My Pregnancy : 12 weeks
Percaya diri dan kuatir campur aduk pas kontrol semalam, gara-gara kegiatan yg menurut sebagian orang rada ngawur, dan usia kandungan trimester pertama yg sangat rawan. Tapi aku juga cukup PD, karena aku gak pernah punya riwayat penyakit yang aneh-aneh.
| Fetal development 12 weeks (source: babycentre.co.uk) |
Pregnancy by Design
Kenapa by design? Well, karena direncanakan.
Wedding: The preparation is (almost) done!
Minggu lalu,
- Catering. Aku dan ibu sepakat ibu yang akan mengurus masalah ini, yang penting makanannya fresh, dan tidak kurang. Oke, whatever. Ibu yang lebih ahli.
- Salon dan decor: cuma ada satu pilihan. Aku dan ibu sepakat, menggunakan vendor yang pernah dipergunakan tanteku 2 tahun lalu. Kita lihat saja besok seperti apa. Aku dan mas sudah fitting baju. Dan Mbak Indie (periasku nanti) berbaik hati membuatkan gaun baru untukku. Woohoooo....! Acara akan diadakan di rumah, persewaan tenda? Udah di handle bapak. Vendornya? Teman bapak. Selebihnya kami minta bantuan adik ipar ibu yang bekerja sebagai decorator di acara-acara besar. Buat stylist aja.
- Fotografi. Awalnya aku ingin menggunakan jasa Mousetrap Picture milik om ku. Tapi karena pilihan souvenir yang agak lain dari biasanya akhirnya aku menggunakan jasa Rio, temanku semasa SMA. dan om ku yang akan meng handle videonya.
- Souvenir. Well, atas informasi Rio, aku diarahkan pada Widdy, temanku semasa SMP untuk menangani keinginan souvenir yang belum biasa di kampung macam Ungaran itu. Aku sempat menghubungi beberapa vendor, tapi harganya tidak sebersahabat harga dari Widdy :D
- Undangan. Ah, ini cuma modal cerewet ke desainer grafis di kantor buat membuat desain... Thank you mas Tosan. Hohohohoho
My Engagement?
Katanya, tinggal di ibukota kehidupan jadi berjalan sangat cepat. Well, setahun sudah aku tidak sedikiptun menegok blog gak penting ini. Dan tiba-tiba saja... I got engage..
SLow di Pulow, Beras Basah Island
| Pulau Beras Basah, Bontang |
Ini dalah survey tahun terakhir proyek yang sedang kami kerjakan, seperti biasa, saya selalu ditempatkan di Samarinda :)
Susunan team baru yang berisi banyak manusia-manusia 'ajaib' membuat 3 minggu di Samarinda betul-betul luar biasa. Dan berdasarkan tradisi, setelah lelah bekerja kali selalu mencuri-curi waktu untuk jalan-jalan. Target kita? Bontang, sudah disusun bahkan ketika awal kami datang hahahaha. Yang biin semangat Bu Muji, beliau pernah mengunjungi Bontang, tapi berkat bujuk rayu teman-teman beliau yg belum pernah ke Beras Basah jadi semangat. Saya beri tahu, bu Muji hobi sekali jalan-jalan, kalo mengunjungi tempat yang belum pernah dikunjunginya maka tidak ada apapun yg bisa menghalanginya.
Buktinya? hari-hari terakhir kami digeber terus bekerja biar punya cukup waktu ke bontang, luar biasa. Rencana disusun dadakan, intinya gimana caranya yang penting sampai kesana.
Hari Senin 30 Mei 2011, setelah Zuhur kami berangkat dari basecamp di Jl. Perjuangan Samarinda ke terminal Lempake. Kami menyewa angkot dari dekat basecamp. Waktu itu rombongan kami 11 orang, dalam 1 angkot, udara panas dan jalanan yang macet bikin tambah gerah. Kalau jendela angkot dibuka lebar-lebar debu-debu masuk. Ahh, kota ini memang gak bersahabat.
Tahun 2009 waktu pertama kali kesini, gak sampai seminggu saya sukses radang tenggorokan.
Setelah sampai di Terminal Lempake, kami langsung naik ke bis jurusan Bontang, bis kecil 3/4 dengan tempat duduk yang sempit. Penumpangnya sudah banyak jadi kami duduk terpisah. Perjalanan kami dimulai sekitar jam 2 siang. Ini benar-benar petualangan, tempat duduk yang sempit dan jalan Samarinda - Bontang yang berlubang membuat kami terlempar-lempar, belum hiburannya yang dangdut koplo. MasyaAllah..... 3 jam kami begini, saking lelah bekerja sebelumnya dengan kondisi begitu saya masih bisa tertidur, dan terbangun sekitar 20 menit sebelum sampai Kota Bontang.
Oia, ongkos Terminal Lempake - Terminal Bontang 25.000 rupiah saja.
