Minggu lalu,

Sahabatku bertanya 'sampai dimana persiapanmu?'. 'DONE!' And she almost passed out. Hahahaha.

Begini, sebenarnya dari acara lamaran bulan lalu aku masih teramat disibukkan dengan pekerjaan yang bertumpuk. Aku dan tim harus bekerja ekstra, termasuk weekend. Tidak lama setelah lamaran dengan tekanan begitu besar aku sampai pada....aku senang menyebutnya PMS (Pre Married Syndrome). Aku mendadak benci pada pekerjaanku, karena pekerjaan ini menghasilkan deretan angka di buku tabungan yang kemudian aku cocokkan dengan daftar budget pernikahanku...... dan aku tidak bahagia.

Aku terbelit masalah keuangan. Dan aku benci itu.

Berada dalam tekanan membuat aku menjadi tidak peduli terhadap orang lain. Dan aku sempat beberapa kali berdebat dengan ibuku untuk memotong beberapa kebutuhan 'tidak penting' pernikahan. Ibuku tidak setuju. Kemudian kami bertengkar. Aku tidak menyalahkan ibuku. Ibu sempat mencurigai aku terutar virus perempuan kota besar : 'terobsesi pada karir dan tidak ingin menikah'. Jika tiba-tiba sulungnya menikah, apakah salah jika Ibu begitu berbahagia? Tentu saja tidak.

Perdebatan dengan ibu berujung pada kesepakatan bahwa kita harus bekerja bersama-sama. Ibu tidak ingin jadi bahan pembicaraan orang karena konsepku yang menurutnya terlalu 'sederhana'. And then I was like : THE PERFECT WEDDING IS A MYTH. Iya kaaan?? Mau seperti apapun pasti akan selalu ada manusia-manusia nyinyir yang gak fokus ke betapa indahnya persatuan dua hati. Tentang betapa ajaibnya sebuah jodoh itu bertemu. Mereka selalu aja nyinyir ke itu kenapa baju pengantinnya begitu? Kenapa ini makanannya begini doank. Heloooo??? (terus aku jadi ikutan nyinyir)

Aku cukup gerah karena kemanapun aku pergi pembicaraan tentang cacatnya acara pernikahan seseorang itu selalu jadi headline. Di KRL, metromini, warteg. SHUT UP! Emangnya kalo resepsinya cacat kehidupan pernikahannya bakal cacat? Akupun selalu belalu berpegang pada kalimat sakti:
"focus on the marriage, not the wedding"

Karena urusan melankolis sudah beres, aku kemudian bergerak.
  1. Catering. Aku dan ibu sepakat ibu yang akan mengurus masalah ini, yang penting makanannya fresh, dan tidak kurang. Oke, whatever. Ibu yang lebih ahli.
  2. Salon dan decor: cuma ada satu pilihan. Aku dan ibu sepakat, menggunakan vendor yang pernah dipergunakan tanteku 2 tahun lalu. Kita lihat saja besok seperti apa. Aku dan mas sudah fitting baju. Dan Mbak Indie (periasku nanti) berbaik hati membuatkan gaun baru untukku. Woohoooo....! Acara akan diadakan di rumah, persewaan tenda? Udah di handle bapak. Vendornya? Teman bapak. Selebihnya kami minta bantuan adik ipar ibu yang bekerja sebagai decorator di acara-acara besar. Buat stylist aja.
  3. Fotografi. Awalnya aku ingin menggunakan jasa Mousetrap Picture milik om ku. Tapi karena pilihan souvenir yang agak lain dari biasanya akhirnya aku menggunakan jasa Rio, temanku semasa SMA. dan om ku yang akan meng handle videonya.
  4. Souvenir. Well, atas informasi Rio, aku diarahkan pada Widdy, temanku semasa SMP untuk menangani keinginan souvenir yang belum biasa di kampung macam Ungaran itu. Aku sempat menghubungi beberapa vendor, tapi harganya tidak sebersahabat harga dari Widdy :D
  5. Undangan. Ah, ini cuma modal cerewet ke desainer grafis di kantor buat membuat desain... Thank you mas Tosan. Hohohohoho
Apalagi? Akhir-akhir ini aku rajin membaca beberapa blog persiapan pernikahan, aku tidak melakukan survey vendor, ke wedding exhibition. Untuk apa? Hidupku sudah penuh dengan survey, dan aku lelah. Toh ini cuma acara satu hari, dan sekali lagi tetap akan ada tokoh antagonis yang menemukan kekurangan di acaraku. No problem, mereka pasti membicarakan itu di belakangku, jadi aku tidak akan tahu hohohoho.

Oia, urusan mas kawin juga barusan beres. Catat: Baru saja, siang ini. Ibu ingin sulungnya diberikan mahar yang bermakna, yang akan berguna seumur hidup. Sulungnya ingin apa? Ingin emas batang. Gak mau rugi yaa, lumayan buat investasi, lagian mumpung harga emas lagi turun to, dan mas kawin adalah hak istri sepenuhnya. Tapi ketika berbincang dengan ibu, katanya pernikahan bukan melulu persoalan materi dan bahwa pernikahan itu butuh bekal yang cukup, maka mas kawin disepakati: Sepaket tafsir Al-Misbah. 15 seri book...!!! Aku cuma membayangkan akan bagaimana aku harus berfoto dengan mahar itu? Hahaha. 

Aku bisa mengerti betapa romantisnya perasaan ibu. Ibu ingin agar sulungnya mengarungi rumah tangga dengan bekal kitab suci, bukan cuma yang bisa dibaca, namun yang bisa dipahami makna nya. Is that beautiful?

Yg belum beres. Dokumen. Belum dibereskan karena aku dan mas sama-sama tinggal jauh dari alamat KTP, jadi perkara ini saja yang akan kita urus waktu libur lebaran nanti.

....kemudian waktu berjalan lagi begitu lambat....
Selengkapnya...

My Engagement?

Katanya, tinggal di ibukota kehidupan jadi berjalan sangat cepat. Well, setahun sudah aku tidak sedikiptun menegok blog gak penting ini. Dan tiba-tiba saja... I got engage..


Aku bahkan tidak tahu harus mulai menulis darimana. 
Pembicaraan rutin yang seperti biasa hanya sekedar obrolan tanpa makna berubah menjadi kenyataan. Jika aku diharuskan untuk meruntutkan kejadiannya...... I just....can't.

Aku bahkan masih di tengah-tengah pekerjaanku ketika ibu menelpon dan berkata bahwa akan ada yg akan datang melamarku. WHAT? Kupikir semua ini cuma lelucon.

Lelaki yang melamarku, terkenal susah serius. Aku sering dibuat jengkel dengan kegemarannya bercanda tidak tahu situasi dan kondisi.

17 Mei 2013
Selengkapnya...