Tiba di Terminal Bontang sore hari, kami berencana untuk menginap di Bontang Kuala, Bontang Kuala ini adalah kampung nelayan. Lain kali saya ceritakan lebih detail :)
![]() |
| The Backpacker Team di depan terminal Bontang |
Untuk menuju Bontang-Kuala, kami menyewa Taxi. Di Bontang angkot disebut Taxi, dan diatas angkot memang tulisannya taksi, 40ribu untuk 1 taxi sampai di Bontang Kuala. 2 orang teman kami dari samarinda ke bontang mengendarai motor, mereka yang bertugas mencarikan penginapan untuk kami.
Sampai di Bontang, kami menginap di Penginapan Shanty, 100ribu/malam untuk 3 orang. Malam itu kami habiskan di Bontang Kuala, rencana besok pagi kami berangkat ke Beras Basah.
![]() |
| Penginapan di Bontang |
Setelah subuh, kami bersiap, teman kami ada yang bertugas membeli nasi dan semangka untuk bekal dan mencari kapal untuk disewa. Jam 8 angkot yang kemarin kami sewa sudah datang menjemput. Menuju pelabuhan.
Sewa kapal waktu itu 250-300 ribu, 1 jam perjalanan saja dari Bontang menuju ke pulau Beras basah. Awalnya kami semua bersemangat, heboh foto ini foto itu, hahahaha, sampai tengah jalan diam karena kehabisan energi, dan kembali bersemangat karena lihat mercusuar yang menjulang. Tujuan kami sudah tampak!!
| Pulau Beras Basah |
Lautan yang bening, pulau kecil, dan mercusuar yang putih, woow, luar biasa. Siang itu, hanya ada kami, dan 2 rang pengunjung. Hari itu Beras basah jadi pulau pribadi kami..!!!
Panas yang menyengat tidak menyurutkan kami untuk bermain air, berenang, terjun dari dermaga dan dari kapal. Such a perfect place... Tapi, hati hati yaa, disana terdapat ubur-ubur loh, dan ubur-uburnya menyengat, biarpun tidak banyak dan kecil tapi kan bengkak juga kalau disengat, teman saya Yusbi, jadi korban sengatan ubur-ubur.
Di pulau itu terdapat pohon pandan yang dibawahnya ada batang kayu yang penuh dengan tali, konon katanya orang yang sering punya keinginan mengikatkan talinya ke batang tersebut dan jika terkabul dia akan kembali dan mencabut talinya :)
| Di tiang papan ini, tali permohonan diikatkan |
Kami pulang menjelang sore, disana tidak ada tempat bilas, jadi kami menuju Bontang dan numpang mandi di rumah Pak Haji, pemilik kapal. Kami bergegas ke terminal agar sampai samarinda tidak terlalu malam, karena esok hari kami harus sudah di Balikpapan. Perjalanan yang luar biasa :D
| Berebutan semangka |
Selengkapnya...
(Try to be) Real Javanese woman
Hari ini unik sekali,
Berangkat ke kantor pake kebaya warisan mbah ayi, dipadukan dengan celana dan wedges 3cm serta kerudung senada, membuat kemeja jadul milik saya tidak terkesan jadul, yaahhh mode selalu berputar memang.
Melewati gang kecil menuju kantor, saya bertemu seorang nenek yang sedang berjemur, menyapa saya dengan ramahnya (gak seperti ibu-ibu dan anak-anak mudanya kalo gak dicuekin ya disuit-suitin) kata beliau "berangkat kerja neng?" dan tanpa tedeng aling-aling saya menjawab "Inggih mbah..."
Oh My GOD!!!!
Saya malu dan mati-matian nahan ketawa (saya menertawai diri saya sendiri) sebegitu parahkah kemampuan saya beradaptasi disini? sampai-sampai tidak bisa meilah-milah cara berkomunikasi yang baik di tiap daerah. Payaaahhhh.....!!!
Di satu sisi, saya senang karena saya masih benar-benar membawa adat budaya ditempat dimana saya dibesarkan. Dan wel, sampai sekarang saya masih belum bisa, atau memang saya tidak mau mencoba, berkomunikasi ala anak-anak disini, pake elo-gue....
Dan sekarang, sama setiap teman saya, baik chatting, sms atau ngobrol, yg sama2 orang jawa saya total komunikasi pake bahasa jawa, biasanya kan gado-gado. Lidah saya gimana gitu kalo lama gak ngomong jawa, si mas kan gak bisa, dia bisanya cuma umpatan -___-
Dan 1 lagi, saya sedang ingin tau banyak tentang wayang,,kalo ini semacam rasa hormat sama budaya leluhur sih, soalnya saya malu pas ditanya soal samurai saya bisa cerita panjaaannngggg, giliran ditanya cerita togog-mbilung pun saya gak tau, kan maluuu....
I'm proud being javenese (kalimat ini kalo ditranslate ke krama inggil apaan yaa?) aduuuhhh :)
Selengkapnya...

